Pencarian populer

Analisis: Asa Bayern Muenchen Dijegal Blunder Ganda

Ribery mencoba menghibur Lewandowski. (Foto: Reuters/Kai Pfaffenbach)

Nasib kembali tidak memihak Bayern Muenchen. Untuk kedua kalinya secara berturut-turut mereka tersingkir dari Liga Champions di tangan Real Madrid.

Bayern datang ke Santiago Bernabeu, Rabu (2/5/2018) dini hari WIB, untuk menjalani laga semifinal leg kedua dengan bekal kekalahan 1-2 di pertemuan pertama. Meski sempat unggul terlebih dahulu, Bayern akhirnya harus puas dengan hasil imbang 2-2 yang membuat mereka tersingkir dengan agregat 3-4.

Ada tiga hal yang patut disoroti dari pertandingan ini. Pertama, bagaimana kedua kesebelasan begitu apik dalam melakukan serangan dari sayap. Kedua, bagaimana blunder ganda Corentin Tolisso dan Sven Ulreich pada awal-awal babak kedua praktis membunuh kans Bayern. Ketiga, bagaimana Keylor Navas menjadi Superman bagi pertahanan Real.

Sayap-sayap yang Mengepak Kencang

Tiga dari empat gol pada pertandingan ini lahir dari serangan sayap. Ini tak mengherankan karena baik Real maupun Bayern sama-sama memfokuskan serangan dari sisi ini. Berdasarkan data dari WhoScored, sebanyak 82% serangan Real dilancarkan dari sayap, sementara Bayern mencatatkan persentase 69%.

Yang menarik, baik Bayern maupun Real sama-sama tidak mencetak gol lewat serangan dari sisi sayap yang dominan. Dua gol Die Roten berasal dari serangan sayap kanan yang sebenarnya hanya diutilisasi sebanyak 27%. Sedangkan, El Real mencetak gol via serangan sayap kiri yang persentasenya (39%) agak sedikit di bawah serangan sayap kanan.

Pada gol pertama Bayern, Joshua Kimmich menunjukkan kelasnya sebagai full-back berkelas dunia. Di situ, dia tidak melakukan overlap, melainkan underlap, untuk merangsek masuk ke kotak penalti. Alhasil, dirinya pun sukses menemukan tempat kosong untuk memanfaatkan bola liar di depan gawang Navas.

Kemudian, pada gol balasan Real, giliran Marcelo yang memamerkan kualitasnya. Menerima umpan dari Mateo Kovacic, bek asal Brasil itu sukses mengontrol bola dan mengirim umpan silang dengan sempurna. Karim Benzema pun tidak butuh upaya terlalu besar untuk membobol gawang Ulreich.

Ada satu persamaan di antara dua gol tersebut. Yakni, bagaimana mereka semua diawali oleh switch play. Di gol Bayern, serangan sebetulnya diinisiasi dari kiri, tetapi kemudian Franck Ribery memberi umpan kepada Robert Lewandowski yang berada di sisi seberang. Penyerang Polandia itu memberi umpan kepada Thomas Mueller yang meneruskannya dengan umpan silang. Dari sana, kemelut terjadi dan Kimmich muncul sebagai pencetak gol.

Gol balasan Real pun begitu. Lewat serangan yang dibangun dengan penuh kesabaran, Kovacic mampu menemukan Marcelo yang sudah berada di depan dengan umpan lambung akuratnya.

Gol kedua Bayern yang dicetak James Rodriguez juga punya catatan menarik. Pasalnya, bola yang diterima pemain asal Kolombia itu di kotak penalti datangnya bukan dari Mueller atau Kimmich, melainkan Niklas Suele. Ya, bek tengah Bayern itu tiba-tiba bisa berada di sayap kanan dan mengirimkan umpan manis kepada rekannya.

Kimmich kembali mencetak gol. (Foto: Reuters/Paul Hanna)

Meski demikian, aksi Suele itu sebenarnya tidak mengejutkan. Pasalnya, pada kesempatan sebelumnya bek Bayern lainnya, Mats Hummels, juga sempat betualang ke depan. Pada babak pertama, Hummels berubah menjadi Franz Beckenbauer dengan menggiring bola sampai area permainan Real untuk kemudian mengkreasi peluang emas Lewandowski.

Blunder Ganda yang Merusak Segalanya

Ketika masuk ruang ganti, Bayern dan Madrid sama-sama sudah mencetak satu gol. Madrid unggul agregat 3-2. Namun, ini bukan kiamat buat Bayern. Jika mereka mencetak satu gol lagi, mereka masih bisa memaksakan tekanan pada Madrid dan peluang lolos itu masih ada. Namun, Bayern justru memulai babak kedua dengan kesalahan fatal. Mereka tidak siap menghadapi pressing Real.

Buah dari kegagalan para pemain Bayern itu, Tolisso terpaksa memberi umpan penuh perjudian kepada Ulreich. Keputusan Tolisso ini berbuah pada kepanikan yang melanda Ulreich. Alih-alih membuang bola jauh-jauh, mantan kiper Stuttgart itu justru berusaha menekel bola. Ulreich terpeleset, bola tetap bergulir, dan akhirnya Benzema mencetak gol kedua.

Selama ini, Real selalu melakukan cara seperti ini. Ketika mereka sedang berada dalam situasi tidak menguntungkan pada babak pertama, mereka selalu memulai babak kedua dengan pressing ketat sampai kotak penalti lawan. Inilah yang gagal diantisipasi oleh Bayern dan akhirnya menjadi salah satu alasan di balik kegagalan mereka lolos ke final.

Ulreich si biang kerok. (Foto: Reuters/Juan Medina)

Keylor Navas sang Superman

Bayern sudah berusaha, tetapi Keylor Navas-lah yang menentukan. Pada pertandingan ini, secara permainan Bayern sebenarnya sangat dominan. Mereka mencatatkan penguasaan bola sampai 60% dan mengungguli Real dalam urusan penciptaan peluang. Total, ada 22 tembakan (berbanding 9) yang dilepaskan Bayern, dengan 10 di antaranya (berbanding 3) mengarah ke gawang.

Namun, itu semua jadi tak berarti karena Navas tampil bak Superman. Dia terbang ke sana kemari untuk mengamankan gawangnya. Total, dia melakukan delapan penyelamatan dan penyelamatan-penyelamatan itu bukanlah penyelamatan mudah. Ada upaya satu-lawan-satu Lewandowski, ada sundulan Mueller di mulut gawang, ada pula tendangan keras David Alaba yang mengalami defleksi.

Selain itu, Navas juga tampil teramat dominan dalam mengamankan bola-bola udara. Total, pemain asal Kosta Rika ini memetik bola di udara 4 kali untuk menghalau serangan-serangan Bayern seraya menghindarkan timnya dari kekalahan.

***

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa Bayern Muenchen gagal melewati adangan Real Madrid karena dua hal. Yakni, karena kegagalan mengantisipasi pressing yang berujung pada blunder dan kegagalan menaklukkan Navas yang tampil cemerlang.

Meski begitu, di sini Real Madrid juga kembali menunjukkan kalau mereka memang pantas untuk lolos. Meski lebih kerap diserang, mereka tetap tampil tenang dan ketika ada peluang, mereka memanfaatkannya dengan sempurna. Insting membunuh inilah yang tak dimiliki oleh Bayern.

====

*Catatan Editor: Sebelumnya, tertulis bahwa Bayern masuk ruang ganti dengan keunggulan satu gol. Kesalahan tersebut telah diperbaiki karena kedua tim masuk ruang ganti dengan skor 1-1.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.35