kumparan
24 Jul 2018 15:54 WIB

Dari Karibia ke Manchester United: Inilah Tahith Chong

Tahith Chong di laga persahabatan antara Manchester United dan Club America. (Foto: Getty Images/Christian Petersen)
Antusiasme masih jadi musuh besar Manchester United pada masa persiapan jelang musim kompetisi 2018/19 bergulir. Pada dua pertandingan pramusim, masing-masing menghadapi Club America dan San Jose Earthquakes, stadion tempat mereka bertanding sepi penonton.
ADVERTISEMENT
Publik Amerika Serikat tentu tidak bisa disalahkan. Bahkan, siapa pun (rasanya) bakal berpikir dua kali untuk menyaksikan pertandingan United di bawah asuhan Jose Mourinho.
Dengan penampilan yang begitu membosankan, tak sekali dua kali penonton yang datang ke Old Trafford musim lalu sampai tertidur pulas. Di masa pramusim, saat penampil-penampil terbaik United belum kembali dari masa rehat, bisa dibayangkan bagaimana menyebalkannya penampilan 'Iblis Merah', dan ini terbukti lewat hasil imbang yang mereka raih pada dua pertandingan tersebut.
Namun, alangkah meruginya mereka yang melewatkan pertandingan-pertandingan United itu. Sebab, dengan demikian mereka berarti telah melewatkan debut seorang pemain muda istimewa yang mencuat dari akademi United sendiri. Nama pemain itu Tahith Chong.
***
Laga antara United dan Club America telah berusia satu jam ketika Mourinho menyadari bahwa timnya mengalami kebuntuan. Keputusan pun diambil. Chong diminta untuk menggantikan pemain junior lain, Demetri Mithcell, yang gagal tampil optimal.
ADVERTISEMENT
Saat itu, United berada dalam situasi tertinggal satu gol. Tak sampai dua menit sebelumnya, mereka kebobolan lewat sundulan cantik Henry Martin yang tak mampu digapai kiper Joel Perreira. Chong, di usianya yang baru menginjak angka 18, diharapkan bisa menjadi pembeda.
Dan benar saja. Dua puluh menit berada di lapangan, Chong menunjukkan potensi besarnya. Umpan silangnya ke tiang jauh berhasil menjadi pemicu terciptanya gol balasan United. Memang, umpan itu tidak bisa langsung dikonversi menjadi gol karena sundulan Ander Herrera masih membentur tiang. Namun, setelah itu bola muntah berhasil disambar Juan Manuel Mata menjadi gol.
Dari situ, nama Chong pun jadi perbincangan di mana-mana. Selepas laga, Mourinho tak ragu memberikan pujian kepada Chong. Menurut manajer asal Portugal itu, Chong sudah bermain dengan baik.
ADVERTISEMENT
"Dia masuk ke lapangan dengan satu tujuan, dia paham apa yang harus dilakukannya. Di laga ini, kami bermain seperti tanpa penyerang. Martial menjadi satu-satunya dan ia pun harus digantikan. Jadi, kami membutuhkan sosok untuk mengkreasikan serangan, yang memiliki inisiatif, dan Chong membuktikan bahwa ia bisa menjadi sosok tersebut. Umpan yang dia kirimkan itu begitu indah. Dia sangat antusias dan punya kepercayaan diri saat bertanding," ujar Mourinho saat itu.
Meski punya postur yang menjulang sampai 185 cm, Chong adalah pemain yang cepat dan lincah. Kaki-kakinya begitu lentur dan itu dia gunakan dengan baik sekali untuk menggocek lawan-lawannya. Setidaknya, itulah yang selama ini dia tunjukkan bersama tim junior Manchester United.
ADVERTISEMENT
Chong datang ke United pada 2016 dari Feyenoord. Kendati lahir dan besar di Willemsted, Belanda, pemain satu ini punya darah Karibia yang kental. Kedua orang tuanya berasal dari sebuah pulau kecil di Hindia Barat yang bernama Curacao. Sebelum Chong, pulau ini sudah pernah menghasilkan pemain-pemain seperti Riechedly Bazoer, Cuco Martina, serta Jetro Willems.
Sejak datang ke akademi United, Chong langsung mampu menarik perhatian manajer U-18, Kieran McKenna. Menurut mantan staf kepelatihan Tottenham Hotspur itu, Chong adalah sosok dengan profesionalisme tinggi. Dari awal bergabung sampai sekarang, satu hal yang tak pernah berhenti dilakukan Chong adalah berlatih.
Tak cuma itu, McKenna juga menjelaskan bahwa Chong punya kepribadian yang menyenangkan. Dia ramah terhadap siapa saja, baik sesama pemain maupun staf. Dua hal itu, menurut McKenna, bakal memudahkan langkah Chong ke depannya.
ADVERTISEMENT
Chong sendiri merupakan pemain kidal. Awalnya, dia pun dimainkan sebagai penyerang sayap kiri. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Chong dipindahkan ke sayap kanan untuk memaksimalkan potensinya dalam melakukan tusukan-tusukan atau mengirim umpan-umpan berbahaya seperti yang dia buat pada pertandingan menghadapi Club America.
Penampilan Chong sebagai penyerang sayap kanan ini pada akhirnya membawa pemain kelahiran 4 Desember 1999 itu ke level yang lebih tinggi. Pada Januari 2018, pemain berambut afro ini sudah dipercaya untuk mengikuti latihan tim U-23. Bahkan, dia juga sesekali diajak untuk berlatih bersama penggawa-penggawa senior.
Pencapaian itu, bagi seorang remaja sepertinya, jelas bisa dibilang hebat. Apalagi, pada musim 2016/17 lalu, Chong sempat menderita cedera anterior cruciate ligament (ACL) yang memaksanya absen cukup lama. Namun, profesionalitas yang ditunjukkan oleh Chong membuat dirinya mampu kembali bangkit setelah sembuh. Sampai akhirnya, kini dia diikutsertakan dalam tur pramusim United jelang musim 2018/19.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, besarnya potensi Chong ini tentu bukan tanpa cela. Di antara kelebihan-kelebihan yang dia miliki, ada dua kekurangan utama. Menurut Mourinho, fisik Chong masih belum terbentuk sepenuhnya. Sementara, McKenna berkata bahwa Pemain Muda Terbaik Manchester United 2018 itu masih harus meningkatkan kemampuan dalam memberi end product baik dalam bentuk assist maupun gol.
Meski demikian, jikalau ada kekurangan-kekurangan seperti itu, rasanya wajar saja. Toh, usia Chong memang masih amat belia. Saat ini, Chong masih punya segalanya. Dia punya potensi, waktu, dan lingkungan yang suportif. Dengan itu, rasanya takkan mengejutkan jika nanti pemain Tim Nasional Belanda U-19 itu bisa jadi salah satu yang terbaik di dunia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan