Pencarian populer

'Alon-alon Waton Kelakon' ala Getafe

Getafe musim 2018/19. Foto: La Liga

Roma tidak dibangun dalam sehari dan begitu pula dengan kesuksesan yang dimiliki Getafe. Tiga musim lamanya Getafe berjuang membenahi segalanya dan semua itu dimulai dengan penunjukan Jose Bordalas sebagai pelatih.

Bordalas datang ke Getafe pada musim 2016/17, tetapi dia tidak membesut tim sejak awal. Pada permulaan musim tersebut El Geta berada di bawah asuhan pelatih asal Argentina, Juan Eduardo Esnaider.

Bersama Esnaider, Getafe tampil tak keruan. Saat itu mereka masih berlaga di La Liga 1|2|3 alias Segunda Division dan terancam terlempar ke Segunda Division B. Degradasi, tentunya, bukan bagian dari rencana Getafe. Oleh karenanya, pada pekan ketujuh kompetisi, Esnaider dicopot dan digantikan oleh Bordalas.

Jika melihat prestasi yang dia capai saat ini, di mana dirinya berpotensi mengantarkan Getafe lolos ke Liga Champions musim 2019/20, Bordalas tampak seperti seorang pesulap. Namun, Bordalas tidak mengubah peruntungan Getafe hanya dengan ayunan tongkat.

Pelatih Getafe, Jose Bordalas. Foto: La Liga

Getafe adalah klub kecil. Mereka tidak punya sejarah panjang dan anggaran melimpah. Berdasarkan data dari La Liga Expert, hanya ada Real Valladolid, Huesca, Rayo Vallecano, Girona, dan Deportivo Alaves yang anggarannya lebih rendah dari Getafe.

Akan tetapi, dengan penanganan yang tepat, minimnya anggaran itu jadi tak berarti apa-apa. Bukti nyatanya, ya, tentu saja peringkat mereka di klasemen. Anggaran gaji Getafe tak sampai seperempat milik Valencia, tetapi saat ini mereka sama-sama berpeluang lolos ke Liga Champions.

Di sini, Bordalas memegang peran kunci. Bagi tim seperti Getafe stabilitas permainan adalah segalanya dan sejak awal hal itulah yang dititikberatkan oleh sang entrenador.

Sepak bola yang dimainkan Getafe saat ini tidak jauh berbeda dengan sepak bola khas Britania pada masa terdahulu. Dengan balutan pakem 4-4-2, Azulones memainkan sepak bolanya dengan rapat, lugas, dan keras. Mirip-mirip sepak bola khas Diego Simeone, sebenarnya. Namun, dalam mengalirkan serangan ke depan, Getafe asuhan Bordalas lebih sering mengambil 'jalan pintas' dengan melepas bola panjang.

Striker Getafe, Jorge Molina, dalam laga kontra Real Madrid. Foto: La Liga

Di lini depan, Getafe punya Jorge Molina dan Jaime Mata. Ini adalah perpaduan tandem striker klasik. Molina adalah spesialis bola-bola udara, sementara Mata adalah jagoan bola-bola permukaan meskipun pemain 30 tahun ini juga punya kemampuan duel udara tak buruk. Perpaduan 'besar-kecil' andalan Bordalas ini sudah mencetak 28 gol—60,8%—Getafe sampai pekan ke-37.

Untuk menyokong mereka, Bordalas menerjunkan lini tengah yang komposisinya mirip dengan kuartet gelandang Milan era Fabio Capello. Dua gelandang tengah menjadi pemutus alur serangan lawan, sementara dua gelandang di sektor sayap menjadi penyerang pertama dalam tim ini. Kedua gelandang sayap itu didukung duo bek sayap yang cukup rajin membantu serangan.

Sederhana, memang. Namun, kesederhanaan itu menjadi terlihat mewah jika melihat bagaimana prestasi Getafe saat ini. Sejauh ini Getafe baru kemasukan 33 kali yang merupakan catatan terbaik kedua di La Liga setelah milik Atletico Madrid (27). Getafe pun jadi tim dengan selisih gol terbaik kelima di La Liga., sesuai dengan peringkat mereka saat ini.

Untuk mewujudkan semua itu, proses yang dialami para pemain Getafe tidaklah menyenangkan. Mereka harus berulang kali menghadapi amukan sang pelatih jika keinginannya tak dipenuhi. Namun, dari situlah kemudian diketahui pemain-pemain mana saja yang bisa diandalkan dan mana yang harus ditendang.

Selebrasi striker Getafe, Jaime Mata. Foto: La Liga

Bicara soal pemain yang datang dan pergi, Getafe juga mampu menunjukkan kelihaian dalam melakukan manuver di bursa transfer. Pada awal musim 2018/19 ini mereka ditinggal sejumlah pemain andalan yang membawa mereka finis posisi delapan musim lalu seperti Vicente Guaita, Juan Cala, dan Faysyal Fajr. Akan tetapi, kepergian mereka bisa ditambal dengan baik oleh manajemen.

Kiper David Soria, bek tengah Leandro Cabrera, bek kiri Vitorino Antunes, gelandang tengah Mauro Arambirri dan Nemanja Maksimović, serta penyerang Jaime Mata bergabung pada tahun 2018 dan mereka termasuk sepuluh pemain yang paling sering memperkuat Getafe sepanjang musim. Ini artinya, rekrutmen yang mereka lakukan benar-benar efektif.

Total, musim ini Getafe mengeluarkan dana kurang lebih 20 juta poundsterling untuk berbelanja alias tak sampai sepersepuluh biaya transfer Neymar Junior dan cuma seperlima tagihan belanja Fulham. Namun, pemain-pemain yang didatangkan itu benar-benar terpakai dan akhirnya bisa melambungkan Getafe.

Bagi Getafe yang hanya diperkuat pemain-pemain semenjana ini, untuk bisa menampilkan sepak bola sesuai keinginan Bordalas, diperlukan kerja keras dan kerendahan hati. Hal tersebut disampaikan oleh bek kanan Damian Suarez dalam wawancara ekslusif dengan La Liga.

Gelandang Getafe, Damian Suarez. Foto: La Liga

Menurut Suarez, target Getafe sedari awal tak pernah muluk-muluk. Mereka cuma menargetkan lolos dari degradasi. Pada akhirnya, keengganan berlaga di divisi kedua itulah yang memacu semangat para pemain Getafe.

"Sejujurnya tak ada yang bisa membayangkan bahwa kami bisa berada di sini. Sejak awal kami sadar harus menjalani musim selangkah demi selangkah. Di awal musim tujuan kami adalah menghindari degradasi dan bermain di La Liga 1|2|3 bukan hal yang diinginkan siapa pun," kata Suarez, mengutip rilis resmi yang diterima kumparanBOLA.

Anda akan datang ke jenis lapangan berbeda di stadion yang berbeda dan itu adalah hal aneh. Berkat kerja keras, usaha maksimal, serta kerendahan hati seluruh anggota tim, kami bisa meraih hasil seperti sekarang," lanjutnya.

Sebagai sebuah klub, Getafe memang tak punya sejarah panjang, apalagi menterang. Namun, pada 2007/08 dan 2010/11 mereka sudah pernah berlaga di ajang Piala UEFA/Liga Europa. Sekarang, Suarez dan kawan-kawan memiliki kesempatan untuk melebihi prestasi para pendahulunya.

Skuat Getafe musim 2018/19. Foto: La Liga

Jika nantinya Getafe gagal menembus Liga Champions, bagi Suarez itu bukanlah sebuah kegagalan mengingat target awal mereka sangatlah rendah. Akan tetapi, Getafe sudah telanjur berada di atas. Oleh karena itu, Suarez pun bertekad untuk mengantarkan timnya finis di posisi empat demi satu tiket Liga Champions.

"Kami berhasil lolos dari degradasi beberapa waktu lalu. Sekarang kami berada di sini dan sudah waktunya kami menikmati keberhasilan ini. Kami merasa bahagia dan tidak akan menyangkalnya. Namun, kami harus menjalani laga sisa pelan-pelan. Kami berharap bisa mengakhiri musim di peringkat keempat," tambah pemain 31 tahun tersebut.

Ya, beginilah Getafe. Mereka tak punya banyak sumber daya, tetapi mereka memiliki pelatih cerdas dan tegas seperti Bordalas. Mereka punya manajemen yang mampu bermanuver dengan cerdik di bursa transfer. Mereka diperkuat pemain-pemain yang punya kerendahan hati dan mau bekerja keras.

Bagi Getafe, proses tidak mengkhianati hasil. Mereka tidak langsung mematok target tinggi, tetapi memilih untuk berjalan selangkah demi selangkah. Filosofi alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat, red) jadi kredo yang akhirnya melambungkan Getafe ke tempat yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23