Pencarian populer

Drake Adalah Sosok Berbahaya yang Tak Boleh Dibiarkan Merusak Olahraga

Bukti bahwa Kutukan Drake itu memang ada di sepak bola. Foto: Composite/Twitter & Instagram

Menjadi penggemar olahraga itu bukan perkara main-main, Bung dan Nona. Dengan mendukung sebuah tim atau seorang atlet, kalian berarti telah menyerahkan kebahagiaan ke tangan orang lain. Ketidakpastian adalah kawan karib bagi para penggemar olahraga karena kalah dan menang adalah fitrah yang tidak bisa diganggu gugat.

Walau demikian, dalam ketidakpastian itu tentunya ada harapan. Namanya saja ketidakpastian, pasti segalanya bisa terjadi, bukan? Lihat saja bagaimana Leicester City bisa menjadi juara Premier League. Walau kecil, harapan itu akan selalu ada.

Tetapi, coba sekarang kalian bayangkan. Pejamkan mata kalian dan bayangkan seandainya ketidakpastian tadi lenyap. Bayangkan jika harapan tadi menguap begitu saja. Bayangkan jika tim atau atlet pujaan kalian bisa dipastikan bakal kalah hanya karena ulah seseorang yang sebenarnya tidak punya urusan di dunia olahraga. Bayangkan, karena di olahraga, hal seperti ini sedang mewabah, khususnya di sepak bola.

Wabah ini sebenarnya bermula dari Amerika Serikat. Namun, lambat laun ia menyebar ke Eropa. Nama wabah ini adalah Kutukan Drake.

Drake si Pembawa Kutukan. Foto: REUTERS/Mike Blake

Siapa itu Drake? Well, kalau kalian tidak tahu siapa Drake, ketik saja namanya di mesin pencari. Di sana kalian akan tahu bahwa dia adalah seorang rapper berkebangsaan Kanada. Sebelum jadi rapper, dia adalah artis cilik yang bernaung di bawah panji Disney Channel. Kini, sebagai rapper, dia adalah salah satu yang paling dikenal dan dihormati di dunia.

Karena pamornya yang demikian besar itu, Drake mampu menarik minat para olahragawan. Siapa, sih, yang enggak mau profilnya terangkat karena dekat dengan Drake? Lagipula, dunia olahraga saat ini juga sudah masuk ranah hiburan. Artinya, atlet pun masuk hitungan pesohor dan menjadi kawan Drake tak ubahnya tiket menuju kemasyhuran yang lebih besar.

Celakanya, yang tak banyak atlet sadar, ketika sudah dekat dengan Drake, apalagi sampai bisa mengajak foto bareng, artinya mereka sudah seperti bersekutu dengan iblis. Ya, mereka memang jadi lebih terkenal, tetapi harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Sebab, hampir semua atlet yang berfoto bersama Drake bakal menjadi pecundang di pertandingan setelahnya.

Layvin Kurzawa, bek Paris Saint-Germain, adalah korban terbaru Kutukan Drake ini. Sebelum laga penentuan gelar juara Ligue 1 melawan Lille, Kurzawa berfoto dengan rapper bernama asli Aubrey Drake Graham tersebut. Hasilnya? Hahahahaha, PSG kalah 1-5!

Itu adalah kekalahan terburuk Les Parisiens sejak tahun 2000 dan dengan demikian pesta juara mereka pun (kembali) tertunda.

Loading Instagram...

Sebenarnya, Kutukan Drake ini tak cuma berlaku untuk atlet, tetapi juga tim olahraga secara keseluruhan. Malah, kutukan ini awalnya muncul karena dukungan Drake terhadap tim tertentu yang akhirnya berbuah kesialan bagi mereka. Karena dukungan pembawa petaka inilah Kutukan Drake pertama kali dikenal di Amerika Serikat.

Kentucky Basketball dan Toronto Raptors adalah dua korban Drake pertama yang paling masyhur. Sejak Drake kedapatan mengenakan hoodie Kentucky Basketball pada 2012, tim basket NCAA itu tak pernah lagi mendapatkan titel. Raptors pun begitu. Walau sudah berulang kali masuk play-off, mereka tak kunjung mampu menembus babak final hanya karena Drake menonton laga mereka. Duh!

Setelah itu, Kutukan Drake sampai juga kepada seorang Conor McGregor. Kalian ingat ketika McGregor dipaksa menyerah oleh Khabib Nurmagomedov? Jangan salah. Ketika itu McGregor tidak kalah karena mulut besarnya atau karena Khabib lebih hebat. Petarung Irlandia itu kalah karena hanya beberapa hari sebelum bertanding melawan Khabib, dia berfoto dengan Drake!

Tak puas sampai di sana, Drake kemudian menyebarkan kutukan itu ke dunia sepak bola. Sebelum Kurzawa, dua pebola yang jadi korban adalah Pierre-Emerick Aubameyang dan Wilfried Zaha. Arsenal kalah 0-1 dari Everton setelah Aubemeyang berfoto dengan Drake. Kemudian, untuk Zaha, setelah dia berpose bersama sang rapper, Crystal Palace dihajar Manchester City 1-3 (meski harus diakui bahwa tanpa Drake pun Palace bakal kalah dari City).

Satu, dua, tiga kasus mungkin bisa dianggap sebagai kebetulan. Tetapi, bagaimana kalau kasusnya sampai lima seperti ini? Kata Johan Cruijff suatu kali, kebetulan sebenarnya merupakan sesuatu yang logis. Dengan kata lain, Drake benar-benar membawa kutukan. Oleh sebab itu, tindakan preventif pun kini sudah diambil oleh Associazione Sportiva Roma.

Saat ini Roma sedang berjuang menembus zona Liga Champions. Mereka duduk di urutan lima Serie A dan cuma tertinggal satu angka dari Milan yang ada di peringkat empat. Di sisa laga yang ada, Roma tentunya tak boleh terpeleset. Maka dari itu, menghadapi sisa musim, Roma pun 'secara resmi' mengumumkan larangan bagi para pemainnya untuk berfoto dengan Drake.

"Semua pemain Roma dilarang berfoto dengan Drake sampai akhir musim," begitulah tulis Roma dalam akun resminya yang berbahasa Inggris.

Jujur saja, langkah Roma ini sangatlah layak dipuji. Drake adalah sosok berbahaya yang sudah merugikan banyak atlet dan merenggut kebahagiaan para fansnya dengan begitu keji. Sebaiknya, semua tim olahraga meniru langkah Roma ini. Drake harus dihentikan dan, kalau kita diam saja, anak cucu kita yang akan jadi korban berikutnya.

Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23