Pencarian populer

Betapa Sulitnya Mengenyahkan Mafia dari Sepak Bola Italia

Ilustrasi mafia dalam film Goodfellas (1990). (Foto: Dok. Warner Bros)

Ada dua hal yang membuat Castel di Sangro dikenal oleh publik. Pertama, klub ini adalah tempat Carlo Cudicini bermain sebelum hengkang ke Chelsea pada musim 1999/2000. Kedua, karena kisah ajaib mereka pernah didokumentasikan dengan brilian oleh seorang penulis Amerika Serikat bernama Joe McGinnis lewat buku 'The Miracle of Castel di Sangro'.

Di buku itu, McGinnis berkisah tentang Castel di Sangro pada musim 1996/97 yang merupakan musim pertama klub tersebut di pentas akbar persepakbolaan Italia. Sebagai klub kecil dari kota kecil, Castel di Sangro tampak seperti butuh keajaiban untuk bisa menembus kompetisi seperti Serie B. Lewat penuturan McGinnis, akhirnya bisa dipahami bahwa memang Castel di Sangro adalah klub penuh keajaiban, dalam arti konotatif maupun denotatif.

Salah satu keajaiban yang penuh denotasi itu mewujud dalam sosok sang padrone, Pietro Rezza. Dalam buku tadi, sosok Rezza digambarkan seperti penjahat-penjahat dalam kartun. Cerutu tak pernah lepas dari tangan dan bibirnya. Selain itu, Rezza yang selalu ditemani oleh para pengawalnya itu memiliki sebuah kebun binatang di rumahnya yang terletak di sebuah gunung.

Rezza, menurut McGinnis, tidak menyukai bagaimana alam membentuk bumi miliaran tahun silam. Oleh karenanya, dengan dinamit dan buldoser, dia mengubah apa yang sudah diciptakan oleh alam. "Dia meletakkan puncak gunung di tempat yang sebelumnya tidak terdapat apa-apa dan mengenyahkan segala hal yang mengusik pandangannya," tulis McGinnis.

Lucunya, Rezza memilih untuk pindah ke gunung tersebut karena sebelumnya, ketika dirinya tinggal di tepi Danau Luongo, dia seringkali merasa tidak puas dengan warna danau tersebut. "Di danau itu, tidak ada yang bisa dilakukan Signor Rezza," sebut McGinnis. "Tetapi di sini, semua adalah miliknya. Ini adalah satu-satunya tempat di bumi yang bisa dia buat jadi sesuai dengan seleranya."

Rezza, menurut pemahaman McGinnis, adalah seorang mafioso dari Napoli. Di kota terbesar provinsi Campania itu, Rezza memiliki perusahaan konstruksi dan dari sanalah dia mendapatkan kekayaannya. Secara resmi, perusahaan konstruksi milik Rezza itu memang ada. Akan tetapi, 'konstruksi' dan 'eskpor-impor' adalah ameliorasi untuk bisnis terselubung yang dilakukan oleh para mafiosi.

Singkat kata, dalam buku 'The Miracle of Castel di Sangro' tadi, McGinnis bercerita panjang lebar soal Rezza, soal Gabriele Gravina -- menantu Rezza yang tolol tetapi sok berkuasa, soal Osvaldo Jaconi -- pelatih Castel di Sangro yang ogah-ogahan menerima pemain kulit hitam, soal Gigi Prete -- pemain Castel di Sangro yang ditangkap polisi karena jadi pengedar kokain, dan soal bagaimana pertandingan diatur di Italia lewat kesepakatan bernama Il Sistema*.

Apa yang terjadi pada Castel di Sangro itu adalah contoh banal dari sepak bola Italia yang korup. Pepatah China mengatakan bahwa seekor ikan itu busuknya datang dari kepala dan itulah yang dialami oleh Castel di Sangro. Dari pucuk, klub itu sudah bermasalah dan akhirnya, perjalanan mereka pun menjadi begitu mengenaskan. Namun, saking mengenaskannya, kisah itu jadi tak ubahnya realisme magis yang ajaib dan menyenangkan untuk dikisahkan kembali.

Bicara soal Castel di Sangro dan Rezza, berarti bicara soal bagaimana mafia terlibat dalam persepakbolaan Italia. Sepak bola, tentu saja, hanyalah bagian kecil dari kehidupan dan di Italia sana, mafia adalah bagian tak terpisahkan darinya. Setiap ada kesempatan, sekecil apa pun itu, para mafiosi pasti akan berusaha mengeksploitasinya.

Jika yang terjadi pada Castel di Sangro adalah contoh banal, maka apa yang menimpa Juventus adalah contoh subtil. Tahun lalu, presiden Juventus, Andrea Agnelli, dijatuhi hukuman larangan terlibat di sepak bola selama satu tahun karena keterlibatannya dengan mafia. Meski begitu, keterlibatan Agnelli ini tidaklah sama dengan keterlibatan Rezza di Castel di Sangro.

Mafia, baik di Italia maupun di negara-negara lain, bukanlah satu entitas utuh yang berukuran besar. Alih-alih begitu, kekuasaan mafia atau sindikat kriminal terorganisasi ini biasanya bersifat teritorial. Mereka yang berasal dari Sisilia adalah La Cosa Nostra. Sementara, Camorra adalah sebutan bagi kelompok dari Campania. Sedangkan, yang berurusan dengan Agnelli itu adalah mafia Calabria yang disebut 'Ndrangheta.

Chairman Juventus, Andrea Agnelli. (Foto: Giuseppe Cacace/AFP)

Saat ini, 'Ndrangheta adalah mafia terbesar di Italia. Pada 2014, The Guardian pernah melaporkan bahwa pendapatan 'Ndrangheta di tahun sebelumnya bisa mencapai 53 miliar euro atau 3,5% produk domestik bruto (GDP) Italia. Jumlah itu lebih besar dibanding milik McDonald's sekalipun. Sebuah institut riset bernama Demoskopika menyebutkan bahwa pendapatan utama 'Ndrangheta berasal dari penjualan narkotika dan pembuangan sampah ilegal.

Namun, bukan dua hal itu saja yang menjadi sumber pendapatan 'Ndrangheta. Kelompok yang sudah eksis sejak akhir abad ke-19 itu juga punya sumber pemasukan lain, di mana salah satunya adalah penjualan tiket pertandingan sepak bola. Di sinilah kemudian Juventus dan 'Ndrangheta bersilangan. Atas relasi ini, ultras Juventus punya peran sentral.

Juventus dan ultras-nya punya hubungan yang tidak terlalu harmonis. Sudah tak terhitung berapa kali ultras Juventus yang menghuni tribune selatan stadion itu berbuat ulah. Yang teranyar adalah pada laga kontra Napoli lalu, di mana mereka meneriakkan kata-kata berbau rasialis terhadap Kalidou Koulibaly. Aksi itu membuat Juventus dihukum dan akhirnya memilih untuk menempatkan anak-anak di tribune selatan saat bertanding melawan Genoa.

Masalah itu tidak cuma terjadi sekali dua kali. Pernah suatu kali ultras Juventus meneriakkan kata-kata rasialis untuk Paul Pogba dan Andrea Pirlo yang berdarah Romani itu. Perilaku itu kemudian memicu keributan antara mereka dan istri mendiang Gaetano Scirea yang namanya diabadikan menjadi nama curva tempat para ultras itu mendukung Juventus.

Sebenarnya, Juventus sudah berusaha untuk mencegah itu terjadi. Salah satu caranya adalah dengan memberi jatah tiket secara khusus kepada si pentolan ultras. Nah, dalam mekanisme inilah kemudian 'Ndrangheta menyusup.

