Pencarian populer

Andai Taktik Timnas Inggris Tak Butuh Tumbal

Joe Cole saat membela Timnas Inggris di laga persahabatan melawan Jepang, 2006. (Foto: Michael Regan/Getty Images)

Timnas Inggris adalah sarangnya ironi. Mereka bukan kekurangan pemain hebat, hanya tidak tahu caranya memperlakukan pemain hebat.

Joe Cole memutuskan untuk pensiun sebagai pesepak bola. Keputusan yang diumumkannya pada Selasa (13/11/2018) ini membawa kita pada 2015, saat jagat dunia maya ramai memperbincangkan keputusan Cole untuk bergabung bersama Coventry City.

Tom Mason untuk These Football Times menulis seperti apa ricuhnya dunia maya saat kepindahan Cole itu. “Yes, actual Joe Cole. Seriously, Joe Cole. The real Joe Cole,” seperti itu bunyi cuitan Twitter yang menjadi pembuka tulisannya tadi.

Tak ada catatan soal prestasi Cole dan Coventry dalam cuitannya itu. Hanya kalimat-kalimat singkat macam tadi. Kalimat sederhana yang menggambarkan bahwa orang-orang di Inggris sana tidak membutuhkan segala catatan statistik untuk menjelaskan termasuk golongan pesepak bola mana Cole sebenarnya.

Kala itu, Cole sudah memegang tiga gelar juara Premier League, dua trofi Piala FA, masing satu Piala Liga Inggris, Community Shield dan Piala Intertoto, serta 56 caps Inggris. Capaian yang tak main-main. Capaian yang membuatnya tak pantas untuk turun bermain ke League One yang dalam hirarki sepak bola Inggris ada kelas ketiga.

Sepintas, ini tampak sebagai kejatuhan yang hebat. Ibarat Tuhan yang meninggalkan surga dan turun ke dunia hanya untuk mengurusi manusia yang tak tahu diri. Di masa itu, Coventry bahkan tidak dapat melakoni laga kandang di stadion mereka sendiri. Namun, bagi orang-orang Coventry sana, kedatangan Cole sama dengan kedatangan mesias.

Tidak ada yang lebih disukai oleh media-media Inggris daripada hype soal pesepak bola. Mereka adalah bangsa yang begitu lapar dengan pesepak bola berkualitas. Di bahu pemain-pemain (yang dianggap) bintang itu bertumpuk tanggung jawab untuk membereskan segala kekacauan yang terlanjur beranak cucu dalam tubuh sepak bola mereka.

Bahu itu mungkin bahu yang kokoh. Tapi sekuat-kuatnya bahu, lama-kelamaan bakal keropos bila ditumpuk segala macam beban yang seharusnya tak menjadi bagiannya.

Untuk mengenali pesepak bola macam apa Cole itu, kita hanya perlu menyaksikan laga final Piala FA Junior 1998/99 yang mempertemukan tim junior West Ham United dengan Coventry. Umpan rabonanya menjadi ingatan yang tertancap dalam ingatan West Ham. Cole sudah dua kali mencungkil bola melewati pemain Coventry sehingga umpan itu memang lahir tanpa menyentuh tanpa menyentuh tanah.

Ibarat masakan, Cole adalah rempah rahasia yang ada di keseluruhan permainan West Ham hari itu. Tanpa rempah yang mungkin banyaknya hanya seujung jari itu, cita rasanya akan berbeda. Mungkin tak serta-merta menjadi buruk, tapi tetap tak pas, tetap ada yang kurang. Kreativitas, bakat, kemampuan teknis, visi, dan kepercayaan diri--semuanya meluap di atas lapangan. Singkat kata, Cole memiliki semua atribut untuk menjadi pemain bernomor 10.

Namun, itu sebelum sepak bola menguliti tubuhnya sendiri. Sebelum sepak bola menanggalkan rupanya sebagai domba dan beralih menjadi serigala.

Joe Cole merayakan gelar Premier League musim 2004/05 bersama Chelsea. (Foto: Reuters/Ian Hodgson)

Ada banyak pemain yang ‘terlahir’ di era yang salah. Terlahir di sini bukan kelahiran secara biologis, tapi saat kebintangannya dimulai. Saat sepakan briliannya terendus oleh hidung-hidung para pencari bakat, saat klub-klub mulai mengalihkan pandangan kepadanya, saat Timnas (apa pun negaranya) mengulurkan tangan menawarkan kehormatan untuk membela negara.

Ungkapan macam ini tidak hanya berlaku bagi para pemain lamban yang bermain di era yang lebih cepat. Bukan cuma soal kemampuan fisik macam itu. Tapi, juga bagi para pemain seperti Cole. Yang menjadi tumbal taktis, yang harus merelakan kualitasnya karena tidak adanya ruang taktikal untuk gelandang serang murni sepertinya.

Di bawah kepelatihan Sven Goran Eriksson, Inggris bermain dalam formasi 4-4-2. Dari sini saja terlihat jelas bahwa Eriksson tidak perlu repot-repot mengajak Cole ke bar dan minum bir berdua sambil pelan-pelan memberi pengertian bahwa tak ada ruang bagi seorang gelandang serang murni sepertinya.

Di era itu, Inggris tak memiliki pemain yang cukup hebat untuk mengisi pos sayap kiri, sementara di pos sayap kanan mereka memiliki kekuatan mumpuni seperti David Beckham dan Darren Anderton. Ahasil, gelandang seperti Cole diberi tugas untuk mengisi kekosongan di sayap kiri.

Permainan yang sangat lebar memaksanya untuk bekerja ekstra keras. Padahal, sebagai gelandang serang murni di West Ham dulu, Cole bermain di dekat area kotak penalti ataupun sepertiga akhir. Wilayah yang membuatnya dapat berkreasi dengan lebih efektif.

Eriksson beruntung, karena di tahun ketiga keterlibatan Cole bersama The Three Lions, Jose Mourinho ikut mendidiknya sebagai sosok yang turun arena dengan mental juara. Tapi, juara di sini adalah juara versinya Mourinho. Tak peduli apa yang menjadi kualitas aslimu, kau harus ada dalam permainan tim. Artinya, lagi-lagi, tak ada tempat bagi Cole untuk bermain dalam kreativitasnya.

Cole tertempa. Ia menjadi salah satu pemain yang mempersembahkan jiwanya pada asa merengkuh gelar juara. Ia menumbalkan kreativitas demi harmoni tim. Bersama Inggris, Cole bahkan mencetak gol istimewa di babak grup Piala Dunia 2006 itu.

Paul Scholes dipeluk rekan setimnya, Gary Neville, usai mencetak gol ke gawang Aston Villa. (Foto: Stu Forster/Getty Images)

Proses gol yang lahir di menit ke-34 itu diawali dengan umpan lambung kepada Peter Crouch di kotak penalti yang berhasil diamankan melalui sundulan pemain belakang Swedia. Tapi, bola liar yang jatuh di hadapan Cole sama artinya dengan harapan baru. Setelah melakukan kontrol dada, ia melesakkan sepakan voli dari luar kotak penalti ke pojok atas kanan gawang.

Kiper dapat membaca arah bola, tapi laju bola yang terlalu kencang mengikis segala kekuatannya untuk menahan bola. Dan seketika, sepak bola merayakan kelahiran gol ke-1999 di sepanjang sejarah Piala Dunia itu.

Yang menjadi persoalan bagi Cole adalah ia tidak bermain di posisi aslinya. Bermain sebagai di pos sayap membuatnya harus bekerja ekstra keras. Bukan cuma permainan yang tak efektif, cedera pun menjadi musuh yang enggan menjauh. Maka, dimulailah era kejatuhan Cole.

Nyatanya, Cole bukan satu-satunya pemain bertalenta yang menjadi tumbal taktis sepak bola Inggris karena masih ada Paul Scholes yang berstatus serupa. Scholes boleh menjadi andalan di Manchester United, tapi ia tergerus dalam masa baktinya bersama Inggris. Serupa Cole, situasi yang tak mudah ini tak serta-merta menumpulkannya.

Ia sempat menghidupi momen-momen manis bersama Inggris, termasuk saat mencetak gol di debutnya bersama Inggris di kompetisi resmi saat bertanding melawan Tunisia di Piala Dunia 1998. Pada 1999 saat Inggris berhadapan dengan Polandia, ia bahkan mencetak trigol pertama bagi Inggris setelah enam tahun.

Namun, kariernya berakhir antiklimaks. Di Euro 2004, ia dipaksa bermain sebagai sayap kiri demi mengakomodir Steven Gerrard dan Frank Lampard yang menjadi andalan di lini tengah. Posisi ini membuatnya tak efektif. Akibatnya ia ditarik dalam laga terakhirnya, yang berakhir dengan kekalahan dari Portugal dalam adu penalti di babak perempat final. Akhir yang sekali lagi membuktikan bahwa Inggris tak pernah sungguh-sungguh mengenal pemainnya.

***

Jika setan memang ada, maka di Inggris, ia mewujud dalam ketiadaan ruang taktis bagi sejumlah pemain. Maka, berdirilah pemain-pemain seperti Cole atau Scholes di garda terdepan, menjaga ketiga singa itu agar tetap berdiri. Entah sampai merengkuh juara, entah sampai kaki habis menjadi tumbal.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38