kumparan
20 Sep 2019 22:47 WIB

Indonesia U-16: Menang Lawan China Harga Mati

Pemain Timnas Indonesia U-16 menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan melawan Timnas Brunei Darussalam U-16 pada laga kualifikasi Piala AFC U-16 2020 di Stadion Madya, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Timnas Indonesia U-16 berhasil mengalahkan Brunei dengan skor telak 8-0 di laga ketiga Kualifikasi Piala AFC U-16 2020, Jumat (20/9/2019). Kemenangan itu menjadikan koleksi poin Garuda Asia sempurna sembilan dari tiga laga Kualifikasi Piala AFC U-16 2020.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, skuat asuhan Bima Sakti Tukiman masih berada di peringkat kedua. China juga mengoleksi poin sama, tapi punya selisih gol lebih baik.
Menilik peringkat klasemen, otomatis kemenangan melawan China menjadi harga mati agar Indonesia menjadi juara Grup G dan melaju ke putaran final Piala AFC U-16. Bila gagal menjalankan skenario itu, Garuda Asia kudu berebut empat runner-up terbaik dengan 10 kontestan lain.
“Pertandingan terakhir nanti tidak ada kata lain selain harus menang. Saya menyampaikan ke pemain untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik di laga terakhir,” ujar Bima Sakti.
Demi mendukung target itu, Bima menyiapkan mental anak asuhnya. Selain bermain di laga penentuan, penggawa Garuda Asia akan tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saat menghadapi China.
ADVERTISEMENT
Artinya, skuat Indonesia kali pertama main di SUGBK. Pastinya, suporter juga akan lebih ramai dari biasanya.
Sang pelatih berharap anak didiknya mampu beradaptasi dengan lapangan SUGBK. Selain itu, ia mengingatkan pemain bahwa dukungan suporter tak usah dianggap sebagai beban.
“Sebagian pemain baru pertama main di SUGBK, kami dapat latihan resmi sore. Saya harap anak-anak adaptasi cepat dengan kondisi SUGBK. Anak-anak sudah bisa mengatasi rasa canggung. Kemarin memang tegang karena selain baru pertama didukung suporter banyak, melawan Filipina merupakan laga pertama," tutur Bima.
Semakin hari anak-anak berkembang. Mereka belajar memperbaiki mental dengan penonton yang banyak. Jangan jadi beban, malah seharusnya membuat pemain lebih berjuang dan bersemangat," tambahnya.
Penegasan kesiapan penggawa Garuda Asia tampil di SUGBK juga muncul dari Kadek Arel Priyatna. Sang bek tengah punya motivasi dari tiga kemenangan dan kesanggupan mengatasi kecanggungan.
ADVERTISEMENT
“Terima kasih kepada Tuhan atas kesehatan dan kemenangan (lawan Brunei). Terima kasih buat pelatih, teman-teman, keluarga dan masyarakat Indonesia. Kami punya modal bangkit untuk hari Minggu melawan China. Semoga diberikan kekuatan melawan China. Hari Minggu nanti adalah mimpi jadi kenyataan. Sejak kecil saya ingin main di SUGBK,” kata Kadek.
Terlepas dari itu, Bima punya beberapa catatan buat menghadapi China. Penyelesaian akhir masih dirasa perlu diasah.
Selain poin tersebut, pelatih 43 tahun itu juga kudu memutar otak mengembalikan kondisi pemain. Pasalnya, ada lima pemain yang menjadi starter dalam tiga laga terakhir, empat di antaranya selalu main 90 menit.
Lima nama yang dimaksud ialah kiper Putra Kaicen, Marselino Ferdinan, Alexandro Felix, Resa Aditya Nugraha, dan Ahmad Athallah Araihan.
ADVERTISEMENT
“Semoga bisa mengembalikan kondisi pemain (terutama yang punya menit bermain banyak dalam tiga laga). Kami ingin waktu melawan China kondisi fisik dan mental pemain siap. Penyelesaian akhir juga perlu dilatih. Laga melawan Brunei ini seharusnya babak pertama bisa lebih dari dua gol. Kami perlu asah bikin gol dengan proses dan skema yang benar sesuai latihan,” ujar Bima.
Pelatih timnas U-16 Bima Sakti. Foto: Ferry Adi/kumparan
Satu poin evaluasi ialah visi bermain. Bima masih perlu menekankan penggawanya untuk berkoordinasi dengan baik.
“Ketika menyerang, koordinasi harus berjalan. Semua harus fokus dengan visi. Artinya, saat menyerang, kami harus siap dengan antisipasi serangan balik. Saya sempat marah waktu lawan Kepulauan Mariana Utara kecolongan satu gol karena tidak siap diserang balik,” kata Bima.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan