kumparan
6 Jun 2019 16:47 WIB

Bagi Messi, Argentina Bukan Unggulan Juara Copa America

Lionel Messi memperbaiki ban kaptennya sebelum melawan Venezuela. Foto: REUTERS/Juan Medina
Timnas Argentina telah mengalami puasa gelar juara Copa America sejak 1993. Namun, sulit untuk mencoret La Albiceleste dari bursa kampiun turnamen antarnegara di Amerika Selatan tersebut.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tidak, Argentina selalu menembus babak final dua edisi terakhir Copa America. Hanya gara-gara keberuntungan Cile lewat babak adu penalti, Lionel Messi dan kolega gagal merengkuh trofi.
So, jangan heran jika para pengamat tetap memperhitungkan Argentina untuk Copa America 2019. Selain kiprah di turnamen edisi sebelumnya, kembalinya Messi ke skuat menguatkan kans Argentina untuk memutus dahaga gelar.
Pandangan berbeda justru datang dari Messi. Menurut megabintang Barcelona itu, Argentina sulit untuk membicarakan target gelar karena tengah meregenerasi skuat.
Eksperesi kecewa para pemain Argentina. Foto: REUTERS/Javier Barbancho
Ya, tak ada lagi sejumlah nama yang sempat menjadi pilar Argentina, seperti Gonzalo Higuain, Javier Mascherano, atau Ever Banega. Sebagai gantinya, pelatih Lionel Scaloni coba memasukkan darah-darah muda macam Lautaro Martinez di depan, Giovani Lo Celso di tengah, serta Juan Foyth sebagai pengawal di belakang.
ADVERTISEMENT
"Kami bukanlah kandidat juara di awal turnamen, tak seperti sebelum-sebelumnya. Karena pada dasarnya, Argentina tengah melalui proses transisi," tutur Messi sebagaimana dilansir oleh Marca.
"Kendati demikian, kami akan menjalani turnamen dengan antusiasme dan rasa lapar yang sama," ujarnya.
Seperti kata Messi, sudah sepatutnya pasukan Scolani tetap mengejar trofi Copa America walaupun tak menyandang status unggulan. Pasalnya, Argentina tetaplah Argentina, negara yang telah mengoleksi 14 gelar Copa America.
Lionel Messi saat bertanding melawan Liverpool. Foto: Reuters/Carl Recine
Dari sudut pandang Messi pribadi, trofi Copa America juga bakal bermakna penting. Ini bisa menjadi gelar juara pertamanya di level internasional, setelah sosok beralias La Pulga itu menelan kekalahan dalam tiga laga final (dua Copa America, satu Piala Dunia).
Yang menjadi problem, Messi mesti membenahi aspek psikologisnya karena rangkaian kegagalan bersama Timnas Argentina. Faktor itulah yang membuat dirinya tertekan sehingga sempat memutuskan rehat dari panggung internasional setelah Piala Dunia 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
Pukulan psikologis juga menimpa Messi pada akhir musim 2018/19. Pemicunya adalah kegagalan Barcelona di semifinal Liga Champions, setelah sempat unggul agregat 3-0 atas Liverpool.
"Saya merasa lelah secara mental alih-alih fisik setelah apa yang terjadi dalam 15 hari terakhir. Utamanya soal tersingkirnya Barcelona di Liga Champions," kata Messi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·