Ceritanya, jatah tiket yang diberikan kepada pentolan ultras itu dijual sendiri olehnya kepada para anggota ultras lain. Sehingga, bisnis penjualan tiket pun jadi bisnis yang menggiurkan. Apalagi, untuk melakukan itu, tidak perlu ada modal ekonomis apa-apa. Tiket datang secara cuma-cuma dan bisa dilego dengan semaunya. Itulah mengapa, per laganya, penjualan tiket itu bisa mendatangkan uang sampai 30 ribu euro.

Ultras Juventus di London. (Foto: AFP/Glin Kyrk)

'Ndrangheta menginginkan bagian dari sana dan aksi itu tercium oleh para penegak hukum di Italia. Hal ini sempat berujung tragis ketika Ciccio Bucci, broker yang menghubungkan ultras Juventus dengan 'Ndrangheta, tewas 'bunuh diri' hanya beberapa hari setelah berbicara dengan jaksa penuntut. Meski demikian, tewasnya Bucci itu tak menyurutkan tekad kejaksaan dan kepolisian.

Akhirnya, pada 2017, dakwaan dijatuhkan kepada Agnelli. Pria berusia 41 tahun itu dianggap bersalah karena membiarkan adanya aktivitas mafia terjadi di sekitar klubnya. Tak cuma membiarkan, malah, karena Agnelli juga disebut-sebut secara konstan menjalin kontak dengan pentolan 'Ndrangheta, Rocco Dominello, yang kini mendekam di penjara.

Juventus sendiri bukanlah satu-satunya entitas sepak bola yang kedapatan berurusan dengan 'Ndrangheta. Mantan pemain mereka, Vincenzo Iaquinta, baru-baru ini divonis dua tahun penjara dalam sebuah penyidikan yang bertujuan untuk menggulung kelompok organisasi kriminal tersebut. Iaquinta sendiri diperiksa bersama 148 orang, termasuk sang ayah, Giuseppe.

Pada akhirnya, Iaquinta divonis tidak bersalah soal keterlibatan dengan 'Ndrangheta. Akan tetapi, ada tindak pidana lain yang dilakukan oleh Iaquinta, yakni menyerahkan senjata api kepada ayahnya.

Tindak pidana ini terjadi ketika Iaquinta masih berseragam Udinese, jelang kepindahannya menuju Juventus. Ketika itu, Iaquinta menitipkan dua senjata api kepada ayahnya karena dia sedang repot mengurusi kepindahan. Namun, yang jadi masalah adalah sang ayah ketika itu sudah diperintahkan oleh pengadilan untuk tidak menyentuh senjata api. Giuseppe Iaquinta sendiri akhirnya divonis 19 tahun penjara akan keterlibatannya dengan 'Ndrangheta.

Apa yang dialami Iaquinta itu, di mana dia memiliki anggota keluarga yang terkait dengan mafia, juga dialami oleh Giuseppe Sculli. Menariknya, 'Ndrangheta pulalah yang lagi-lagi ambil bagian di sini. Kakek Sculli, Giuseppe Morabito, adalah mantan bos 'Ndrangheta yang pernah buron selama 12 tahun dan sudah mendekam di penjara sejak 2004.

Giusepp Sculli, si cucu bos mafia. (Foto: AFP/Andreas Solaro)

Morabito sendiri dikenal sebagai penggemar berat Sculli. Sejak Sculli masih bocah, dia sudah didukung penuh untuk jadi pesepak bola. Setiap kali Sculli kecil selesai bertanding bersama teman-temannya di akademi, Morabito selalu menjamu mereka dengan makanan-makanan enak di rumahnya.

Walau begitu, Sculli mengaku tidak tahu menahu soal aktivitas Morabito sebagai bos mafia. Bahkan, ketika Morabito dijebloskan ke penjara sekalipun, Sculli tetap bersikeras bahwa kakeknya tidak bersalah karena dia memang tidak pernah menyaksikan tanda-tanda kejahatan sang kakek.

Pada 2012, terjadi sebuah insiden di Stadio Luigi Ferraris. Sculli kala itu bermain untuk Genoa dan tim yang dibelanya saat itu tengah berada di zona degradasi. Suasana pun semakin memanas ketika Genoa menjamu Siena dan tertinggal 0-4. Para ultras Genoa yang tidak terima kemudian memaksa para pemain Il Grifone untuk melucuti seragamnya.

Semua pemain, termasuk kapten Marco Rossi, menuruti permintaan para ultras itu, meski dengan menggerutu. Hanya Sculli pemain yang menolak. Sambil memanjat pagar tribune, Sculli kemudian berdialog dengan para ultras tersebut. Tak lama kemudian, para ultras berhasil ditenangkan, pertandingan dilanjutkan, dan Genoa bisa mencetak satu gol hiburan.

Seusai pertandingan itu, kaitan antara Sculli dan Morabito diungkit. Sculli pun tidak menampik adanya relasi tersebut. Bahkan, dengan bangga dia berkata bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan buah ajaran sang kakek. "Apa pun yang terjadi, kamu harus mempertahankan harga dirimu," kata Sculli.

Kisah keterlibatan mafia dalam sepak bola lain datang pada 2013 lewat kasus Fabrizio Miccoli. Nama pesepak bola yang disebut sebagai 'Maradona dari Salento' itu muncul dalam rekaman sadapan telepon yang dilakukan oleh Unit Anti-Mafia Kepolisian Palermo. Dari rekaman tersebut, Miccoli diketahui menjalin hubungan erat dengan Antonino Lauricella yang merupakan anak bos mafia setempat.

Fabrizio Miccoli di acara jumpa pers usai namanya muncul di sadapan kepolisian. (Foto: AFP/Marcello Paternostro)

Pertemanan Miccoli dan Lauricella ini sampai pada taraf di mana sang anak bos mafia mau membantu si pesepak bola menagih utang dari seorang pemilik kelab malam. Tak cuma itu, Miccoli juga kedapatan mengata-ngatai Giovanni Falcone, hakim anti-mafia yang dibunuh dengan bom darat pada 1992 silam. Rekaman sadapan itulah yang kemudian mematikan karier Miccoli di Palermo.

Miccoli, Sculli, dan Iaquinta hanyalah beberapa contoh dari bagaimana dekatnya sepak bola Italia dengan mafia. Sebenarnya, masih ada sejumlah nama yang bisa dikedepankan seperti Jose Manuel Reina, Paolo Cannavaro, dan Salvatore Aronica -- ketiganya eks pemain Napoli -- yang disebut-sebut punya hubungan dengan Camorra.

Baik Reina, Cannavaro, maupun Aronica sama-sama mengaku tidak sadar akan keterlibatan itu. Mereka mengira bahwa orang-orang yang mereka temui selama masih memperkuat Partenopei tersebut adalah sponsor klub. Padahal, sebenarnya mereka adalah anggota Camorra.

Di Italia sendiri, mafia dulunya merupakan organisasi yang dibentuk untuk melindungi mereka yang tak terlindungi oleh hukum. Akan tetapi, pada prosesnya, mereka berevolusi menjadi sindikat kejahatan. Apa yang terjadi pada klub-klub serta pemain itu menunjukkan bahwa meskipun segala upaya sudah dikerahkan untuk memeranginya, mafia tetap ada dan masih merajalela.

=====

*) Il Sistema adalah kesepakatan yang dijalin klub-klub Italia, yang intinya, hasil akhir dari pertandingan terakhir di sebuah musim kompetisi akan disesuaikan untuk menguntungkan klub yang paling berkepentingan. Dalam kasus Castel di Sangro tadi, yang punya kepentingan besar adalah Bari, yang punya ambisi promosi ke Serie A. Di laga terakhir Serie B musim 1996/97, Castel di Sangro yang tak punya kepentingan apa-apa kalah 1-3.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: