kumparan
4 Jan 2018 19:23 WIB

Coutinho Bukan Satu-satunya Keputusan Keliru dari Madrid

Philippe Coutinho (Foto: Reuters/John Sibley)
Satu dekade lalu, Real Madrid punya kesempatan untuk memboyong salah satu dari dua bakat terbaik dari Brasil dengan hanya 2,5 juta euro yang sama-sama masih berusia 16 tahun.
ADVERTISEMENT
Pertama, seorang remaja bernama Alipio Duarte dan Rio Ave. Kedua, adalah gelandang yang kini membuat Barcelona tergila-gila, Philippe Coutinho. Saat itu Coutinho berseragam Vasco de Gama.
Namun, seperti yang kami beritakan sebelumnya, Madrid lebih memilih Alipio. Miguel Angel Portugal, yang saat itu menjadi direktur teknis Madrid, terpaksa menuruti perintah presiden Madrid saat itu, Ramon Calderon, yang lebih memilih Alipio. Padahal, Portugal sudah hampir mendapatkan Coutinho.
Hasilnya bisa dilihat: Alipio cuma numpang lewat di Madrid, sementara Coutinho kini jadi salah satu gelandang terbaik di Eropa. Yang tersisa akhirnya cuma pengandaian —seandainya Madrid mengambil Coutinho, seandainya Portugal dibiarkan mengikuti instingnya, dsb. dsb.
Namun, percayalah, Coutinho bukan satu-satunya pemain berbakat yang lepas dari genggaman Madrid —atau sengaja mereka lepas dengan berbagai alasan. Mereka punya sejarah panjang soal ini dan kami akan membuatkan daftar singkatnya.
ADVERTISEMENT
Samuel Eto’o
Samuel Eto’o adalah salah satu striker paling mematikan yang pernah merumput di La Liga. Sepanjang kariernya di Tanah Matador, ia lebih identik dengan Barcelona setelah sebelumnya memperkuat RCD Mallorca.
Namun, Mallorca bukanlah klub pertama Eto’o di Spanyol. Pada 1997, Eto’o bergabung dengan Madrid, tetapi kemudian dipinjamkan ke berbagai klub seperti Leganes, Espanyol, dan Mallorca. Pada 2000, ia dilepas secara permanen ke Mallorca dan pada 2004, ia bergabung dengan Barcelona.
Sisanya adalah sejarah, Eto’o mencetak 108 gol dalam 145 laga bersama Barcelona di La Liga dan memenangi delapan trofi dari berbagai ajang dalam kurun waktu lima musim.
Claude Makelele
Nah, kalau ini kasusnya sedikit berbeda. Makelele tidak seperti Coutinho ataupun Eto’o yang lepas dari genggaman Madrid ketika mereka masih muda. Dalam kasus Makelele, dia sudah menjadi bagian penting dari skuat Madrid.
ADVERTISEMENT
Karena kebijakan gila Florentino Perez, yang mendatangkan sederet pemain bintang pada era Galacticos, Makelele pun dilepas. Ia kemudian bergabung dengan Chelsea dan menjadi salah satu alasan kesuksesan era-era awal Jose Mourinho di Stamford Bridge.
Tanpa Makelele, Madrid kehilangan gelandang bertahan yang bisa menyeimbangkan tim. Usaha mereka untuk menambal kepergian Makelele dengan membeli pemain semisal Thomas Gravesen akhirnya malah jadi lelucon yang tidak lucu.
“Buat apa menambah lapisan cat emas di Bentley kalau kami kehilangan mesinnya?”
Ucapan itu dilontarkan Zinedine Zidane untuk menggambarkan kehilangan Makelele.
Claude Makelele sang legenda. (Foto: Twitter/Claude Makelele)
Juan Mata
Beruntunglah sekarang pemain-pemain akademi Madrid bisa dapat kesempatan untuk menembus tim utama. Tidak percaya? Lihat Lucas Vazquez, Achraf Hakimi, Nacho, ataupun Borja Mayoral. Ini tak lepas dari kebijakan Zinedine Zidane sendiri.
ADVERTISEMENT
Namun, dulu, ketika Madrid masih lebih mengutamakan pembelian pemain mahal, masuk ke dalam skuat utama susahnya minta ampun. Beberapa pemain akademi pun akhirnya hengkang dan malah bersinar di kesebelasan lain.
Juan Mata adalah salah satunya. Mengawali karier juniornya di Real Oviedo, ia kemudian pindah ke La Fabrica, akademi Madrid. Mata sempat bermain semusim di tim B Madrid, Real Madrid Castilla, sebelum akhirnya pindah ke Valencia pada 2007.
Di Valencia, namanya melejit hingga akhirnya dibeli oleh Chelsea, di mana ia sukses menjuarai Liga Champions, dan kini bermain untuk Manchester United, di mana trofi paling prestisius yang pernah ia raih adalah trofi Piala FA dan Liga Europa.
Juan Mata, solusi tepat United saat ini. (Foto: AFP/Oli Scarff)
Marcos Alonso
ADVERTISEMENT
Marcos Alonso pernah menimba ilmu di akademi Madrid. Ia kemudian menembus Real Madrid Castilla, lalu tim inti Madrid. Namun, hanya satu kali ia bermain di tim utama Los Blancos.
Alonso kemudian berkelana dari mulai bermain untuk Bolton Wanderers, Sunderland, hingga Fiorentina. Di Fiorentina-lah ia menemukan permainan terbaiknya. Berkat performa apiknya, Antonio Conte, yang waktu itu menangani Juventus, sudah tertarik.
Begitu Conte pindah untuk menangani Chelsea, Alonso pun digaet. Hasilnya? Alonso kini menjadi salah satu andalan The Blues. Pergerakannya dari sisi kiri sebagai wing-back adalah salah satu alasan mengapa mereka bisa menjadi juara Premier League musim 2016/2017.
Selebrasi Marcos Alonso. (Foto: Reuters/Toby Melville)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan