Pencarian populer

Frank Lampard, si Spesialis Kegagalan di Piala Super Eropa

Frank Lampard bersua Juergen Klopp pada laga Piala Super Eropa antara Liverpool dan Chelsea. Foto: John Sibley/Reuters
Curriculum vitae Frank Lampard bersama Chelsea bergelimang trofi. Tapi, bisakah kamu menemukan gelar juara Piala Super Eropa?
ADVERTISEMENT
Ya, itulah salah satu alpa dalam karier Lampard sebagai pesepak bola. Padahal, dia memiliki dua kesempatan setelah menjuarai Liga Champions pada 2012 dan Liga Europa setahun berselang.
Di kesempatan pertama, asa Lampard merengkuh gelar juara Piala Super Eropa kandas karena Chelsea takluk 1-4 dari Chelsea. Kemudian, giliran Bayern Muenchen yang memupuskan mimpi Lampard dengan kemenangan adu penalti.
Sial bagi Lampard, tabu Piala Super Eropa tak cuma terjadi semasa bermain. Beralih ke kursi pelatih The Blues, sosok 41 tahun itu belum juga bisa menjuarai Piala Super Eropa.
Kali ini, lakon antagonis diambil oleh Liverpool. Pasukan Juergen Klopp mengalahkan Chelsea lewat adu penalti (5-4) setelah bermain imbang 2-2 di Istanbul, Kamis (15/8/2019) dini hari WIB.
ADVERTISEMENT
Liverpool merayakan kemenangan adu penalti di Piala Super Eropa. Foto: Murad Sezer/Reuters
Kekalahan terakhir membuat Lampard begitu terpukul. Karena inilah kesempatan besar dirinya untuk merengkuh trofi perdana sebagai pelatih Chelsea, sekaligus membungkam pihak-pihak yang meragukan skuat The Blues.
"Saya merupakan pecundang terburuk di dunia. Benci rasanya. Tak menyenangkan ketika melihat Liverpool mengangkat trofi, meski Anda respek kepada mereka," tutur Lampard kepada BT Sport.
Dengan hasil di Istanbul, berarti Lampard selalu menelan kekalahan dalam dua laga kompetitif pertamanya bersama Chelsea. Sebelum itu, Cesar Azpilicueta dan kolega dihancurkan Manchester United dengan skor 0-4 pada laga pekan pertama Premier League.
Merespons rapor merah, Lampard menolak menyerah. Toh, penampilan Chelsea saat menghadapi Liverpool tak buruk-buruk amat. Hanya adu penalti yang notabene memerlukan faktor hoki sebagai penjegal mereka.
ADVERTISEMENT
"Saya gagal, tetapi tetap merasa bangga terhadap tim dan performanya. Ini merupakan pertandingan berat menghadapi Liverpool yang memiliki waktu ekstra untuk memulihkan diri," ucap Lampard.
Frank Lampard mendampingi Chelsea saat menghadapi Reading di Madejski Stadium. Foto: Andrew Couldridge/Reuters
Hasrat kebangkitan sudah tentu diusung Lampard ke depannya. Untuk mewujudkannya, dia coba mengangkat moral anak-anak asuhnya yang terpuruk usai dua kekalahan beruntun.
Fokus utama Lampard tertuju kepada Mason Mount serta Tammy Abraham. Dua pemain ini memang sempat menuai kritik saat diturunkan sebagai starter pada laga menghadapi United.
Lalu ketika melawan Liverpool, Lampard baru memasukkan Mount dan Abraham sebagai pengganti. Tak ada dampak signifikan dari segi gol atau assist. Bahkan, Abraham menjadi pesakitan karena gagal saat menjadi eksekutor pemungkas di adu penalti.
"Orang-orang terus membicarakan para pemuda di Chelsea. Bicarakan saja Jorginho dan Kante. Saya juga bisa menyebutkan beberapa nama lagi," ujar Lampard.
ADVERTISEMENT
"Mason Mount dan Tammy Abraham memberikan dimensi berbeda saat masuk sebagai pengganti. Mereka hanya kurang beruntung sehingga tak mencetak gol. Khusus Abraham, dia mesti menjaga kepala tetap tegak karena begitulah untuk menjadi pemain top," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81