Pencarian populer

Bobotoh: Redam Rivalitas Kosong yang Kebablasan

Koreografi Persib vs Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. (Foto: Sandi Firdaus/kumparan)

Pertemuan Persib Bandung dan Persija Jakarta selalu dinanti-nanti. Bukan hanya oleh para pemain di lapangan hijau, tapi juga ribuan suporter mereka. Dan bukan rahasia lagi: pendukung kedua kubu–Bobotoh dan The Jakmania–macam musuh bebuyutan yang siap saling cakar bila bersua.

Ragam cara diupayakan agar gencatan senjata terjalin, namun korban masih terus berjatuhan. Yang teranyar ialah Haringga Sirla yang tewas dianiaya Bobotoh sebelum pertandingan Persib dan Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (23/9).

Pertandingan dua ‘raksasa’ sepak bola Indonesia itu sontak terasa hambar kala kabar kematian Haringga menyebar. Kematiannya kembali jadi noktah hitam dunia sepakbola Indonesia. Betapa rivalitas suporter antarkubu terus membuat korban berjatuhan.

Kenapa permusuhan abadi itu bisa langgeng? Tak mungkinkan benci dipupus dengan rangkulan persaudaraan?

kumparan mewawancarai pengamat hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto alias Eko Maung, Dirigen Viking Persib Yana Umar, dan Kukuh dari Viking Lembang. Berikut petikannya.

Eko Noer Kristiyanto, bobotoh dan peneliti hukum olahraga. (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Bagaimana awal kemunculan permusuhan antara Bobotoh dengan Jakmania?

Yana Umar: Momennya tahun 1999 saat pertandingan di Bandung. Sudah jelas (Jakmania) nggak boleh ke sini, kenapa nggak seminggu sebelumnya kasih kabar mau datang? Ini besok mau main, baru datang. Siapa yang salah? Kan sudah tahu kalau partai Persib melawan Persija bakal ramai. (Karena) stadion kecil.

Di Bandung, pertandingan apa pun pasti ramai. Cuma, ada tensi yang naik pas lawan Persija. Tensi melawan Persija dulu itu bukan karena ada The Jak, tapi karena (Persija) susah dikalahkan. Penasaran si Bobotoh teh.

Kenapa lantas bergeser jadi aksi kekerasan?

Yana Umar: Karena kebenciannya menjalar. Apalagi semakin besar organisasi suporter, semakin susah. Urusannya sudah bukan perut, urusannya nyawa.

Kukuh: Pandangan saya, karena pengaruh sosial media. Sekarang yang diadopsi hal-hal buruk. Film-film suporter di luar negeri berantem pakai cutter, keling, senjata tumpul yang bisa melukai musuh. Pengaruh dari sana menurut saya.

Sekarang suporter luar negeri akunnya banyak. Banyak nunjukkin gaya mereka menjadi suporter seperti apa. Banyak mengadopsi dari luar. Tapi itu hal negatifnya.

Padahal suporter harus punya ciri khas. Jadi, kalau melihat dunia suporter, warnanya sama. Bikin koreografi, red flare, smoke bomb. Nggak punya ciri khas.

Pengaruh luar memupuk kebencian antarsuporter?

Kukuh: Sangat berpengaruh. Terhadap Persija, kebencian dan rivalitas menaikkan gengsi dari segi prestasi, juga kreativitas cara mendukung.

(Seharusnya) tidak ada kebencian untuk membunuh. Kalaupun harus berantem, ya udah berantem aja. Ketika lawan sudah jatuh, ya udah kita menang. Nggak usah dipukulin sampai mati.

Video

Eko Maung: Suporter yang dendam, dan eksistensi dengan berbagai motif itu tidak bisa kita hilangkan secara sepihak langsung.

Tapi bisa kita redam dan kendalikan dengan keamanan yang bagus. Indonesia belum ke arah sana.

Ini terkait arus informasi. Dunia semakin global, arus informasi semakin banyak, begitu mudah kita serap. Sehingga ada budaya di luar sana seperti hooliganisme dan ultras.

Itu bisa diadopsi dalam proses identifikasi (diri). Hal-hal seperti itu dilakukan oleh anak-anak muda yang sedang mencari jati diri. Jadi budaya kekerasan yang tidak sepenuhnya bisa diaplikasikan di Indonesia, dia aplikasikan. Jadinya brutal.

Sebelum Haringga: Korban Persib vs Persija (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Lalu kenapa rivalitas jadi alasan untuk membunuh untuk beberapa orang?

Kukuh: Faktor edukasi mungkin kurang. Ketika benci terhadap klub lain, kebencian jadi berlebihan. Bahkan mereka nggak tau alasan membenci apa. Hanya ikut-ikut.

Pengaruh jadi chant (nyanyian) juga. Bahasa bunuh-membunuh sudah jadi budaya. Diaplikasikan dari kata-kata, akhirnya dalam otaknya, “Bunuh, bunuh”.

Jadi liar, edukasinya tidak ada. Entah pemahaman seperti apa, jadi ada budaya bunuh-membunuh. Saya juga miris.

Dulu–kalau dibandingin sama sekarang–mah lembek. Karakternya sangat beda. Kalau sekarang lebih panjat sosial. Nyari popularitas. Pure untuk mencintai Persibnya itu entah berapa persen.

Bobotoh di laga Persija vs Persib (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Apakah mungkin Bobotoh berdamai dengan The Jak?

Kukuh: Mungkin damai, tapi butuh proses. Dari akar rumput harus diubah pola pikirnya. Kalau yang (bersikap) dewasa, berpikirnya positif untuk meredam rivalitas yang sudah kebablasan, rivalitas di luar nalar, rivalitas yang memang rivalitas kosong.

Langkah-langkahnya seperti apa?

Yana Umar: Yang lebih efektif dari distrik, dari bawah. Tapi itu sama polisi dipertemukan juga (Bobotoh dengan The Jak). Itu nggak cuma sekali aja.

Yana Umar di Stadion Sidolig, Kota Bandung. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Apa saja kesulitan mengontrol akar rumput?

Yana Umar: Terlalu banyak. Kita tidak bisa mengontrol semuanya. Orang tidak semuanya pakai medsos dan baca berita. Orang tidak semua otaknya sama. Walau tahu di medsos ada perdamaian, jiwanya berontak, “Ah, kumaha aing.”

Kumaha aing” itu kalau sudah kejadian seperti ini, apalagi menyangkut saudaranya sendiri meninggal, baru dia akan sadar.

Bagaimana sebaiknya ke depannya?

Yana Umar: Kalau tetap minta kami harus disanksi, ya kita akan terus flashback masalah lagi ke belakang. Kecuali bersama-sama menerima, lalu bicara apalagi ke depannya, kan lebih baik. Jangan terus-terusan merasa tersakiti, lalu Bobotoh harus dilaknat.

Jangan menutup aib sendiri–menutup aib di saat dia lagi berduka, lupa kalau pernah bikin aib. Jangan melihat satu sisi karena ada yang meninggal sekarang, tapi tidak melihat kejadian belakang.

Berbenah dirilah PSSI dan timnya. Elemen-elemen suporter harus menjaga anggotanya supaya jangan mengulang lagi seperti ini.

Mau siapa pun itu, baik PSSI, Kemenpora, atau Kepolisian, biar tahu sepak bola yang benar. Kalau cuma ngelarang-larang, itu mah nggak jalan.

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Eko Maung: Solusi jangka panjang adalah kolaborasi dan kebijakan yang radikal revolusioner antara federasi, pemerintah, dan komunitas. Hasilnya barus bisa kita lihat mungkin puluhan tahun lagi.

Ada memang solusi implementatif, pragmatis, jangka pendek. Pertandingan antara Persib dan Persija tidak boleh disaksikan penonton. Setidaknya 2-3 tahun jangan pakai penonton. Nanti kita lihat lagi, kan ada evaluasi.

Suporter Persib Bandung. (Foto: Antara)

------------------------

Ikuti laporan mendalam Sepak Bola Tumbal di Liputan Khusus kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57