kumparan
26 Mar 2019 10:01 WIB

Dua Rupa Olivier Giroud

Giroud merayakan gol ke gawang Islandia. Foto: AFP/Franck Fife
Seragam Chelsea dan Timnas Prancis boleh saja sama-sama berwarna biru, tetapi bagi Olivier Giroud, dua seragam itu membawa dua peruntungan berbeda. Dengan seragam biru Chelsea, Giroud harus puas menjadi pilihan kedua pelatih Maurizio Sarri. Sementara, dengan seragam biru Prancis, pemain 32 tahun itu menjelma jadi predator buas di depan gawang lawan.
ADVERTISEMENT
Dua laga pertama Kualifikasi Piala Eropa 2020 telah dilalui oleh Prancis dan dua kemenangan pula sudah mereka dapatkan, masing-masing atas Moldova dan Islandia. Menghadapi Moldova, Sabtu (23/3/2019) dini hari WIB, Prancis menang 4-1. Sementara, laga melawan Islandia, Selasa (26/3) dini hari WIB, diakhiri dengan kemenangan 4-0.
Ada empat konstanta dalam dua kemenangan Les Bleus itu dan keberhasilan Giroud mencetak gol jadi salah satunya. Tiga konstanta lain adalah keberhasilan Antoine Griezmann, keberhasilan Kylian Mbappe, dan keberhasilan seorang bek tengah (Raphael Varane di laga vs Moldova, Samuel Umtiti di laga vs Islandia) membobol gawang lawan.
Antoine Griezmann (kiri) dan Benjamin Pavard (kanan) merayakan gol bersama Olivier Giroud. Foto: AFP/Franck Fife
Giroud sendiri, seperti halnya empat pencetak gol lain itu, selalu menjadi starter dalam tim asuhan Didier Deschamps yang bermain dalam pakem dasar 4-2-3-1. Minus Lucas Hernandez yang tempatnya digantikan oleh Layvin Kurzawa, tim inti yang diturunkan Deschamps di Kualifikasi Piala Eropa kali ini sama persis dengan tim inti yang mengantarkan Prancis jadi juara dunia tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Di Piala Dunia 2018 silam, meski bermain dalam 7 laga selama 546 menit, Giroud gagal mencetak sebiji gol pun. Namun, keberadaannya di tim sangatlah diperlukan untuk menarik perhatian bek lawan sehingga pemain-pemain macam Griezmann, Mbappe, bahkan Paul Pogba bisa mencetak gol. Kelebihan itulah yang kali ini tetap dioptimalkan oleh Deschamps dan kepercayaan sang pelatih dibayar lunas oleh mantan topskorer Ligue 1 tersebut.
Jika di Timnas Prancis Giroud selalu mendapat kepercayaan, tidak demikian halnya dengan di Chelsea. Musim ini eks pemain Arsenal tersebut baru tampil 6 kali sebagai starter di Premier League dan mencetak 1 gol. Pemain bertinggi 192 cm itu lebih kerap dimainkan Sarri di ajang Liga Europa, di mana dirinya mampu menorehkan 9 gol dan 2 assist dari 9 pertandingan.
ADVERTISEMENT
Beruntung bagi Deschamps karena dia tetap mampu melihat potensi Giroud. Mantan pemain dan pelatih Juventus ini pun memuji kontribusi penyerang andalannya tersebut.
Deschamps memberi salam pada suporter Prancis usai pertandingan melawan Islandia. Foto: Reuters/Charles Platiau
"Dari sudut pandang pribadi, aku yakin ini akan menjadi sumber kebanggaan besar baginya. Dia datang dengan kondisi jarang bermain untuk klubnya, bahkan ketika dia menunjukkan efisiensi super di Liga Europa. Bersama kami, dia bisa mencetak dua gol dalam dua pertandingan. Dia bermain dengan gayanya sendiri dan itu menguntungkan kami," kata Deschamps seperti ditulis Reuters.
Di kesempatan terpisah, pelatih Islandia Erik Hamren juga menyanjung penampilan Giroud. "Kami tahu bahwa dengan gaya bermain seperti itu, dia adalah pemain penting untuk mereka. Kalian bisa lihat hari ini bagaimana mereka menggunakannya. Dia adalah pemain bagus untuk Prancis jika dia terus digunakan seperti itu," puji pria Swedia tersebut.
ADVERTISEMENT
Dua pertandingan Kualifikasi Piala Eropa 2020 ini membuktikan bahwa Giroud adalah pemain berkualitas. Dia hanya perlu kesempatan untuk membuktikan diri. Itulah mengapa, dengan kontrak bersama The Blues yang akan habis pada akhir musim 2018/19 ini, Giroud bertekad untuk mencari klub yang sudi memberinya kepercayaan lebih besar.
"Musim panasku nanti bisa jadi sangat sibuk. Aku tidak takut untuk turun satu level untuk mendapatkan menit bermain lebih. Mungkin saja aku akan mengakhiri karier di Prancis," ujar Giroud kepada stasiun radio RTL, 21 Maret 2019 lalu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan