Pencarian populer

Haldorsson, Sigurdsson... Mengapa Nama Islandia Berakhiran '-Son'?

Thunderclap suporter Islandia di Piala Dunia 2018. (Foto: REUTERS/Sergei Karpukhin TPX IMAGES OF THE DAY)
Komitmen Islandia untuk merawat apa-apa yang sedikit ditunjukkan dengan jelas dari perjalanan mereka menuju dan di Piala Dunia 2018.
ADVERTISEMENT
Untuk mempermudah, kekhasan ini dapat dilihat dari siapa-siapa saja yang bergabung dengan Timnas Islandia di Piala Dunia 2018. Di antara semua pemain yang masuk dalam skuat Piala Dunia 2018, hanya ada satu orang yang namanya tak berakhiran '-son'.
Ia adalah penjaga gawang ketiga, Frederik Schram. Hal ini disebabkan, Schram bukan orang Islandia asli. Selain lahir di Denmark, ayah Schram juga orang Denmark. Ibunyalah yang orang asli Islandia. Namun, Schram sudah membela Timnas Islandia sejak muda. Pada 2011, ia tergabung dalam skuat Timnas U-17.
Islandia memiliki aturan penamaannya sendiri. Untuk laki-laki, namanya wajib diakhiri dengan ‘-son’, sementara ‘-dottir’ menjadi akhiran yang harus ada di setiap nama anak perempuan. Karena memiliki aturannya sendiri, pemerintah Islandia tak main-main untuk mengurus penamaan warganya. Keseriusan ini ditunjukkan oleh keberadaan Komite Penamaan Islandia, yang dalam bahasa aslinya disebut Mannanafnanefnd.
ADVERTISEMENT
Orang-orang Islandia akan mengajukan nama untuk anak-anaknya pada komite ini. Komite ini punya wewenang untuk meloloskan ataupun menolak permohonan tersebut. Di antara semua syarat, salah satu yang harus digarisbawahi dan diingat betul-betul adalah, nama orang Islandia asli tak boleh mengandung huruf yang tak ada dalam alfabet Islandia, yaitu c, q, w, dan z. Itulah sebabnya bila diperhatikan, nama 22 pemain Islandia (tentu minus Schram) tidak ada yang mengandung keempat huruf tersebut.
Umumnya, nama-nama orang Islandia akan terbagi dua bagian. Yang pertama, nama depan. Yang terakhir, adalah nama orang tuanya. Jadi, kalau si pria bernama Gylfi Sigurdsson, besar kemungkinan nama ayahnya adalah Sigur. Dengan begitu, 'Gylfi Sigurdsson' bisa diartikan sebagai 'Gylfi, putra Sigur'.
ADVERTISEMENT
Tadinya, orang-orang Islandia menggunakan nama ayah sebagai nama belakang. Namun, sekarang, ada pula yang menggunakan nama ibu untuk belakang. Misalnya, Heidar Helguson, yang memiliki nama ibu Helga.
Tak dapat dimungkiri, penamaan menjadi hal yang rumit bagi orang-orang Islandia. Namun, segala kerumitan ini punya tujuan. Orang-orang Islandia ingin agar kultur bahasa mereka tetap terjaga. Keberadaan peraturan ini bertujuan supaya diksi Islandia tidak tercampur-campur dengan bahasa lainnya. Bagi warga Islandia, bahasa menjadi identitas kebangsaan yang perlu dirawat sedemikian rupa.
Segigih apa Islandia merawat segalah sesuatu yang mereka miliki tak cuma ditunjukkan dari aturan penamaan, tapi juga kehidupan sepak bola mereka. Islandia bukan surganya sepak bola. Ia tidak seperti Brasil yang sudut-sudut kotanya dihuni oleh para penggila sepak bola.
ADVERTISEMENT
Cerita sepak bola Islandia hingga ke Piala Dunia dimulai pada 1990. Kala itu Federasi Sepak Bola Islandia (KSI) melakukan kunjungan kerja ke Norwegia untuk mempelajari bagaimana rumput artifisial berpengaruh pada kehidupan sepak bola Norwegia Utara.
Alasannya, Norwegia Utara dan Islandia memiliki iklim yang mirip. Asumsi mereka, kalau cara itu digunakan oleh orang-orang Norwegia, pasti di Islandia juga dapat bekerja. Yang dilakukan dilakukan Islandia setelahnya adalah membangun pusat pelatihan sepak bola yang dikenal dengan nama Breidablik. Fasilitas ini disebut-sebut sebagai pusat pelatihan sepak bola terbaik di Eropa. Bila ditelisik, Breidablik juga menyediakan sejumlah fasilitas in door dengan kualitas wahid.
Halldorsson tepis penalti Messi. (Foto: REUTERS/Carl Recine)
Bila kehidupan orang-orang Islandia dibedah, maka sepak bola tak muncul sebagai elemen yang besar. Untuk memahami pernyataan ini, kita hanya perlu melihat bahwa di antara deretan pemain di skuat Timnas Islandia di Piala Dunia 2018, profesi mereka yang sebenarnya bukanlah pesepak bola.
ADVERTISEMENT
Misalnya, kiper utama mereka, Thor Halldorsson. Sosok yang berhasil menggagalkan tendangan penalti Lionel Messi ini menghabiskan sembilan tahun hidup untuk menggeluti dunia perfilman. Di Islandia sana, ia juga dikenal sebagai sutradara. Begitu pula dengan pelatih mereka, Heimir Hallgrímsson, yang berprofesi sebagai dokter gigi. Atau, Birkir Mar Saevarsson yang bekerja sebagai pengepak di pabrik garam.
Namun, hanya karena sepak bola tidak bisa disebut sebagai hal besar di negaranya, bukan berarti mereka tak merawat yang kecil itu. Halldorsson sadar bahwa namanya tak sebesar penggawa-penggawa para pesohor yang berlaga di Rusia tahun ini. Bahkan, keputusannya untuk banting setir menjadi sutradara juga diambilnya karena tak kunjung diterima bermain di klub profesional.
Mengatasi persoalan ini, Halldorsson tak cuma berlatih bersama tim. Di luar waktu latihan, ia kerap menonton video pertandingan Messi. Dari video-video itulah ia belajar bagaimana menaklukkan sang megabintang.
ADVERTISEMENT
Suporter Islandia di Piala Dunia 2018. (Foto: REUTERS/Sergei Karpukhin)
Yang menyadari kondisi ini bukan hanya skuat Timnas, tapi juga para suporter. Kiprah Islandia di ranah sepak bola internasional baru muncul saat Piala Eropa 2016. Mereka berhasil mengganjar Inggris dengan kekalahan 1-2 di babak 16 besar. Yang menarik, gelaran turnamen itu bertepatan dengan konser Sigur Ros di sejumlah kota di Islandia.
Bassist mereka, Georg Holm, ketinggalan bus dan harus menyusul teman-temannya dengan menggunakan kereta api. Sementara, Jonsi Birgisson, yang pada dasarnya tidak menyukai sepak bola malah ikut-ikutan terkena demam Piala Eropa.
Penampilan mereka di rangkaian tur itu selesai pada 26 Juni 2016 malam. Artinya, tepat semalam sebelum Islandia berlaga melawan Inggris memperebutkan tiket perempat final. Karena selesai konser mereka langsung mengambil penerbangan paling malam, para personil Sigur Ros baru mendarat di Reykjavik keesokan harinya.
ADVERTISEMENT
Begitu mendarat, hal pertama yang mereka lakukan adalah pergi ke taman kota yang menjadi venue nonton bareng. Dalam tulisan Wright Thompson untuk ESPN The Magazine yang berjudul Iceland is So Hot Right Now, Alex Somers, music producer asal Amerika Serikat yang menjalankan studio musik di Reykjavik dan menangani Sigur Ros, menegaskan, "Hampir tidak ada budaya selebritas di Islandia." Semuanya menjadi satu apa pun urusannya, termasuk sepak bola.
Menggilanya dukungan untuk Timnas juga muncul di laga melawan Argentina. Menurut laporan Louissa Thomas untuk The New Yorker, Reykjavik sedang diguyur hujan khas musim panas saat Islandia bertanding melawan Argentina. Namun, hujan bukan lawan yang tangguh. Orang-orang tetap berkumpul di taman kota dengan mengenakan parka.
ADVERTISEMENT
Sepuluh menit setelah pertandingan berjalan, seorang calon pengantin yang masih berkostum khas bridal shower, memakai riasan tebal lengkap dengan tiara di rambutnya, memberikan pengumuman bahwa bar terdekat di taman kota itu juga mengadakan acara nonton bareng. Urusan bridal shower benar-benar menjadi remeh-temeh yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan menyaksikan timnas berlaga. Luar biasa.
Hallgrimsson rayakan kemenangan Islandia. (Foto: REUTERS/Albert Gea TPX IMAGES OF THE DAY)
Possesion di kubu Islandia menjadi kelangkaan di laga itu karena Argentina memenangi sekitar 80% penguasaan bola. Lantas, begitu bola dikuasai oleh pemain Islandia, siapa pun yang ada di taman itu akan bersorak ‘Eeeeees-land! Eeeesland!’ tanpa pernah peduli apa yang akan terjadi setelahnya.
Dominasi penguasaan bola Argentina yang sedemikian tinggi membuat suporter Islandia tak sering bersorak di laga tersebut. Namun, itu bukan masalah. Bagi para suporter Islandia, bertahan dari gempuran lawan sama mengagumkannya dengan mencetak gol.
ADVERTISEMENT
Hanya karena Islandia merupakan negara kecil, bukan berarti mereka tak ditempa masalah besar: mulai dari ancaman letusan gunung berapi, hingga masalah finansial dan politik Uni Eropa. Namun, masalah-masalah itulah yang pada akhirnya membikin orang-orang Islandia punya satu konsep sederhana, tapi brilian: kebersamaan.
Konsep macam itu pula yang diterapkan dengan sebaik-baiknya oleh suporter Islandia kala tim mereka bertanding. Status sebagai anak bawang Piala Dunia tak menyurutkan dukungan untuk para penggawanya.
Tak peduli seberapa hebat tim yang menjadi lawan, Thunder clap yang menjadi ciri khas mereka itu, tetap lahir di tribune, di bar-bar, ataupun di taman kota. Tak peduli datang langsung ke stadion atau tidak, Tolfan, kelompok suporter Islandia yang bila diartikan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia akan menjadi 12 (mengacu pada istilah suporter sebagai pemain ke-12), tetap mengirimkan dukungan ala suporter bola mereka kepada para pemain.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81