kumparan
18 Mei 2019 12:32 WIB

Angkat Trofi di Depan sang Ibu, Asa Kapten Watford di Final Piala FA

Troy Deeney, penyerang sekaligus kapten Watford. Foto: REUTERS/Andrew Yates
Semuanya bermula sejak 13 tahun lalu, ketika Troy Deeney menginjakkan kaki pertama kali di jagat sepak bola profesional. Tiga belas tahun itu bukan periode yang ramah, bukan kurun yang mendekatkannya pada elu-elu dan pamor ala bintang lapangan sepak bola Inggris.
ADVERTISEMENT
Tak ada satu klub mentereng pun yang dibela Deeney: Walsall FC dan Halesowen Town FC. Bahkan Deeney datang ke klub terakhir yang disebut terakhir sebagai pemain pinjaman.
Empat tahun setelah perkenalan pertamanya dengan sepak bola profesional, Deeney menemukan Watford. Di sinilah ia menetap, tak kurang dari sembilan tahun. Perjalanan yang sama keringnya, sama banalnya, tanpa gelar juara.
"Jika juara, saya bisa mengangkat trofi di depan ibu saya--yang mana, itu menjadi pencapaian besar. Saya tidak pernah melakukannya lagi sejak usia 12 tahun," cerita Deeeney, dilansir FourFourTwo.
Troy Deeney merayakan gol penalti ke gawang John Ruddy. Foto: Reuters/John Sibley
Orang bilang, siapa yang mencari, maka ia akan mendapatkan. Asa Deeney untuk menggenggam gelar juara, setidaknya sekali seumur hidup, menemukan titik terang. Watford sampai di final Piala FA 2018/19.
ADVERTISEMENT
Di antara sekian lawan, sepintas yang terlihat paling mengerikan cuma Wolverhampton Wanderers. Tim itu punya reputasi sebagai lawan hebat bagi tim-tim papan atas.
Di antara tim-tim big six, hanya Manchester City yang belum pernah mereka kalahkan. Tapi, jangan lupa pula, Wolves adalah tim pertama Premier League 2018/19 yang menghentikan kemenangan beruntun City.
Maka, bertemulah Watford dan Wolves di semifinal. Kemenangan 3-2 berhasil digenggam Deeney dan kawan-kawannya.
Yang menyebalkan, lawan Watford di duel pemungkas adalah City. Ya, City yang itu. Yang juara Piala Liga Inggris dan Premier League, yang diasuh oleh Pep Guardiola, yang bertabur pemain bintang.
Pemain Wolverhampton Wanderers Raul Jimenez (kedua kanan) usai mencetak gol ke gawang Watford dalam semi finla Piala FA di Stadion Wembley, Inggris, Minggu, (7/4). Foto: Reuters / Carl Recine
"Yaaaah... jujur saja, saya tidak mau berpikir muluk-muluk. Saya hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakan untuk memastikan bahwa saya ada di posisi yang tepat, untuk tampil dalam level yang layak," jelas Deeney.
ADVERTISEMENT
Watford adalah klub yang spesial bagi Deeney. Watford tetap memberikan tempat untuknya meski ia harus menepi sekitar tiga bulan akibat meringkuk di penjara. Pada 25 Juni 2012, Deeney diganjar hukuman penjara selama 10 bulan setelah didapati bersalah atas tuduhan penganiayaan. Deeney pun mengakui bahwa ia memang bersalah.
Ia menendang kepala seorang pria saat terlibat perkelahian pada 29 Februari 2012. Kabar baiknya, ia tak harus mendekam di penjara selama 10 bulan. Setelah melalui masa hukuman sekitar tiga bulan, Deeney bisa menghirup udara bebas. Ia dibebaskan setelah menunjukkan penyesalan dan mengakui bahwa ia memang yang pertama kali menyerang.
Kontroversi memang karib dengan Deeney. Sebagian penikmat sepak bola Inggris mungkin belum lupa tentang perayaan golnya ketika bertanding melawan Chelsea pada pekan ke-26 Premier League 2017/18.
ADVERTISEMENT
Keberhasilan membobol gawang yang dikawal oleh Thibaut Courtois ditutup Deeney dengan acungan jari tengah. Selebrasi yang liar, yang memantik rasa muak dari lawan-lawannya.
Tapi, menghakimi hanya dengan melihat kesalahan--bahkan terburuk sekali pun--barangkali tak lebih dari tindakan absurd. Lagipula, kalau Watford tetap memberi ruang untuknya di tengah segala kontroversi tadi, dapat disimpulkan bahwa Deeney adalah pemain spesial.
Tak cuma loyalitas yang ia berikan sejak 2010--kala Watford masih ada di Divisi Championship--tapi juga dari kontribusinya sebagai penyerang. Ada 11 gol dan lima assist dalam 36 penampilan di seluruh kompetisi yang dipersembahkannya untuk Watford.
Jumlah gol itu terbanyak kedua dibandingkan seluruh pemain Watford. Bukan jumlah yang spesial bagi pesepak bola tim-tim papan atas, tapi torehan itu ibarat tiang penyangga yang membantu Watford tetap berdiri di Premier League, bahkan sampai menjejak ke final Piala FA.
ADVERTISEMENT
"Jika saya bisa menyegel satu trofi, orang-orang akan berhenti menyebut saya ini sampah. Ya, banyak yang berpikir kalau saya ini sampah, jadi ini adalah proses bagi saya untuk membuktikan diri, untuk mengenyahkan segala anggapan buruk," jelas Deeney.
"Kalau gelar juara Piala FA bisa saya rengkuh, itu akan menjadi puncak yang mengubah jalannya cerita. Saya tahu, hidup saya benar-benar seperti roller coaster," ucap Deeney.
***
Manchester City dan Watford akan berhadapan dalam laga final Piala FA 2018/19 di Wembley Stadium, Sabtu (18/5/2019). Sepak mula akan berlangsung pada pukul 23:00 WIB.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan