Pencarian populer

Di Ujung Piala Dunia 2006, Zidane Menggila dan Menanduk

Zidane dikartu merah di final Piala Dunia 2006. (Foto: ROBERTO SCHMIDT / AFP)

Ketika Piala Dunia 2006 berjalan mendekati puncaknya, Zinedine Zidane mengamuk dan berubah wujud menjadi banteng yang terluka.

Zidane pikir Euro 2004 bakal menjadi turnamen terakhirnya bersama Timnas Prancis. Ia terlanjur undur diri, menggantung sepatu di tiang pancang perjalanan kariernya.

Namun, Prancis punya masalah. Mereka membutuhkan sosok yang bisa memimpin pebola-pebola tua dan orang-orang kulit hitam yang berkali-kali menerima cercaan. Raymond Domenech memanggil Zidane untuk mangkir sejenak dari janji yang sudah ia buat.

Dalam ranah kompetisi, sepak bola berubah wujud dari permainan menjadi pertandingan. Bila sepak bola sebagai permainan hanya meminta kesenangan, maka sepak bola sebagai pertandingan menuntut kemenangan. Semenyenangkan apa pun sepak bola sebagai permainan, ia ibarat usia yang akan mungkin memuda, sepak bola tak akan kembali ke arah sana.

Kesadaran demikianlah yang dibawa Italia di sepanjang perhelatan. Tak peduli permainan cantik, Italia memilih untuk bermain dengan memasang pertahanan gerendel. Cara yang ‘kotor’, tapi cerdik bukan main.

Terbukti, sebelum mencapai final, gawang Italia hanya kebobolan satu kali. Itu pun karena gol bunuh diri Cristian Zaccardo di pertandingan babak grup melawan Amerika Serikat.

Prancis tampil anggun di bawah komando seorang tua macam Zidane. Pemain asal Argentina yang memutuskan untuk membela Timnas Spanyol, Mariano Pernia, bahkan berkata, “Angin (Pernia menggambarkan Zidane sebagai angin -red), itu telah renta, tapi ia tetap bertiup.”

Pernia tak asal bicara, karena Zidane tetap bertanding dengan gigih di setiap pertandingan. Laga melawan Spanyol di babak 16 besar pada akhirnya membuat orang-orang mengamini ucapan Roberto Carlos soal Zidane. Katanya, mereka yang menganggap Zidane terlalu tua untuk bertanding tak lebih dari sekumpulan orang yang tak tahu apa-apa soal sepak bola.

Kemenangan 3-1 Prancis atas Spanyol membungkam Raul Gonzales yang sesumbar sebelum laga. Ia bilang kepada orang-orang, laga melawan Spanyol bakal menjadi pertandingan terakhir Zidane bersama Timnas Prancis.

Di babak perempat final, Zidane memimpin Prancis mengobrak-abrik pertahanan Brasil. Di semifinal melawan Portugal, Zidane membuktikan bahwa seorang tua sepertinya juga tak akan kalah dalam pertarungan satu lawan satu ala tendangan penalti.

Dalam tulisannya yang berjudul 'The World Cup of Zidane', Eduardo Galeano berkata, Piala Dunia 2006 ingin menghidangkan kesegaran lewat keputusannya untuk menggandeng Coca-Cola sebagai sponsor. Cukuplah segala macam isu miring yang melekat pada gelaran-gelaran sebelumnya.

Kali ini, harus segar dan bersih dari segala omongan tak sedap. Itulah sebabnya, Piala Dunia 2006 menyuarakan seruan yang menolak rasialisme karena semua orang punya hak yang sama seperti apa pun masa lalunya.

Meminang Master Card sebagai penopang, Piala Dunia 2006 bertekad menjamin kemakmuran siapa pun yang ikut bertanding di dalamnya. Dunia tak perlu lagi diributkan dengan isu gelaran pesta sepak bola sejagat yang mengabaikan hak-hak manusia. Semua orang, dari mana pun ia berasal, pantas hidup makmur.

Zidane di Piala Dunia 2006. (Foto: PATRIK STOLLARZ / AFP)

Namun, slogan jadi wacana, tekad jadi omong kosong. Lilian Thuram buka suara. Ia tak terima dengan olok-olok Perdana Menteri Prancis saat itu, Jean-Marie Le Pen, yang sehari sebelum Piala Dunia dimulai mengatakan, Prancis tidak terlihat seperti tim yang dikenalnya karena dipenuhi oleh orang-orang kulit hitam.

Bila Zidane membungkam sesumbar Raul dengan kemenangan 3-1 Prancis atas Spanyol, maka Le Pen didiamkannya dengan mengantarkan Prancis ke partai final melawan Italia.

Di setiap laga, Zidane mengendalikan ritme tim dan tempo permainan. Ia paham kapan harus menahan bola demi memberi ruang dan waktu yang cukup kepada teman-temannya untuk naik, kapan mengalirkan bola dengan cepat untuk mencuri kesempatan saat lawan sedang ringkih-ringkihnya.

Setidaknya sampai babak pertama, segala sesuatunya tampak baik-baik saja buat Zidane. Pada menit ketujuh, ia berhasil mencetak gol dari titik penalti yang membidani keunggulan pertama Prancis.

Di menit 19, Italia memang membalas lewat gol Marco Materazzi. Namun, gol balasan itu bukan masalah yang besar-besar amat. Zidane tak mati kutu walau dipersulit tembok pertahanan Italia. Babak kedua berakhir tanpa gol, pertandingan harus berlanjut ke babak tambahan yang melelahkan.

Laga di Berlin ini akan menjadi yang terakhir buat Zidane, maka ia bertekad untuk mengakhirinya dengan hebat. Sepak bola adalah kehidupan para pelakonnya, sehingga keputusan pensiun sama dengan menjemput ajal. Zidane ingin menjemput kematian dengan seindah-indahnya, lantas ia tetap turun gelanggang walau pertandingan berlangsung lebih dari 90 menit.

Di menit 110, Zidane beralih rupa menjadi banteng yang mengamuk. Tadinya, ia dipandang sebagai kapten yang anggun, kondaktur pertandingan yang pada akhirnya membuat para suporter membentangkan spanduk The Old France is Magic di tribune stadion.

Tandukan Zidane kepada Materazzi. (Foto: JOHN MACDOUGALL / FILES / AFP)

Zidane menghantam Materazzi, menjatuhkannya dengan sekali tandukan ke arah dada. Tak ada jabat tangan, Zidane melengos dan membiarkan Materazzi mengerang menanggung akibat.

Wasit berang dan melemparkan Zidane ke liang cemooh panjang. Seharusnya Zidane menerima tepuk tangan, seharusnya ia meninggalkan stadion di akhir laga, lewat pintu gerbang utama.

Zidane keluar dari lapangan saat pertandingan masih berlangsung. Ia berjalan menuju lorong kamar ganti sendirian, enggan melirik kepada trofi juara yang sudah dipajang sejak awal laga.

Satu dua menit digunakannya untuk menghitung kembali seberapa banyak waktu yang ia habiskan untuk menginginkan trofi emas itu sebagai penutup jalan kariernya. Kematian (karier) yang indah itu tak pernah menjadi mimpi yang kesampaian untuk Zidane.

Dalam wawancara setelahnya, Zidane berkata bahwa Materazzi mengolok-olok ibu dan saudara perempuannya. Zidane pantas murka karena itu bukan satu-satunya olok-olok yang diterimanya selama turnamen.

Sebelum mereka turun arena, anggota Senat Italia, Roberto Calderoli, meneruskan omongan Le Pen soal Timnas Prancis. Katanya, Prancis terdiri atas orang-orang Negro, Islam fanatik, dan golongan komunis.

Zidane muntab. Ia muak memeram segala laku curang di sepanjang gelaran yang muncul lewat aksi-aksi diving. Ia jengah dengan segala hinaan yang mewujud dalam tekel-tekel tak perlu.

Zidane adalah anak imigran Aljazair. Seorang Muslim yang menghabiskan masa kecilnya di lingkungan kumuh Marseille. Suka atau tidak suka, menerima atau menyangkal, Zidane memang sudah terbiasa bertahan hidup sejak kanak. Barangkali, tandukan Zidane kepada Materazzi menjadi cara terakhirnya untuk bertahan hidup sebagai pesepak bola.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: