Pencarian populer

Alvaro Morata ke Atletico Madrid dan Sejarah yang Berulang

Alvaro Morata sedang dalam masalah. (Foto: Reuters/David Klein)

Problem di lini depan Chelsea akhirnya berujung pada sebuah efek domino.

Demi menyelesaikan masalah ketajamannya itu, Chelsea memboyong Gonzalo Higuain dari Juventus. Kabarnya, kesepakatan peminjaman dengan opsi pembelian permanen atau perpanjangan masa peminjaman selama setahun telat terjalin antara The Blues dan The Old Lady.

Kedatangan Higuain ini pun memakan korban dari kubu Chelsea sendiri. Striker (yang seharusnya jadi) andalan mereka dalam dua musm terakhir, Alvaro Morata, akhirnya harus angkat kaki. Sementara itu, Milan yang merupakan klub tempat Higuain menjalani masa peminjaman terpaksa mencari striker baru dalam diri Krzysztof Piątek.

Mundo Deportivo mewartakan bahwa Morata awalnya ditawarkan Chelsea ke dua raksasa Spanyol, Barcelona dan Atletico Madrid. Setelah Barcelona menolak, Atletico pun memanfaatkan kesempatan tersebut. Morata akan mereka pinjam terlebih dahulu dan apabila sang penyerang tampil memuaskan, Los Colchoneros bisa mempermanenkannya dengan nilai transfer 48,5 juta poundsterling.

Fernando Torres ketika memperkuat Chelsea (Foto: Pixabay)

Kepindahan Morata ke Atletico ini penuh dengan nostalgia sebenarnya. Sebelum bergabung dengan akademi Real Madrid pada 2008, Morata pernah mengecap pendidikan bersama akademi Atletico dan Getafe. Di akademi Atletico sendiri Morata bertahan selama dua tahun antara 2005 dan 2007.

Namun, bukan cuma ini nostalgia yang muncul. Ada nostalgia lain dan ini erat kaitannya dengan bagaimana Atletico doyan sekali mencomot pemain yang gagal bersinar atau bermasalah bersama Chelsea.

Sebelum Morata, tiga pemain 'bermasalah' yang pernah diboyong Atletico adalah Fernando Torres, Filipe Luis Kasmirski, dan Diego Costa. Menariknya, sebelum mengalami masalah di London Barat, semua pemain ini pernah bermain dalam balutan seragam merah-putih-biru Atletico.

Torres adalah salah satu legenda terbesar Atletico. Pemain yang kini merumput di J-League bersama Sagan Tosu itu dibesarkan dan diorbitkan oleh Atletico sebelum dilego ke Liverpool. Penampilan cemerlang bersama The Reds membawa Torres ke Chelsea pada musim dingin 2011. Nilai transfer 58 juta menjadikan Torres pemain termahal Premier League saat itu.

Filipe Luis (kiri) bersama Loic Remy. (Foto: AFP/Ben Stansall)

Akan tetapi, selama berkostum Chelsea, Torres gagal mengulangi apa yang dia perbuat bersama Liverpool. Butuh waktu tiga bulan baginya untuk mencetak gol pertama untuk Chelsea.

Torres bukannya sama sekali tak berjasa untuk Chelsea. Di pertandingan semifinal Liga Champions 2011/12 menghadapi Barcelona, pemain berjuluk El Nino itu mencetak salah satu gol paling masyhur dalam sejarah Chelsea. Berkat gol itu, Chelsea melaju ke final untuk menundukkan Bayern Muenchen dan jadi juara Liga Champions untuk pertama kalinya.

Walau begitu, secara umum kontribusi Torres dirasa kurang. Itulah mengapa, pada musim 2014/15 dia dipinjamkan ke Milan selama setengah musim. Di paruh musim kedua, Torres akhirnya ditarik kembali oleh Atletico. Pada masa keduanya di Atletico, dia bertahan selama empat setengah musim sebelum berkelana ke Jepang.

Menyusul Torres, ada Filipe Luis. Bek asal Brasil itu tiba di Chelsea dengan banderol 20 juta euro usai mengantarkan Atletico ke final Liga Champions 2013/14. Akan tetapi, di London dia kalah bersaing dengan Cesar Azpilicueta. Hanya semusim di Chelsea, Filipe Luis langsung ditarik kembali oleh Atletico pada musim 2015/16 dan bertahan di sana sampai sekarang.

Costa dikabarkan tergoda pindah ke China. (Foto: Paul Gilham/Getty Images)

Lalu, ada Diego Costa. Kasus ini seharusnya masih segar di ingatan orang-orang karena baru terjadi musim lalu. Diego Costa yang ngambek karena tak masuk rencana Antonio Conte memilih untuk mudik ke Brasil untuk memaksakan transfer ke Atletico. Upaya itu berhasil, tetapi Costa harus menunggu sampai setengah musim.

Costa sendiri dibeli Chelsea dari Atletico pada musim 2014/15, berbarengan dengan Filipe Luis. Costa sebenarnya terbilang berhasil di Chelsea. Dari 120 penampilan, pemain Spanyol berdarah Brasil itu mencetak 58 gol dan 24 assist untuk mengantarkan Chelsea meraih dua trofi Premier League.

Satu dari dua trofi Premier League itu didapat Costa ketika Chelsea dilatih Conte, yaitu pada musim 2016/17. Namun, memasuki musim 2017/18 Conte berkata bahwa dia tak membutuhkan Costa lagi. Sebagai gantinya, manajemen Chelsea mendatangkan Morata.

Menariknya, musim ini Costa sedang mengalami kesulitan bersama Atletico dengan baru mencetak 2 gol dari 14 laga La Liga dan Liga Champions. Diego Simeone pun jadi terlalu bergantung pada Antoine Griezmann. Untuk meringankan beban Griezmann, Simeone sebetulnya sudah membebankan itu kepada Nikola Kalinic. Karena Kalinic tak juga bersinar, Atletico akhirnya menjatuhkan pilihan kepada, well, Morata.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: