Pencarian populer

Apollon Limassol Usir Lazio dari Nicosia Tanpa Tambahan Angka

Wajah semringah penyerang Apollon, David Faupala, usai membobol gawang Lazio dengan tendangan salto. (Foto: Reuters/Yiannis Kourtoglou)

Laga matchday kelima fase grup Liga Europa menjadi mimpi buruk bagi Lazio. Bertandang ke markas Apollon Limassol, GSP Stadium di Nicosia, Jumat (30/11/2018) dini hari WIB, Lazio kalah dengan skor 0-2.

Gol pertama Apollon dicetak David Faupala pada menit ke-31 lewat tendangan salto. Sementara, gol kedua tercipta di menit ke-82 via sontekan Sasa Markovic. Kekalahan ini memang tidak membatalkan kelolosan Lazio ke babak 32 besar, tetapi kini secara matematis Gli Aquilotti takkan bisa menyalip Eintracht Frankfurt di puncak klasemen Grup H.

***

Sudah lolos ke 32 besar dan dihadapkan pada pekan ke-14 Serie A membuat Simone Inzaghi mengambil keputusan strategis. Pada pertandingan ini dia menurunkan pemain-pemain yang jarang dimainkan seperti Silvio Proto, Riza Durmisi, Alessandro Murgia, Danilo Cataldi, dan Valon Berisha. Walau begitu, pakem 3-5-2 tetap menjadi andalan.

Bermain di atas rumput yang kuyup, baik Lazio maupun Apollon kesulitan untuk menciptakan peluang. Percaya tidak percaya, tembakan pertama yang tercipta pada laga ini baru hadir pada menit ke-17. Memanfaatkan second ball sedikit di luar kotak penalti Apollon, Berisha melepas tendangan mendatar yang menyamping di sisi kanan gawang lawan.

Secara umum, mayoritas fans yang tidak hadir pada pertandingan ini adalah orang-orang beruntung. Pasalnya, tanpa pertaruhan yang jelas, laga ini jadi tak ubahnya tragedi yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi komedi. Umpan-umpan tidak jelas yang awalnya terlihat mengenaskan dan mengesalkan itu lama-lama menjadi jenaka.

Setelah setengah jam yang membikin para pemirsa naik darah, sebuah RKO out of nowhere terjadi.

Berawal dari situasi sepak pojok, umpan silang akurat dikirimkan Joao Pedro ke kotak penalti Lazio. Seperti Randy Orton yang tiba-tiba melakukan RKO, David Faupala tiba-tiba saja melakukan tendangan salto yang membuat semua orang terperangah. Bola berhasil dieksekusinya dengan sempurna tanpa mampu dihalau Proto. Apollon unggul lewat tembakan pertama mereka di laga ini.

Sayangnya, setelah gol salto tadi, pertandingan kembali berubah menjadi lelucon slapstick, di mana para pemain bergerak seakan-akan bermain sepak bola sungguhan tetapi aslinya tidak. Total, di babak pertama hanya ada empat tembakan yang dicatatkan kedua tim. Tak heran, selain gol Faupala tadi, tak ada lagi gol yang tercipta.

Setelah babak pertama yang buruk, Lazio menghabiskan waktu lebih sedikit untuk benar-benar mulai bermain. Contoh nyatanya, kali ini mereka hanya butuh waktu empat menit untuk melepas tembakan --via tendangan bebas Cataldi. Namun, sesudahnya Lazio kembali kesulitan untuk mengalirkan bola melewati pesawat jumbo jet yang diparkir Apollon di daerah pertahanannya.

Striker Lazio, Felipe Caicedo, mati-matian mempertahankan bola. (Foto: Reuters/Yiannis Kourtoglou)

Di sisi lain, Apollon sendiri cuma mengandalkan serangan balik. Plot twist-nya, serangan balik mereka itu biasanya cuma dieksekusi satu --paling banter dua-- orang. Oleh karena itu, hasilnya pun sama sekali tidak optimal. Belum sampai kotak penalti, bola sudah bisa direbut kembali oleh pemain bertahan Lazio.

Buntunya permainan Lazio memaksa Inzaghi membuat perubahan taktikal. Murgia dan Bastos ditarik keluar, Alessandro Rossi dan Senad Lulic masuk. Formasi Lazio pun berubah menjadi 3-4-3 di mana Martin Caceres mengisi trio bek yang ditinggalkan Bastos.

Perubahan itu nyatanya tak berefek besar. Dominasi akan bola tetap tak bisa dikonversi Lazio menjadi sesuatu yang nyata. Malah, delapan menit jelang laga bubaran, gawang mereka kembali bergetar.

Lewat sebuah serangan balik, Fotis Papoulis yang lolos dari pengawalan memberi umpan datar pada Sasa Markovic. Tanpa kesulitan, Markovic melesakkan bola ke gawang kosong. Gol Markovic ini menjadi paku terakhir di peti mati Lazio pada pertandingan ini. Skor 2-0 untuk Apollon bertahan sampai laga usai dan Lazio kudu kembali ke kota asalnya tanpa membawa oleh-oleh poin.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57