Pencarian populer

Gol Legendaris Ryan Giggs ke Gawang Arsenal dalam Tiga Babak

Giggs mencetak gol ke gawang Arsenal di Piala FA 1999. (Foto: Twitter/Manchester United)

"Arsenal terus berusaha mencetak gol kemenangan. United mencoba bertahan untuk memaksakan adu penalti, [Dwight] Yorke menunggu sendirian di depan dan pemain lainnya menumpuk di kotak penalti. Situasi itu tidak dibantu oleh penampilan RJ Giggs, Esq, yang tidak menunjukkan performa terbaiknya setelah masuk di babak kedua menggantikan [Jesper] Blomqvist."

Fragmen itu digambarkan dengan apik oleh Daniel Harris dalam bukunya yang berjudul 'The Promised Land'. Kata-kata 'The Promised Land' itu dipinjam Harris dari komentator Clive Tyldesley yang mengucapkannya sesaat setelah Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol kemenangan Manchester United di final Liga Champions 1999.

Namun, fragmen tadi bukan soal pertandingan final Liga Champions karena buku Harris tadi memang tak cuma bercerita soal aksi heroik 'Iblis Merah' di Camp Nou. Buku itu bercerita tentang perjalanan United secara keseluruhan di musim 1998/99 ketika mereha meraih treble winner dan fragmen tadi berasal dari pertandingan ulangan semifinal Piala FA.

Ryan Joseph Giggs dicadangkan oleh Alex Ferguson di pertandingan itu dan dia tidak sendiri. Dwight Yorke dan Andy Cole yang biasanya jadi tombak kembar The Red Devils pun ikut disimpan. Sebagai gantinya, Ferguson memainkan Blomqvist di sayap kiri serta menduetkan Teddy Sheringham dan Solskjaer di lini depan.

Semifinal Piala FA musim 1998/99 itu memang harus diselenggarakan dua kali karena pada kesempatan pertama Manchester United dan Arsenal gagal mencetak satu gol pun. Waktu tambahan sudah diberikan, padahal, tetapi hasilnya tetap nol besar. Maka, mau tak mau laga pun diulang.

Situasi yang digambarkan Harris tadi adalah masa waktu tambahan. Kala itu kedudukan berimbang di angka 1-1. David Beckham membawa United unggul lebih dulu lewat gol indahnya pada babak pertama. Namun, pada babak kedua Dennis Bergkamp sukses menyamakan skor lewat tendangan jarak jauh yang membentur paha Jaap Stam.

Bergkamp punya kesempatan untuk 'membunuh' pertandingan pada menit-menit penghabisan. Akan tetapi, meskipun punya kesempatan besar untuk mencetak gol dari titik putih, pria Belanda itu gagal menaklukkan Peter Schmeichel untuk kali kedua. Schmeichel membuat penyelamatan penalti pertamanya dalam lima tahun untuk memperpanjang napas United.

Lalu, sampailah kita ke babak tambahan waktu yang menegangkan itu. United bermain dengan sepuluh orang usai Roy Keane diusir wasit David Elleray akibat mengganjal Marc Overmars. Seperti yang dituliskan Harris, United pun saat itu cuma berusaha untuk bertahan agar tidak kebobolan. United pasrah dan mereka pun menyerahkan nasibnya pada keberuntungan.

Rencana United itu pada akhirnya tinggal rencana karena pada saat yang sama sekali tak disangka, lahirlah sebuah peristiwa yang sampai kini masih disebut sebagai salah satu momen terbaik Manchester United dalam sejarah. Giggs, yang sebelumnya tampil angin-anginan, tiba-tiba kesetanan. 'Penyihir Wales' itu kemudian mencetak gol yang mendefinisikan kariernya di Manchester United.

Patrick Vieira: The Beginning

"Brengsek betul Manchester United ini. Mereka niat main bola enggak, sih? Main sepuluh orang, sih, main sepuluh orang, tapi apa mereka harus banget numpuk pemain banyak-banyak di daerah sendiri? Jangan sampai adu penalti, jangan sampai adu penalti. Jantung urang enggak kuat, bos."

"Ah, depan penuh, coba ke samping, ah. Utak utik, utak utik, ah, di kanan ada Lee Dixon. Eits, tapi, kok, ada si Giggs juga di sana? Hmm, sebentar. Kira-kira harus seberapa kuat aku tendang bola ini biar bisa sampai ke Lee? Kencang, enggak, kencang, enggak. Ah, sudahlah, biasa saja. Lee 'kan bek kanan, masak enggak bisa lari, sih?"

Vieira pun mencoba mengirimkan bola kepada Dixon. Namun...

"Wah, sialan, kejauhan bolanya! Kena, deh, ini. Kena, deh, ini. Sialan, betulan kena, 'kan. Sialan!"

Vieira (kanan) di North London Derby. (Foto: AFP/Paul Vicente)

"Oke, enggak masalah. Masih setengah lapangan ini. Masih bisa kekejar, lah. Oke, tenang, lari pelan-pelan, kembali ke posisi, coba tutup pergerakan Giggs. Di belakang masih ada Martin dan Tony juga. Aman. Ah, ini si Giggs mendekat. Kujegal baru kapok si keriting ini. Ciaaa..."

"Sialan, ketipu urang. Ayo, Lee, potong! Potong si Giggs. Aduh, kok, enggak bisa? Oh, masih ada Martin. Ayo, Martin, hajar dia! Walah, malah jatuh ngejengkang si Martin. Ini pada gimana, sih, mainnya? Ayo, woi. Aku coba tutup jalurnya si Yorke. Bahaya ini manusia."

Setelah sempat memalingkan pandangan ke arah Yorke, Vieira mendapati Giggs sudah sampai di dekat kotak enam yard.

"Eh, eh, eh. Kok, si Giggs malah udah di situ? Please, Tony, tunjukkan ke-John Terry-anmu, Tony. Tonyyyyyyyyyyyy... Ah... F%@#! S%$@! C&%$! A@!#$%&@! KOK, BISA?! Oh, man!"

"Ini semua salahku. Aduh, si bos bakal marah besar nanti. Baru juga dua musim aku di sini, eh, udah bikin salah kayak gini. Matilah aku, matilah. Sialan si Giggs ini. Dari tadi enggak ngapa-ngapain, sekalinya bikin gol malah kayak begini. Kampret! Siapa juga lagi yang bikin aturan golden goal ini. Arrrrggghhhh!"

Paul Scholes: The Middle

"43 gol dari 32 pertandingan. Arsenal ini enggak bakat main menyerang. Coba sini kalau berani maju semua, palingan juga kalian bakal gagal. Kuberlari kecil-kecil saja di tengah, tutup sana, tutup sini. Mereka paling nanti kesal sendiri, hihhi."

"Tuh, 'kan. Kalau di tengah penuh, Vieira pasti bakal ngumpan ke samping... Whoa, ngapain dia ngumpan ke situ? Nah, kerebut 'kan bolanya. Vieira ini tahu enggak, sih, kalau Lee Dixon udah bangkotan? Mana bisa dia sprint 20 meter? Come on, Giggsy, show your magic. Dribel sampai depan, nanti kasih ke aku bolanya, oke?"

Scholes dan Gerrard di salah satu duel rival ini. (Foto: Adrian Dennis/AFP)

Paul Scholes pun berlari, berlari, dan berlari, tetapi tak ada indikasi bahwa Giggsy akan memberi apa yang diinginkannya karena Giggsy pun terus berlari, berlari, dan berlari.

"Giggsy, jangan maruk! Giggsy... Whoa, oke. Vieira lewat, tapi masih ada setumpuk pemain lagi di belakang. Dixon lewat, mampus. Keown, hahahahahahahaha. Martin Keown terjengkang, Bung dan Nona. Hahahahahahaha. Ayo, Giggsy, masak bola itu mau kau sikat sendiri? Ayo, Giggsy. Winterburn masih jauh, aku sendirian. Giggsy!!!"

"Holy s%#@! Woooooooooooooooowwwwwww!!! Giggsy!!! Ya, Tuhan, ini mimpi atau bukan? Gila! Gol macam apa itu? Sinting! Giggsy with the solo run!!! Wow, wow, wow! Waduh, copot baju 'kan dia. Ketahuan, deh, kalau bulunya lebat..."

Scholes pun berlari, tetapi kali ini untuk mengejar Giggs yang merayakan gol ke pinggir lapangan. Semua pemain United yang berbaju putih mengerubunginya sambil bersorak merayakan kemenangan.

Bill Laimbeer & Pete Maravich: The Outsiders

"Penalti, nih, pasti nanti," ujar Bill Laimbeer kepada kawannya, Pete Maravich, di tribune VIP Villa Park yang cukup lengang.

Bill dan Pete datang jauh-jauh dari Salford ke Birmingham demi pertandingan ini. Mereka berangkat pagi buta di hari sebelumnya, 13 April 1999. Pete sebenarnya tak mau ikut serta karena sudah terlalu sering izin cuti kepada bosnya. Sementara, Bill adalah anak jenderal. Dia punya usaha mobil nasional dan siapa pula yang berani memecat dia? Wong, dia bosnya, kok.

Bill mengiming-imingi Pete, bahwa jika Pete sampai dipecat nanti, dia akan diterima di perusahaan Bill. Pete pun akhirnya bersedia. Dengan mengendarai mobil mewah hasil korupsi ayah Bill, kedua orang ini pun bertolak.

Gol solo run Ryan Giggs vs Arsenal. (Foto: FA)

Sesampainya di Birmingham, mereka menghabiskan waktu dengan berjudi dan minum-minum. Akan tetapi, hedonisme itu tak bisa sepenuhnya mengobati gulana yang sudah kadung bersemayam di hati mereka. Bagaimana jika Manchester United kalah? Salah salah, semua gelar lepas nantinya.

Kekhawatiran Bill dan Pete itu akhirnya terbukti. United tampil angin-anginan. Beckham dan Schmeichel berhasil membuat mereka bersorak sampai-sampai fish and chips yang tadinya ada di tangan Pete menghilang entah ke mana. Kini, pertandingan sudah memasuki babak tambahan waktu dan United, yang bermain dengan sepuluh orang, memilih untuk bertahan.

"Jangan penalti, lah. Mau pulang kapan kita kalau sampai penalti segala?" gerutu Pete yang memilih untuk menyesap bir hitam setelah fish and chips-nya lenyap.

Vieira tengah menguasai bola ketika percakapan ini terjadi. Tak lama kemudian, Pete dan Bill bangkit dari kursinya. Vieira yang bermaksud memberi umpan kepada Dixon membuat kesalahan fatal. Bola yang dikirimkannya tanggung sehingga Giggs yang berada lebih dekat dengan si Kulit Bulat pun berhasil merebutnya.

"Bill, Bill," kata Pete pelan sembari menampar-nampar tangan Bill. "Bill, jadi, nih."

"Ya, ya, aku lihat, kok. COME ON, GIGGSY!" seru Bill yang tiba-tiba sudah berada dekat tembok pembatas.

"Vieira lewat, sekarang ada Dixon sama Keown. Ayolah, Giggsy. Wow! Lihat enggak barusan, Bill? Hahahahahahaha, lewat semua! COME ON, GIGGSY!" seru Pete tak kalah heboh.

Giggs sekarang tinggal berhadapan dengan David Seaman tetapi sudut tendangannya tidak menguntungkan. Lagipula, Tony Adams sudah bersiap melancarkan tekelnya. Namun, sejurus kemudian...

"GOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLL!!! YEEEEEEEEEEEEEESSSSSSS!!!"

Pete, Bill, dan semua yang memihak Manchester United di Villa Park seperti disambar petir. Giggs berhasil melewati empat pemain Arsenal dengan aksi individualnya dari tengah lapangan untuk membobol gawang Seaman dan meloloskan United ke final.

"Ya, Tuhan!" seru Bill. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala. Layaknya baru melihat hantu, Bill terlihat begitu syok. "Sinting! Ini benar-benar sinting! Gimana ceritanya bisa kayak gitu?!"

"Oke, yang barusan itu betulan terjadi, 'kan?" sahut Pete yang juga sulit memercayai matanya sendiri. "Did he just do that?!"

Bill dan Pete sendiri tidak terlalu lama larut dalam keheranan karena begitu Giggs berlari untuk berselebrasi, mereka tahu bahwa semua yang beru saja mereka saksikan itu nyata adanya. Para pemain United mengerubungi Giggs yang telah bertelanjang dada dan setelahnya semua bersorak merayakan keberhasilan United melaju ke final.

Pete dan Bill pulang dengan hati gembira, khususnya Pete yang merasa bahwa permintaan cutinya itu betul-betul terbayar. Sayangnya, bagi Bill, pertandingan itu menjadi hari di mana dirinya merasakan kebebasan untuk terakhir kali. Di hari berikutnya, dia ditangkap polisi karena kasus korupsi lembaga logistik negara. Kendati begitu, setahun dan dua bulan kemudian dia bebas karena, well, dia anak jenderal tadi itu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63