kumparan
20 Jan 2019 11:28 WIB

Edy Rahmayadi Merasa Gagal karena Pengaturan Skor

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyampaikan pidatonya didampingi Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Edy Rahmayadi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Keputusan itu disampaikan dalam Kongres PSSI di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019).
ADVERTISEMENT
Dengan begitu, berakhir pula masa kepemimpinan Edy yang berlangsung sejak November 2016. Turut dirasakan oleh Edy sejumlah poin kegagalan dalam dua tahun lebih dirinya menjabat sebagai Ketum PSSI, salah duanya menyoal pengaturan skor yang marak belakangan dan kematian suporter yang meningkat di periodenya..
"Gagal, dilarang atur skor, terjadi atur skor. Ada perkelahian (saat kompetisi), itu 'kan gagal berarti saya. Mudah-mudahan wartawan membantu PSSI lebih baik," kata Edy seusai pidato pengunduran dirinya.
Skema pengaturan skor (match fixing) di sepak bola Indonesia. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)
Tidak cuma kegagalan yang mendorong Edy untuk mundur. Dia juga kesulitan membagi waktu karena dalam beberapa bulan terakhir menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Faktor ini pula yang sempat dikeluhkan publik sehingga menyarankan Edy agar memilih salah satu kursi saja.
ADVERTISEMENT
Ya, selepas menjadi Gubernur Sumut, Edy memang tak lagi berdomisili di Jakarta. Padahal, urusan sepak bola Tanah Air lebih banyak berkutat di Ibu Kota. "Waktu saya yang mungkin sangat terbatas," ucapnya.
Menyoal pengunduran dirinya, Edy mengaku sudah berpikir secara matang dan bahkan meminta izin kepada para anggota. Dia meminta Wakil Ketua Umum Joko Driyono untuk mengumpulkan mereka pada Sabtu (19/1). Dari 15-20 anggota yang memenuhi undangan Edy.
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyerahkan bendera organisasi sepak bola Indonesia kepada Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono seusai menyatakan pengunduran diri dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Terlihat di situ bahwa Edy sulit mengontrol para anggotanya lagi, tetapi dia membantah bahwa hal tersebut sebagai alasan dirinya mengundurkan diri. Ini semua murni keputusannya, bukan karena menyoal potensi mosi tidak percaya dalam kongres.
"Tidak ada tekanan. Dengan seperti ini, insyaAllah PSSI bersih dan akan mudah( berkompetisi). Rakyat indonesia mendoakan menjadi PSSI yang jaya," ujar Edy Rahmayadi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan