kumparan
13 Jun 2018 8:01 WIB

Berkah di Balik Esensi yang Hilang dari Timnas Brasil

Starting XI Timnas Brasil. (Foto: REUTERS/Leonhard Foeger)
Sudah sejak dahulu kala, Brasil dikenal sebagai negara sepak bola yang tangguh. Banyak bakat alami yang lahir dari tanah Samba ini, lalu mengecap sukses di tanah orang lewat kemampuan apik yang mereka miliki. Namun, sejak 2002 silam, Tim Nasional (Timnas) Brasil justru sulit berprestasi.
ADVERTISEMENT
Bicara tentang Timnas Brasil, maka bicara juga tentang kekuatan dan indahnya permainan sepak bola dari negara yang berlokasi di Amerika Selatan tersebut. Beragam pemain dengan kemampuan apik, seperti Zico, Socrates, Garrincha, Vava, serta Pele, lahir dan besar di Brasil.
Di kancah sepak bola dunia, dominasi Brasil juga bukan omong kosong, Total 5 gelar Piala Dunia sukses mereka menangi. Tahun 2002 adalah tahun terakhir Brasil menguasai sepak bola dunia. Kala itu, dengan skuat berisikan Rivaldo, Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu, Marcos, serta Kleberson, Brasil sukses menjuarai Piala Dunia yang dihelat di Korea Selatan dan Jepang.
Namun, setelah gelar juara dunia di tahun 2002 tersebut, Brasil mulai kehilangan kekuatannya. Mulai dari ajang Piala Dunia 2006 sampai Piala Dunia 2014, Brasil begitu sulit bersaing dengan negara-negara dari Eropa. Mereka sulit untuk menjejakkan kaki di partai final, bahkan ketika tampil di rumah sendiri pada 2014 lalu (ketika itu mereka dikalahkan Jerman 7-1).
ADVERTISEMENT
Perlahan, setelah kejadian mengerikan pada 2014 silam, ditambah dengan nirgelar dalam ajang Copa America 2015 dan Copa America Centenario 2016, Brasil mulai berbenah. Sosok Tite didapuk sebagai pelatih, dan langsung memberikan perubahan. Brasil tampil luar biasa di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan.
Di babak kualifikasi, Brasil sukses menjadi pemuncak klasemen dengan torehan 12 kemenangan, lima hasil imbang, dan sekali kalah dari 18 pertandingan. Atas hasil ini, Brasil masuk sebagai kandidat peraih gelar juara Piala Dunia 2018 yang dihelat di Rusia.
Namun, di mata Roberto Carlos, mantan penggawa Brasil di Piala Dunia 2002, ada yang hilang dari skuat Brasil saat ini. Hal yang hilang itu adalah jogo bonito, permainan indah yang menjadi ciri khas Brasil sejak lama. Permainan Brasil sekarang menjadi permainan yang sedikit terorganisir.
ADVERTISEMENT
"Kita kehilangan esensi dari permainan sepak bola Brasil, yaitu sepak bola indah dan menyerang. Namun, dalam aspek pertahanan, ada perbaikan yang terjadi. Organisasi pertahanan menjadi lebih baik," ujar Roberto Carlos, dilansir ESPN FC.
Memang sejak ditangani Tite, Brasil lebih rapi dalam aspek defensif. Di babak kualifikasi, mereka hanya kebobolan 11 gol, paling sedikit di antara tim-tim lain. Organisasi pertahanan yang rapi, menjadi warna baru dalam permainan Brasil saat ini.
Carlos, walau sempat mengungkapkan Brasil kehilangan esensi permainannya, pada akhirnya tetap mendo'akan kesuksesan dari Timnas Brasil di ajang Piala Dunia 2018 kelak. Menurut Carlos, tim yang sekarang dimotori oleh Neymar ini memiliki peluang untuk mengakhiri dahaga 16 tahun tanpa gelar Piala Dunia.
ADVERTISEMENT
"Saya harap kami dapat memenanginya lagi (gelar Piala Dunia), setelah terakhir memenanginya pada 2002 silam. Saya percaya sudah tiba waktunya bagi Brasil untuk menjadi juara dunia. Saya lihat sekarang itu adalah hal yang mungkin," ujar Carlos.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan