Pencarian populer

Bola Kasus Kerusuhan Partai Perdana Liga 1 Sudah di Komdis PSSI

Polisi mengamankan penonton saat terjadi kericuhan pendukung pada pertandingan PSS Sleman vs Arema. Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara

Pertandingan pembuka Liga 1 2019 antara PSS Sleman dan Arema FC di Stadion Maguwoharjo, Rabu (15/5/2019), sempat diwarnai kericuhan. Dua kelompok suporter saling lempar. Tak cuma botol, serpihan keramik juga menghujani tribune penonton. Beberapa korban luka pun berjatuhan sebagai buntut dari insiden tersebut.

Belakangan diketahui, musabab kerusuhan itu tak lain ialah saling ejek kedua belah suporter. Kerusuhan yang pecah pada menit ke-32 itu juga membuat wasit menghentikan laga. Pertandingan pun terhenti sekitar 55 menit.

Partai pembuka tersebut memang akhirnya bisa selesai digelar. Tuan rumah PSS berhasil menekuk Arema dengan skor 3-1.

Namun, bola masalah kerusuhan tak berhenti. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) memanggil PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator untuk menjelaskan duduk perkaranya. BOPI pun mengecam akan mencabut rekomendasi jika PT LIB tak bisa menjamin keamanan di laga-laga berikutnya.

Selebrasi gol Silvano Comvalus ke gawang PSS Sleman. Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pras.

Usai di BOPI, kini masalah bergulir ke Komite Disiplin (Komdis) PSSI. PT LIB mengaku telah memberikan kepada Komdis semua laporan terkait kericuhan di laga pembuka kompetisi itu.

“Jadi begini,kami meminta laporan dari pihak PSS, dalam hal ini panitia pelaksana (panpel). Lalu juga ada laporan dari Arema. Kalau perwakilan PT LIB itu ‘kan match commisioner. Kami juga menunggu laporan dari pihak kepolisian. Sudah kami serahkan ke BOPI," ujar Asep Saputra, Manajer Kompetisi PT LIB, ketika dihubungi kumparanBOLA.

"Ranah kami hanya memberikan laporan itu ke Komdis. Seperti apa dan bagaimana ke depannya, sekarang bolanya sudah di Komdis. Nota pelanggaran disiplinnya sudah di mereka,” lanjutnya.

Meski sudah berada di muara atau Komdis, PT LIB tak bisa langsung lepas tangan dalam melihat insiden tersebut. Sejatinya, kerusuhan seperti di laga pembuka liga ialah masalah klasik yang belum tuntas. Tekanan untuk melakukan edukasi secara serius, baik untuk suporter dan klub, pun mengalir deras kepada sang operator kompetisi.

“Kami tetap memonitor perkembangan. Tidak bisa dibilang selesai meski masalah ini sudah ada di Komdis. Kami tetap menjalin komunikasi dengan kedua klub. Bagiamana evaluasi dan antisipasi ke depan," jelas Asep.

"Sebelum kompetisi ‘kan kami mengundang security officer (SO) untuk lokakarya. Sekarang, karena kasus ini, ya, sifatnya lebih intens bertemu dengan SO,” kata Asep.

Nah, SO juga sebetulnya menjadi problem klise dari tahun ke tahun. Tak ada SO kompeten di setiap klub untuk memanajemen risiko dalam setiap pertandingan.

Asep mengamini kelemahan itu. Meski demikian, menurutnya PT LIB tengah ada di trek untuk memperbaiki standar keamanan melalui SO.

“Saya kira posisinya (SO) belum sempurna. Kami coba belajar dari pengalaman sebelumnya. Musim ini kami undang SO dan ketua panpel agar bisa bersama-sama berkomitmen kalau sekarang ada standar pengamanan dan penyelenggaraan yang lebih baik," jelas Asep.

"Jadi, lokakarya kemarin tak cuma berbagi pengetahuan. Dalam perjalanannya memang belum sempurna. Ini bagian yang perlu kami perbaiki,” ucap Asep.

Menilik rencana besar operator liga, koordinasi dengan PSSI mesti dilakukan. Seperti diketahui, federasi memiliki national security officer (NSO) yang bertugas melakukan supervisi terhadap SO lokal di setiap klub. NSO juga mesti memberikan standar agar SO tak lagi jabatan yang sekadar ada di klub.

Publik pastinya menanti perbaikan yang dilakukan PT LIB. Pencinta sepak bola Tanah Air tentu sudah jengah dengan segala macam bentuk kerusuhan di stadion.

Asep menjelaskan, pada musim ini PT LIB mengampanyekan rivalitas kreatif, bukan rivalitas kericuhan. Ia berharap, seiring berjalannya waktu suporter akan beradu kreativitas bukan lagi adu jotos dengan rivalnya.

“Logikanya, ada yang masuk ke stadion dengan menabung untuk beli tiket. Mereka datang untuk menonton. Kalau ini ada yang datang tiba-tiba ada buat rusuh, pastinya bukan berniat menonton. Kami perlu perubahan. Rivalitas tidak mungkin dihilangkan, tapi caranya saja diubah. Misalnya saja, adu kreatif dalam koreografi,” kata Asep.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60