kumparan
5 Des 2018 19:54 WIB

Bersama PSG, Semoga Buffon Bisa Bertanding dengan Bahagia

Buffon berpamitan dengan para suporter. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Hampir semuanya sudah diraih Gianluigi Buffon bersama Juventus. Jika ada satu hal yang belum sanggup dimenanginya maka itu adalah Liga Champions. Buffon dan Liga Champions ibarat punuk merindukan bulan, begitu menginginkan tapi tak pernah kesampaian. Setidaknya, itulah yang terjadi selama 17 tahun membela 'Si Nyonya Tua' sejak 2001 hingga 2018.
ADVERTISEMENT
Kepergian Buffon menjadi penanda bagi era baru. Barangkali, orang-orang Italia itu merasa aneh juga saat menyadari tak ada Buffon yang berdiri di bawah gawang Juventus. Apa boleh bikin, keputusan Buffon sudah mantap. Ia terbang ke Paris, menjejak di Parc des Princes, rumah Paris Saint-Germain (PSG).
Hampir enam bulan menjadi bagian dari skuat Thomas Tuchel, Buffon mulai buka suara soal waktu-waktu terakhirnya bersama Juventus. Ironis karena di pengujung periode itu ia justru menghadapi stres yang cukup hebat dan memberatkan langkahnya dari satu lapangan ke lapangan lain.
"Saya pikir, berbicara dengan tenang bersama Presiden setelah periode panjang yang membuat saya stres karena ada begitu banyak beban yang saya pikul sebagai kapten Juventus--walau di satu sisi itu menjadi kehormatan--menjadi hal yang baik. Sudah tiba waktunya bagi kami untuk berpisah jalan," jelas Buffon, dilansir Football Italia.
ADVERTISEMENT
"Pensiun atau tetap bermain memang jadi dua hal yang saya pertimbangkan. Tapi, pilihan kedua hanya akan saya ambil kalau saya menerima penawaran dari klub papan atas. Kalau dari liga antah-berantah, sudah pasti tidak akan saya pertimbangkan. Penawaran PSG datang pada Mei 2018, itu yang membuat saya mempertimbangkan untuk tetap bermain satu atau dua tahun lagi."
Spanduk raksasa Buffon di Allianz Stadium. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Musim terakhir Buffon bersama Juventus memang ditutup dengan raihan scudetto dan Coppa Italia. Hebatnya, itu menjadi scudetto ketujuh yang dipersembahkan Buffon dalam tujuh musim beruntun. Hanya, kegembiraan itu rasanya belum lengkap karena mengangkat trofi Liga Champions di atas podium masih menjadi angan-angan Buffon.
Di musim 2017/18, Juventus hanya sampai ke babak perempat final. Buffon bahkan menutup laga dengan elegi karena diusir sambil menjadi pendosa kartu merah. Apalagi bila melihat usia Buffon yang sudah tak muda lagi. Di pengujung 2017/18, usianya sudah 40 tahun. Ini bukan tentang kekuatan fisik semata, tapi masalah regenerasi yang harus dilakoni oleh timnya.
ADVERTISEMENT
Bergantung pada pemain senior walau sarat pengalaman tidak akan menjadi keputusan bijak untuk tim seperti Juventus. Maka, mau tak mau, cepat atau lambat, Buffon mesti menyingkir juga dari bawah mistar gawang Juventus. Itulah sebabnya publik menyangka bahwa waktu Buffon sudah habis.
Namun, tidak ada orang lain yang lebih berhak untuk menentukan jalan Buffon selain Buffon sendiri. Ia mempersetankan perkara fisik dan menerima pinangan PSG yang juga memikul ambisi yang serupa dengannya. Liga Champions tak semata-mata menjadi ambisinya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya, tapi yang jelas, hasratnya untuk turun arena belum padam.
"Ini bukan keputusan yang umum, tapi ini adalah keputusan yang sudah saya pikirkan berkali-kali. Kami berpisah dalam periode dan cara yang manis. Inilah yang saya inginkan, dan saya pikir, orang-orang juga berkeinginan serupa," ucap mantan kiper Parma ini.
ADVERTISEMENT
"Saya sudah memenangi tujuh scudetto dalam tujuh musim terakhir. Tidak ada kemenangan yang terlampau sepele. Di dalamnya ada begitu banyak kisah tentang kekelahan dan tekanan. Sudah waktunya bagi saya untuk berkata 'cukup'. Juventus mungkin juga merasa bisa melepas seorang pemain (Buffon sendiri -red). Namun, untuk membangkitkan apa-apa yang sempat runtuh mereka merasa harus mendatangkan (Cristiano) Ronaldo," jelas Buffon.
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan