kumparan
14 Sep 2018 17:10 WIB

Di Balik Mandulnya para Bomber Kenamaan Serie A

Icardi belum setajam musim lalu. (Foto: AFP/Vincenzo Pinto)
Tiga giornata sudah berjalan di Liga Italia Serie A, tetapi pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo belum kunjung mampu mencetak gol. Mantan rekan setim Ronaldo di Real Madrid, Raul Albiol, menyebut bahwa kesulitan pemain asal Portugal itu disebabkan oleh sifat dari Serie A sendiri yang lebih defensif.
ADVERTISEMENT
"Betul sekali bahwa sepak bola Italia lebih taktikal dan bertahan. Selain itu, mereka juga sangat menonjolkan aspek fisikal. Jadi, Anda harus tahu bagaimana caranya untuk bermain," kata Albiol dilansir Diario AS. "Ronaldo adalah pemain yang hebat dengan kualitas yang luar biasa, tapi ia akan kesulitan untuk mencetak 40 gol di Italia."
Albiol ada benarnya. Sebab, Ronaldo bukan satu-satunya pemain berprofil besar yang sampai saat ini masih kesulitan mencetak gol di Serie A. Bahkan, pemain-pemain yang begitu tajam musim lalu pun hingga kini masih mejan.
Ciro Immobile, Paulo Dybala, Fabio Quagliarella, Mauro Icardi, Edin Dzeko, dan Gonzalo Higuain musim lalu mengawali kompetisi dengan ciamik. Dari enam pemain tersebut, ada 23 gol yang tercipta hanya dari tiga pertandingan. Musim ini, situasinya tidak sama. Sebab, dari kaki dan kepala mereka baru lahir tiga gol dari tiga pekan.
ADVERTISEMENT
Trio Argentina, Higuain, Dybala, dan Icardi jadi yang paling parah karena belum mencetak satu gol pun. Padahal, musim lalu Higuain sudah punya koleksi dua gol saat Serie A sudah berjalan tiga pekan. Dybala dan Icardi malah sanggup melesakkan masing-masing lima gol dari tiga partai awal.
Sementara itu, Immobile, Quagliarella, serta Dzeko masing-masing baru mencetak satu gol pada musim ini. Di musim lalu, Immobile dan Quagliarella sanggup mengukir empat gol dari tiga giornata, sementara Dzeko tiga gol. Artinya, sekali lagi, Ronaldo tidak sendiri.
Penyebab mandulnya para striker jempolan itu memang bermacam-macam. Higuain dan Quagliarella, misalnya, baru bermain dalam dua pertandingan yang berarti, kesempatan mereka tidaklah sebanyak pemain-pemain lain. Satu gol dari dua pertandingan untuk Quagliarella sejatinya bukan catatan buruk. Apalagi, gol yang dicetaknya ke gawang Napoli itu begitu indah dan didampingi oleh dua assist.
ADVERTISEMENT
Higuain setali tiga uang. Jebolan akademi River Plate itu sebenarnya sudah berusaha keras, terbukti dari rata-rata tembakan per laganya (3,5) yang sudah lebih tinggi ketimbang musim lalu (2,9). Plus, pemain 30 tahun ini sudah menyumbang satu assist. Jadi, sebenarnya performanya juga tidak buruk.
Bukan cuma Higuain dan Quagliarella yang menit bermainnya belum penuh. Dybala dan Icardi pun demikian. Bedanya, Dybala dan Icardi tidak bermain selama 270 menit karena dibangkucadangkan. Icardi disimpan kala Inter menang 3-0 atas Bologna di pekan ketiga lalu. Meski begitu, kapten La Beneamata itu sudah mencatatkan satu assist sebagai pelipur lara.
Dybala, sementara itu, masih berada dalam situasi sulit. Sebab, dirinya sudah dua kali dicadangkan dan dari dua kesempatan itu, dia cuma masuk sekali sebagai pengganti. Itu pun hanya sepuluh menit. Keinginan Massimiliano Allegri untuk segera membuka keran gol Ronaldo membuat Dybala untuk sementara dikorbankan dan hasilnya, tak ada satu gol pun serta assist yang berhasil dia kemas.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana dengan Immobile dan Dzeko? Dua pemain ini sama-sama sudah bermain dalam tiga pertandingan dan gol yang mereka cetak baru satu. Akan tetapi, performa Dzeko boleh dibilang jauh lebih bagus ketimbang Immobile. Dzeko, selain sudah mencetak satu gol, juga sudah mencatatkan satu assist. Selain itu, jumlah sepakan ke gawangnya juga cukup tinggi, yakni 5,7 per laga. Catatan itu adalah yang tertinggi kedua setelah Ronaldo (7,75).
Sementara, Immobile terpengaruh oleh belum maksimalnya penampilan Lazio secara keseluruhan. Pada pertandingan pertama melawan Napoli, dia mampu mencetak gol indah dengan mengecoh empat pemain belakang lawan sekaligus. Namun, pada laga menghadapi Juventus dirinya tak berkutik, pun begitu dengan ketika Lazio susah payah mengalahkan Frosinone dalam Derbi Lazio di pekan ketiga.
ADVERTISEMENT
Nah, jika para jagoan musim lalu itu belum bisa banyak berbicara, sampai sejauh ini sudah ada dua nama kejutan di klasemen marcatori Serie A. Sementara ini, pencetak gol terbanyak Serie A adalah Marco Benassi dan Krzysztof Piątek yang masing-masing sudah mencetak tiga gol. Benassi sendiri adalah seorang gelandang, sementara Piątek adalah debutan berusia 23 tahun.
Akankah kejutan Benassi dan Piątek itu berlanjut? Hmm, belum tentu. Sebab, Serie A sebenarnya tidaklah terlalu sulit ditebak. Dari musim ke musim, para penghuni teratas klasemen marcatori nyaris tak pernah berubah.
Oleh karena itu, hanya tinggal tunggu waktu sampai Immobile, Icardi, Dybala, Quagliarella, Higuain, dan Dzeko kembali bertarung di puncak untuk berebut titel capocannoniere. Oh, dan tentu saja, jangan lupakan Ronaldo.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan