Pencarian populer

Bersama Lucien Favre, Borussia Dortmund Menjadi Paket Komplet

Bendera raksasa Borussia Dortmund. (Foto: Reuters/Fabian Bimmer)
Ada lubang besar yang begitu sulit ditambal oleh Borussia Dortmund ketika kebersamaan mereka dengan Juergen Klopp berakhir. Lima gelar di level domestik, plus satu tiket final Liga Champions, berhasil dipersembahkan Klopp untuk Dortmund dalam tujuh musim masa kepelatihannya. Setelah Klopp pergi, Dortmund pun jadi bak ayam kehilangan induk.
ADVERTISEMENT
Thomas Tuchel, sosok yang disebut-sebut mirip dengan Klopp, awalnya dipilih. Namun, karena perselisihan dengan jajaran manajemen, termasuk Sven Mislintat yang kini jadi kepala rekrutmen di Arsenal, Tuchel akhirnya ditendang. Dortmund pun kemudian menjatuhkan pilihan kepada Peter Bosz.
Bersama Ajax, Bosz menunjukkan potensi untuk menjadi pelatih besar. Awalnya, di Dortmund pun dia mampu membuktikan itu. Namun, setelah melalui enam kemenangan dari tujuh pertandingan, secara gradual penampilan Dortmund arahan Bosz menurun. Tiadanya rencana cadangan membuat Bosz akhirnya kelimpungan dan akhirnya dipecat.
Pengganti Bosz adalah Peter Stoeger. Di bawah Stoeger, Dortmund sebenarnya bermain lebih stabil. Namun, ini terjadi karena pelatih asal Austria itu memang punya pendekatan yang lebih defensif. Maka, meskipun Dortmund akhirnya bisa naik dari urutan delapan ke urutan empat, Stoeger tetap dipandang tidak pas untuk menjadi trainer klub asal Lembah Ruhr tersebut.
ADVERTISEMENT
Jelang musim 2018/19 bergulir, Dortmund memutuskan bahwa yang mereka butuhkan adalah keajaiban. Itulah mengapa, mereka kemudian menunjuk Lucien Favre, sosok yang sebelumnya sudah pernah membuat keajaiban bersama dua kesebelasan berbeda, Hertha BSC dan Borussia Moenchengladbach.
Sebenarnya, sama sekali tidak ada yang ajaib dari Favre dan bagaimana dia melatih. Keajaiban yang dimaksud sebenarnya hanyalah kemampuan pria asal Swiss itu mengombinasikan segala yang dibutuhkan oleh sebuah tim dalam satu paket komplet. Inilah yang tidak dimiliki, baik oleh Tuchel, Bosz, maupun Stoeger.
Tuchel adalah seorang pelatih yang terlalu sering melakukan perubahan formasi. Bosz adalah pelatih yang sama sekali tak pernah melakukan perubahan formasi karena dia memang tidak memiliki rencana cadangan untuk 4-3-3 ala Belanda-nya. Sedangkan, Stoeger terlalu terfokus pada pertahanan. Favre, sementara itu, berbeda.
ADVERTISEMENT
Sepuluh pertandingan sudah dijalani Dortmund di ajang Bundesliga dan mereka sama sekali belum pernah kalah. Tujuh kemenangan dan tiga hasil imbang adalah hasil yang sejauh ini sudah berhasil mereka torehkan. Jika ini digabung dengan raihan di Liga Champions dan DFB Pokal, maka rentetan keberhasilan Favre di Signal Iduna Park jadi tambah panjang.
Di bawah asuhan Favre, Dortmund berhasil menjadi tim yang lebih produktif dalam mencetak gol sekaligus lebih solid dalam bertahan. Gambarannya, musim lalu Dortmund punya rata-rata mencetak 1,88 gol dalam satu pertandingan dan kemasukan 1,38 gol. Musim ini, rata-rata gol mereka melonjak ke angka 3 dan rata-rata kemasukan turun ke angka 1. Sama sekali tak ada keajaiban, tetapi hasilnya terlihat ajaib.
ADVERTISEMENT
Lucien Favre membuat Dortmund hebat kembali. (Foto: Reuters/Fabian Bimmer)
Bersama Favre, Dortmund memainkan pakem dasar 4-2-3-1. Akan tetapi, yang namanya saja pakem dasar, di tengah-tengah pertandingan ia bisa berubah dengan fleksibel. Dalam situasi menyerang, ia bisa berubah menjadi 4-2-4 atau 3-3-4. Lalu, ketika bertahan, para pemain Dortmund merapat untuk membentuk skema 4-1-4-1.
Tak seperti pada era Klopp, di mana gegenpressing menjadi senjata utama, Dortmund besutan Favre ini lebih selektif dalam menggeber pressing-nya. Salah satu contohnya, kini para pemain depan hanya diinstruksikan untuk melakukan tekanan ketika bek lawan memutuskan untuk mengumpan ke belakang.
Untuk mengeksekusi rencana tersebut, Dortmund menerapkan pressing blok medium. Ini membuat pertahanan mereka menjadi lebih stabil karena ruang eksploitasi lawan pun secara otomatis menjadi lebih kecil. Plus, apabila mereka kecolongan, Dortmund punya duo bek sentral muda yang kuat dan cepat dalam diri Manuel Akanji dan Dan-Axel Zagadou sehingga akselerasi lawan bisa lebih cepat dipotong.
ADVERTISEMENT
Nah, itu kalau mereka kecolongan. Kalau tidak, kira-kira begini yang mereka lakukan: Dengan pressing blok medium tadi, Dortmund membentuk blokade rapat di lini tengah, utamanya dengan menipisnya jarak antara gelandang bertahan dan gelandang serang ketika mereka diserang. Blokade rapat di tengah itu memaksa lawan menyerang lewat sisi sayap.
Nah, ketika lawan menyerang lewat sayap itulah Dortmund baru mulai melakukan pressing lagi, biasanya untuk memaksa lawan membuat kesalahan atau membuat mereka melepaskan umpan jauh. Di atas kertas, beginilah cara Dortmund bertahan. Mereka punya lebih dari satu cara untuk menahan laju serangan lawan dan itu membuat gawang Roman Buerki jadi lebih jarang kebobolan.
Video
Lalu, bagaimana dengan ketika menyerang? Well, seperti tim-tim modern pada umumnya, Dortmund memulai segalanya dari bawah. Zagadou dan Akanji adalah dua bek sentral yang piawai mengolah serta mengalirkan bola. Mereka biasanya dibantu oleh Axel Witsel yang turun ke bawah untuk menjadi personel tambahan dalam fase awal build-up.
ADVERTISEMENT
Turunnya Witsel itu membuat gelandang bertahan Dortmund lainnya -- entah itu Mahmoud Dahoud, Thomas Delaney, maupun Julian Weigl -- untuk menjadi playmaker yang sesungguhnya. Menariknya, pengorbanan Witsel tidak sampai di sana saja. Ketika serangan sudah memasuki area tengah, Witsel akan memancing pemain lawan untuk memberinya penjagaan. Ini, lagi-lagi, dilakukan untuk membebaskan tandemnya di lini tengah.
Dari sana, serangan Dortmund kemudian diserahkan kepada empat pemain depan yang pada dasarnya memiliki gaya bermain nyaris serupa. Mereka adalah pemain-pemain yang cepat, skillful, dan cerdas. Ini membuat para pemain itu bisa bergerak liar mengacaukan pertahanan lawan. Marco Reus, sebagai gelandang serang tengah di Dortmund, jadi pemain paling penting dalam tahap ini.
Dengan keberadaan Reus di tengah, tidak pernah ada hubungan yang putus antara pemain satu dan yang lain. Sebagai pemain depan, Reus memang punya nyaris segalanya. Tak heran jika saat ini dia sudah mengoleksi 7 gol dan 4 assist untuk Die Borussen. Selain menjadi hebat kembali, Reus juga mampu membuat rekan-rekan di sekelilingnya jadi hebat.
ADVERTISEMENT
Bangkit kembalinya Reus di tangan Favre memang bukan kebetulan. Ketika Reus pertama kali mencuat bersama Gladbach dulu, Favre adalah pelatih yang menanganinya. Membangkitkan kembali Reus, dengan menjadikannya pusat serangan Dortmund, adalah keberhasilan yang membuat Favre layak untuk mendapat sanjungan.
Marco Reus bintang utama Dortmund musim ini. (Foto: Reuters/Fabian Bimmer)
Menurut pengamat sepak bola Jerman, Raphael Honigstein, Favre sebenarnya bukan orang yang cocok dengan kultur Dortmund yang keras. Latar belakangnya yang lebih condong ke Prancis membua Favre acapkali dinilai sebagai sosok yang lunak. Namun, Favre punya antidot untuk semua itu. Yakni, kepekaannya terhadap detail yang luar biasa. Caranya menyusun taktik tadi sudah bisa jadi contoh.
Sejauh ini, Dortmund di bawah Favre memang sudah terlihat mengerikan. Salah satu bukti palig sahihnya adalah ketika mereka berhasil menghajar Atletico Madrid empat gol tanpa balas di Liga Champions. Itu merupakan kekalahan terbesar Atletico di bawah asuhan Diego Simeone. Akan tetapi, Dortmund juga belum sempurna.
ADVERTISEMENT
Ada dua contoh yang menunjukkan kekurangan Dortmund sejauh ini. Pertama, saat gawang mereka dibobol RB Leipzig pada spieltag pertama Bundesliga. Gol Jean-Kevin Augustin di detik ke-30 itu terjadi karena pemahaman build-up, khususnya dari Zagadou, belum betul-betul matang.
Contoh kedua terjadi manakala Dortmund ditahan imbang 2-2 oleh Hertha. Gol pertama Hertha yang dicetak oleh Salomon Kalou menunjukkan bahwa bentuk pertahanan Dortmund sebenarnya masih bisa dibongkar oleh lawan, terutama jika lawan piawai dalam melakukan overload.
Namun, segala kekurangan itu adalah wajar. Favre sendiri pernah berkata bahwa dia tak berkeberatan jika pemainnya melakukan kesalahan. Pasalnya, mereka memang masih muda dan perlu banyak belajar. Sekarang, yang perlu kita nantikan adalah bagaimana para pemain itu bisa segera menyerap ilmu Favre untuk menjadikan Dortmund tim terbaik di Jerman lagi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85