Pencarian populer

Giovanni van Bronckhorst Tinggalkan Feyenoord Akhir Musim Ini

Pelatih Feyenoord, Giovanni van Bronckhorst. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Keputusan mengejutkan diambil oleh Giovanni van Bronckhorst, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih Feyenoord Rotterdam. Kepastian ini diumumkan oleh klub melalui situs resmi mereka pada Jumat (25/1/2019), disebutkan bahwa Van Bronckhorst akan pergi di akhir musim 2018/19 usai kontraknya habis.

Feyenoord sendiri merupakan kesebelasan pertama bagi Van Bronckhorst menjajal peruntungan sebagai kepala juru taktik. Setelah menjadi asisten pelatih pada 2011, Van Bronckhorst akhirnya diangkat sebagai pelatih kepala pada Maret 2015 untuk menggantikan Fred Rutten.

Meski pengalamannya terbilang belia di dunia kepelatihan, Gio--saaan akrab Van Bronckhorst--sukses memberi prestasi gemilang buat klubnya dan jadi pelatih Feyenoord tersukses dalam dua dekade terakhir.

Di musim perdananya (2015/16), ia memberi gelar KNVB Cup (Piala Belanda). Semusim berselang, Gio mempersembahkan gelar Liga Belanda yang sangat berarti buat Feyenoord karena mengakhiri penantian selama 18 tahun lamanya. Di musim 2017/18, mantan kapten Timnas Belanda itu mengawinkan gelar Piala Belanda dan Johan Cruyff Shield.

Prestasi teranyarnya adalah memberikan titel Johan Cryuff Shield di awal musim 2018/19. Tak ayal, dengan durasi hampir empat tahun pengabdiannya yang gemilang itu, keputusan Gio terbilang mengejutkan. Namun, sosok yang dulu bermain di Arsenal dan Barcelona itu mengaku butuh tantangan lain.

“Ini merupakan keputusan yang sangat sulit, sebab Feyenoord adalah jiwa raga saya. Namun, sepanjang karier, saya selalu mengikuti naluri. Saat ini, naluri saya mengatakan bahwa saya harus berhenti. Ini yang terbaik,” ujar Gio dikutip kumparan Den Haag dari laman resmi Feyenoord.

Ya, Feyenoord bukan tempat asing buat Gio. Setelah menimba ilmu di tim akdemi saat berusia tujuh tahun pada 1982, Gio mentas di tim utama pada 1994 dan memulai karier profesionalnya. Kariernya terus menanjak hingga akhirnya merantau ke Skotlandia untuk bergabung dengan Glasgow Rangers pada 1998.

Penampilan apiknya di Ranger dengan memberi dua gelar Liga Skotlandia mendorong Arsenal mengeluarkan 8 juta poundsterling untuk memboyongnya pada 2001. Gio sukses mempersembahkan satu gelar Premier League dan Piala FA, hingga Barcelona meminjamnya pada 2003, sebelum akhirnya dipermanenkan semusim berselang.

Setelah melewati empat musim di Camp Nou dengan memenangi pelbagai trofi bergengsi macam Liga Champions dan La Liga, Gio pulang ke Feyenoord pada 2007. Menghabiskan karier masa senjanya, Gio memberi satu gelar Piala Belanda dan akhirnya memutuskan pensiun sebagai pesepak bola di 2010.

Kini, Gio kembali memutuskan pergi dari tim yang membesarkan namanya baik sebagai pemain dan pelatih. Direktur teknis Feyenoord, Martin van Geel, mengaku cukup menyesalkan keputusan ini. Namun, ia tetap menghargai keputusan sosok yang punya darah Indonesia ini.

"Kami sangat berterima kasih atas kontribusinya yang besar dalam periode sukses klub yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apa pun yang dilakukan Gio setelah musim ini, ikatannya dengan klub tidak akan terpatahkan," ujar Van Geel.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.40