kumparan
20 Okt 2018 11:53 WIB

Bincang kumparan dengan Indra Sjafri: Tekad Kuat Menuju Piala Dunia

Indra Sjafri. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Lolos Piala Dunia. Satu target yang mungkin terdengar mengada-ada. Bagaimana mungkin Indonesia yang memiliki iklim sepak bola semrawut, tiba-tiba ingin mentas di Piala Dunia? Mimpikah?
ADVERTISEMENT
Jika berbicara Piala Dunia di tingkat senior mungkin hanya sebatas angan-angan, tetapi tak demikian pada tingkat usia muda. Timnas Indonesia U-16 pernah membuktikannya.
Selangkah lagi, mereka bisa lolos ke Piala Dunia U-17 di Peru pada tahun depan. Sayang, 45 menit tersisa, David Maulana dan kolega tak bisa membendung kedigdayaan Australia.
Kini, kesempatan kedua berada di pundak Timnas U-19. Berlaga di Piala Asia U-19, skuat ‘Garuda Nusantara’ ditargetkan untuk bisa melaju hingga babak semifinal guna menyegel tiket otomatis menuju Piala Dunia U-20 2019 di Polandia.
Perbincangan tentang lolos ke Piala Dunia U-20 sejatinya telah digaungkan sejak jauh-jauh hari. Ada yang optimistis, tetapi tak sedikit pula yang mencibir. Lantas, bagaimana sebenarnya reaksi Indra Sjafri selaku pelatih Timnas U-19 menyikapi tuntutan itu?
ADVERTISEMENT
kumparanBOLA sempat berbincang dengan Indra Sjafri perihal target yang dibebankan federasi kepada timnya tersebut. Usai mantan juru latih Bali United ini memimpin latihan timnya, kami kemudian berbincang di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (19/10/2018) malam. Berikut petikan wawancaranya.
Pelatih timnas U-19 Indra Sjafri memberikan keterangan pers menjelang Piala Asia U-19 di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Bagaimana kondisi pemain usai menang lawan Taiwan?
Mereka semakin termotivasi sekarang. Semua optimistis menatap laga kedua melawan Qatar, karena kalau kami menang, sudah hampir pasti lolos ke babak selanjutnya, ‘kan?
Tapi, kami juga evaluasi dari penampilan mereka. Kami evaluasi pakai potongan-potongan video dari pertandingan kemarin lawan Taiwan. Momen apa saja yang dilakukan pemain, seperti ada beberapa situasi seharusnya mereka kasih bola ke teman, tapi ini tidak.
Menurut pemain, mungkin keputusan itu benar. Ya, kalau memang jadi gol, itu benar, tapi kalau tidak, itu ‘kan jadi tidak benar. Saya tidak pernah menyalahkan pemain atas keputusan yang diambilnya di lapangan, tapi saya kasih opsi bagaimana kalau berada dalam situasi seperti tadi.
ADVERTISEMENT
Biasanya kami lakukan dengan melihat video-video tadi. Karena buat mereka, sepertinya evaluasi dari video lebih mengena.
Video
Pada 2014, ekspektasi masyarakat begitu tinggi terhadap Timnas U-19 untuk melaju ke Piala Dunia, tetapi gagal. Saat ini, harus diakui banyak yang meragukan, bagaimana tanggapannya?
Kalau banyak yang meragukan, itu bagus buat kami. Karena dulu yang menghancurkan tim (Timnas U-19 era Evan Dimas cs.) itu ‘kan euforianya. Kita keluar dengan euforia yang tinggi, sudah lama tidak jadi juara. Akhirnya, persiapan tidak dapat poinnya.
Tapi, sekarang berbeda. Semua lawan yang dihadapi (di Piala Asia) sudah kami hadapi di uji tanding. Kalau tidak ada hal-hall di luar dugaan, bisa kami lewati, saya yakin itu.
ADVERTISEMENT
Taiwan juga bukan tim lemah. Saya pikir mungkin saja UEA (Uni Emirat Arab) bisa dikalahkan sama mereka. Kami bersyukur bisa dapat poin penuh. Karena waktu 2014, pertandingan pertama kami kalah.
Di antara keraguan itu, muncul usulan untuk mengikutsertakan pemain Timnas U-16 ke dalam Timnas U-19, bagaimana pandangannya?
Iya, saya tahu banyak suara yang katanya lebih baik masukkan pemain U-16 ke U-19, buat saya itu tidak mungkin. Itu emosional. Bagi saya, yang terpenting adalah ‘biarkan buah matang di pohonnya’.
Dan, yang ngomong itu saya juga tidak tahu apa dia bisa main bola apa tidak. Apa dia tahu situasi di dalam tim apa tidak. Pemain boleh dicoba, asalkan masuk ke dalam 50 nama yang didaftarkan ke AFC.
ADVERTISEMENT
Tapi, pemain U-16 ‘kan tidak ada yang kami daftarkan. Kenapa? Karena mereka punya event sendiri (Piala Asia U-16) dengan waktu yang berdekatan, jadi tidak mungkin. Usia mereka juga baru 16 tahun, biarkan mereka berkembang. Pada level usia muda seperti ini, tidak perlu lah dikarbit-karbitkan, biarkan matang di pohonnya.
Timnas Indonesia U-16 saat berlaga di Piala Asia U-16 2018. (Foto: Dok. AFC)
Bagaimana pemain memandang target ke Piala Dunia, apakah menjadi beban tersendiri?
Sekarang saya melihat, masyarakat menuntut prestasi sepertinya bukan di tim senior, tapi di usia muda. Mungkin kalau ada tarkam (antarkampung) tingkat dunia, mereka juga menuntut harus juara juga he he he…
Enggaklah, kami enggak punya beban. Kami punya ambisi, punya niat dan tekad yang kuat untuk bisa lolos ke Piala Dunia. Apa pun kami lakukan untuk mewujudkannya. Karena kalau sampai kami lolos ke Piala Dunia, dampaknya bukan hanya untuk sepak bola. Tapi, juga untuk masyarakat yang akan bahagia, untuk federasi yang bisa menambah kepercayaan diri mereka.
ADVERTISEMENT
Kalau memang sudah ditakdirkan saya bawa tim ini lolos ke Piala Dunia, mau cara apa pun, mau orang menggagalkan seperti apa pun, enggak akan bisa, dan saya percaya dengan takdir.
Tapi, kita juga harus sadar tidak semua orang ingin Indonesia lolos ke Piala Dunia. Ada yang juga tidak pengin.
Pertandingan Indonesia U-19 vs Taiwan U-19 di AFC U-19 Championship di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Benarkah ada pihak yang tidak ingin Timnas U-19 lolos ke Piala Dunia?
Iya, saya tahu banget itu. Siapa-siapa saja mereka, saya tahu. Hal-hal seperti itu, yang biasanya menghambat karena niatnya enggak sama.
Tapi, orang-orang begitu ‘kan diam-diam saja. Di depan umum dia juga enggak berani ngomong, nanti pakai diskusi-diskusi atau kumpul-kumpul. Waktu dia habis hanya untuk memikirkan orang lain.
ADVERTISEMENT
Kalau buat saya, sih, di mana pun akan tetap bekiprah. Tidak di klub, tidak di timnas, saya akan bekiprah di tempat lain. Saya ingin terus mengabdi untuk sepak bola Indonesia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan