Pencarian populer

Iip Saripah Pasrah, Sepak Bola Telah Merenggut Rangga dari Sisinya

Rangga Cipta Nugraha. Foto: Dok. Pribadi

"Aa, enggak pulang?"

"Enggak, ah mah. Minggu depan aja."

Sabtu, 26 Mei 2012, Iip Saripah menelepon anak sulungnya, Rangga Cipta Nugraha, yang kala itu bekerja di Jakarta. Tak sampai seminggu menunggu, Iip sudah kedatangan putra pertamanya pada Selasa (29/5/2012).

Namun, Rangga pulang dengan keadaan tak lengkap. Iip hanya menemui raga sang anak tanpa nyawa. Iip harus menerima kenyataan perih ketika melihat anaknya pulang sudah menjadi jenazah.

Rangga menjadi korban pengeroyokan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (27/5/2012), ketika laga Persija Jakarta vs Persib Bandung.

“Dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan Rangga meninggal sekitar pukul 21.00 WIB. Aa kehilangan banyak darah karena luka serius di kepala,” kata Iip membuka obrolan dengan kumparanBOLA ketika ditemui di Rumah Sakit Husada, Arcamanik, Bandung.

Iip awalnya tak punya firasat akan ditinggal putranya. Ia juga tak tahu Rangga akan menonton laga 'Macan Kemayoran' kontra 'Maung Bandung' kala itu.

Sehari setelah partai panas itu, tiga rekan SMA Rangga berkunjung ke rumahnya di Jalan RE Endang Suanda, Pasir Leutik, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Iip yang menyambut kedatangan teman-teman Rangga tak sedikit pun menaruh curiga.

“Mau lihat Ikhsan (adik Rangga) kata mereka. Waktu itu Ikhsan masih dua tahun. Cakra (anak kedua Iip) lalu menghubungi Rangga kasih tahu ada teman-temannya di rumah, tapi tidak ada jawaban. Telepon tidak aktif," ucap Iip.

“Saya tidak curiga. Baru pas sore, mereka bilang, Rangga masuk rumah sakit,” lanjutnya.

Pikiran Iip pun masih positif. Ia menyangka sang anak dirampok, bukan menjadi korban pengeroyokan suporter. Iip langsung bergegas ke Jakarta bersama Cakra pada malam harinya. Sebelum berangkat, ia sempat menelepon kantor tempat Rangga bekerja.

“Teman kantornya juga bingung kenapa Rangga tidak masuk hari Senin. Saya minta tolong dicarikan informasi soal Rangga. Kalau sakit tidak mungkin, karena Sabtu masih teleponan dan baik-baik saja. Pikir saya dia dirampok,” tutur Iip.

Setibanya di RSCM, Iip mendapati banyak kawan-kawan Rangga yang sudah menunggu. Ia panik dan menanyai di mana ruangan putranya. Sampai akhirnya, Iip digiring ke sebuah ruangan yang penuh dengan lemari es. Hatinya langsung remuk. Tangisnya pun pecah di kamar jenazah setelah mendapati putra sulungnya sudah tak bernyawa.

Iip tak menyangka putranya tewas usai dikeroyok. Bahkan, semua identitas Rangga hilang. Buntutnya, jenazah Bobotoh itu sulit dibawa pulang karena statusnya masih Mr. X.

“Tas hilang. Isinya hape dan semua indentitas di situ. Jadinya, rumit untuk membawa jenazah pulang. Harus ke pihak kepolisian juga untuk mengubah status Mr. X. Baru Selasa sore bisa dibawa pulang dan langsung dimakamkan,” kata Iip.

Kekecewaan memancar saat Iip bercerita rivalitas Persija-Persib yang tak henti memakan korban. Berkaca dari tewasnya Rangga, Iip mengajak menyelami perasaan orang tua yang kehilangan anaknya.

Ia punya keinginan suatu hari nanti Rangga menjadi tulang punggung keluarga. Namun, harapan itu pupus begitu perseteruan antara Viking dengan The Jakmania merenggut nyawa Rangga.

“Sudah tujuh tahun, tapi masih merasa kehilangan. Dampaknya besar. Rangga anak paling besar. Sebagai orang tua berharap bisa membantu keluarga. Dulu saya bersyukur ketika Rangga beres kuliah langsung mendapat kerjaan. Biar bisa bantu Cakra yang masih sekolah dan Ikhsan yang masih kecil. Semua harapan itu hilang sekarang,” kenang Iip.

Menurutnya, semua pihak yang mesti berbenah diri agar korban tak jatuh lagi. Tak ada lagi orang tua yang menangisi kepergian tak wajar anaknya. Iip menyebut pemerintah, polisi, petugas medis, panitia pelaksana (panpel) pertandingan, dan suporter itu sendiri segera sadar permusuhan tak layak diteruskan.

Meski sepak bola sudah membuat Iip kehilangan buah hatinya, ia tak dendam. Iip tetap mengizinkan Cakra—yang juga Bobotoh—untuk menonton Maung Bandung berlaga.

“Rangga atau Cakra memang suka sepak bola dari kecil. Sekarang, biar Cakra yang memperlihatkan ke semua orang kalau permusuhan itu punya dampak besar. Ada yang terluka karena kehilangan. Tidak ada untungnya juga bagi kedua belah pihak. Malah, bisa menghambat klub masing-masing. Boleh fanatik, tapi jangan sampai mengorbankan nyawa. Lihat orang tua yang ditinggalkan anaknya karena korban permusuhan. Cukup Haringga Sirla (suporter Persija) yang terakhir,” tutur Iip.

86 Nyawa Tumbal Sepak Bola Foto: Basith Subastian/kumparan

Cakra sependapat. Sebagai Bobotoh ia mengaku sudah punya pikiran lebih dewasa. Dendam memang sempat mencuat begitu melihat sang kakak terbujur kaku di ruang jenazah. Namun, dua tahun setelah peristiwa itu, Cakra sadar, balas dendam bak menggarami air laut alias sia-sia.

“Awalnya saya dendam dan kecewa. Dua tahun setelah itu, saya mulai dewasa. Meninggal itu takdir. Berpikiran membalas dendam pun buat apa. Tidak ada manfaatnya. Toh, kakak saya tidak bakal kembali. Malah, bikin keadaan makin kacau,” ujar Cakra.

Ia mengubah pandangan soal fanatisme. Kecintaan kepada klub, menurutnya, diartikan tidak merugikan tim kesayangan. Upaya yang dilakukan Cakra dimulai dari dirinya sendiri dengan membeli tiket resmi, duduk di tribune sesuai tiket, tidak membawa senjata dan barang terlarang lain, dan tidak bernyanyi rasialis.

“Saya ingin membuat almarhum tersenyum. Mulai dari saya lalu saya bagikan ke rekan-rekan bobotoh lain untuk jadi suporter lebih baik. Upaya positif yang kecil, tapi bisa berdampak besar buat klub,” katanya.

Menghentikan permusuhan kedua belah suporter menjadi cita-cita Cakra. Banyak orang yang sempat menenggelamkan mimpinya itu, tapi ia tetap melanjutkan perjalanan. Suatu hari melihat suporter Persija dan Persib menonton bersama di tribune menjadi ujung dari upayanya.

“Saya ingin beda dari yang lain. Saya ingin permusuhan ini dihentikan meskipun sulit. Impian besar suatu hari melihat Bobotoh dan Jakmania bisa ada di satu tribune. Saya mau menonton di Jakarta tanpa harus menyelinap atau pura-pura. Siapa mau duduk di Stadion Utama Gelora Bung Karno, stadion terbesar di Indonesia,” tutur Cakra.

Tak ada yang mustahil menurut Cakra. Ia cuma punya niat dan yakin dengan upaya sederhananya itu. Korban-korban permusuhan sebelumnya mesti dijadikan pembelajaran. Cakra mengajak suporter Persija dan Persib untuk lebih dewasa.

Pertandingan perdana Grup A Piala Presiden Persib vs Tira Persikabo Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

“Saya yakin, peristiwa yang terjadi dengan kakak saya itu melibatkan oknum suporter. Karena seorang suporter sejati tidak akan tega atau bertindak seperti hewan. Suporter itu mencintai klub dengan cara tidak merugikan tim. Saya yakin peristiwa Haringga juga ada oknumnya. Bobotoh dan Jakmania bisa satu tribun asal oknum-oknum yang menyebar doktrin negatif hilang,” ujarnya.

Lagi-lagi, rasa kehilangan mendalam Cakra membuatnya ingin permusuhan dihentikan. Bahkan, ia punya pandangan sendiri terhadap ungkapan ‘Persib nepi ka paeh’ (Persib sampai mati).

“Persib sampai mati buat saya itu, ya, mencintai Persib sampai nanti ajal menjemput. Mencintai dengan cara apa? Berbagai tindakan positif buat klub, bukan yang merugikan. Jadi, bukan berarti Persib sampai mati itu harus mati konyol karena rivalitas. Bukan berati ribut-ribut sampai mati,” tutup Cakra.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60