Pencarian populer

Ballon d'Or untuk Raphael Varane, Kenapa Tidak?

Raphael Varane dengan trofi Piala Dunia. (Foto: REUTERS/Michael Dalder)

Terlepas dari kehebatannya, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo punya dosa besar terhadap sepak bola. Atau lebih tepatnya, cara orang memandang sepak bola. Karena merekalah sepak bola jadi seperti terlalu disederhanakan.

Jikalau seseorang mampu mencetak banyak gol, mencatatkan banyak assist, meliuk-liuk melewati lawan, maka dia adalah pemain terbaik. Padahal, realitasnya tak sesederhana itu.

Sepak bola adalah permainan yang sederhana tetapi kompleks. Di dalamnya ada berbagai elemen yang membuatnya jadi olahraga favorit jutaan manusia.

Oke, Messi dan Ronaldo memang hebat, itu harus diakui. Akan tetapi, sepak bola tidak melulu soal mencetak gol. Mereka yang bertugas untuk mencegah lawan mencetak gol pun merupakan bagian dari sepak bola.

Untuk alasan inilah Fabio Cannavaro mendapat penghaargaan Ballon d'Or pada 2006. Performanya sepanjang Piala Dunia 2006 di Jerman begitu memukau. Tampil sebagai kapten sekaligus pemimpin lini belakang Italia, Cannavaro begitu krusial dalam mencegah lawan membobol gawang Gianluigi Buffon.

Pelatih Guangzhou Evergrande, Fabio Cannavaro. (Foto: Alexander Nemenov/AFP)

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Buffon sendiri yang pada turnamen itu menciptakan beberapa penyelamatan spektakuler, Cannavaro adalah sosok yang membuat tugasnya menjadi lebih ringan. Plus, jika kita ingat pertandingan semifinal melawan Jerman, Cannavaro adalah inisiator serangan Italia yang berbuah gol Alessandro Del Piero.

Ketika nama Cannavaro muncul sebagai pemenang Ballon d'Or, ada sebuah harapan yang tersempil di sana. Yakni, bahwa itu adalah momen di mana para pemain bertahan pada akhirnya mendapatkan apresiasi yang layak. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian.

Tak lama setelah Cannavaro meraih penghargaan tersebut, mulailah dominasi Messi-Ronaldo yang praktis baru berakhir seiring dengan keberhasilan Luka Modric menjadi pemain terbaik dunia versi FIFA.

Dua belas tahun sejak kemenangan Cannavaro, angin segar kembali bertiup untuk para pemain bertahan. Memang, dalam daftar nomine Ballon d'Or yang dirilis France Football pada 9 Oktober 2018 lalu, hanya ada sembilan pemain bertahan dari total 30 nomine. Akan tetapi, satu dari sembilan nama itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat peraih penghargaan tahunan ini.

Dia adalah Raphael Varane.

Pemain belakang Real Madrid, Raphael Varane. (Foto: Gabriel Bouys/AFP)

Bagaimana nama Varane bisa masuk dalam daftar nomine itu semestinya sudah tak perlu lagi diperdebatkan. Gelar Liga Champions dan trofi Piala Dunia yang ada di kabinetnya seharusnya sudah bisa jadi bukti sahih akan kehebatan sang bek sentral. Perlu dicatat, Varane adalah satu-satunya pemain yang sanggup mengawinkan dua gelar tersebut.

Varane punya peran krusial dalam upaya Real Madrid merebut gelar Liga Champions ke-13 dan perjuangan Prancis merengkuh trofi Piala Dunia keduanya. Di lini pertahanan dua tim itu, Varane tak tergantikan. Di Real Madrid musim lalu Varane hanya absen dalam dua dari 11 pertandingan yang dilakoni oleh El Real. Itu pun di fase grup. Selebihnya, Varane selalu menjadi tumpuan.

Ciamiknya penampilan Varane itu bisa disaksikan lewat statistiknya sepanjang musim di Liga Champions. Sebagai bek yang mengandalkan kecepatan, Varane memang dipasrahi tugas melakukan covering. Varane menjadi suplemen sempurna untuk Sergio Ramos yang bertindak sebagai stopper.

Dengan perannya itu, berdasarkan data Squawka, Varane mampu menjadi bek dengan catatan sapuan (169) serta blok (54) terbanyak di antara bek-bek top Eropa lain.

Performa menawan di level klub itu berlanjut ke level internasional. Di Timnas Prancis, Varane adalah salah satu pemimpin. Jika Hugo Lloris adalah kapten tim, Varane adalah deputinya.

Pada turnamen yang digelar di Rusia itu Varane kembali mencatatkan sejumlah statistik individual yang membelalakkan mata. Sepanjang turnamen, Varane mampu mencatatkan 44 sapuan yang merupakan jumlah terbanyak. Di udara, dia pun sulit dikalahkan, terbukti dengan rasio keberhasilan duel mencapai 72,9%

.

Itu semua masih ditambah dengan bagaimana dia sampai tidak perlu melakukan banyak tekel untuk menghalau serangan lawan. Dengan kecepatan dan penempatan posisinya yang sulit ditandingi, Varane tak banyak membutuhkan kontak fisik untuk merebut bola dari lawan.

Selama Piala Dunia, hanya ada satu tekel yang dicatatkannya dan itu adalah statistik yang bagus karena menurut Paolo Maldini, semakin bagus seorang bek, semakin sedikit pula jumlah tekelnya.

Itu semua sudah berhasil dicapai oleh Varane di usia yang beru menginjak angka 25. Padahal, menurut kesepakatan tak tertulis dalam dunia sepak bola, seorang bek baru akan mencapai kematangan maksimum di usia 28 sampai 32 tahun. Artinya, Varane yang sudah sehebat itu masih bisa bertambah hebat lagi ke depannya.

Itulah mengapa Varane sangat pantas untuk masuk ke dalam nominasi Ballon d'Or bersama Sergio Ramos, Diego Godin, dan Marcelo yang juga berposisi sebagai bek. Bahkan, tak cuma pantas masuk nominasi, Varane pun sangat layak untuk dipertimbangkan menjadi kandidat pemenang, meski dia harus berhadapan dengan pemain-pemain macam Modric, Ronaldo, Mo Salah, dan Kylian Mbappe yang sejauh ini masih lebih dijagokan dibanding dirinya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32