Pencarian populer
Indra Sjafri: Kita Bisa Belajar dari Jepang Cara Masuk Piala Dunia
Acara The Expert di kumparan (Foto: Garin Gustavian/kumparan)
Dari waktu ke waktu, mimpi menjadi juara Piala Dunia terus saja berseliweran. Tapi, selalu saja diiringi oleh pesimistis yang tinggi. Tentu saja itu tak salah. Toh, hingga saat ini, Tim Nasional (Timnas) Indonesia masih sulit mencatat prestasi di kompetisi level Asia Tenggara, apalagi dunia.
Sanksi yang dijatuhkan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) kepada Indonesia pada Mei 2015 berbuntut panjang: Indonesia dipastikan tak dapat berpartisipasi pada ajang Piala Asia 2019. Sebab, kualifikasi Piala Asia sudah dimulai sejak 12 Maret 2015.
Akibatnya, Indonesia hanya dapat melihat Timnas Filipina, Thailand, dan Vietnam berlaga dengan tim-tim besar Asia lainnya macam Jepang, Korea Selatan, dan Iran.
Namun, hal itu tak lantas memadamkan harapan yang terus berpendar. Pada 2017, harapan agar sepak bola Indonesia dapat menorehkan prestasi disematkan pada Timnas U-19.
Berlaga pada ajang Piala AFF U-19 di Myanmar, Timnas U-19 sukses memperlihatkan kebolehannya dengan mengantongi 9 poin, 19 gol, dan hanya 5 kebobolan di fase grup. Raihan yang lebih baik ketimbang Timnas U-19 yang dikomandoi Evan Dimas.
Bahkan, salah satu penggawa Timnas U-19, Egy Maulana Vikri, dapat mencatatkan sejarah sebagai pesepak bola Indonesia pertama yang mendapatkan kontrak dari klub Eropa yang berlaga di Liga Utama. Ya, Egy telah diperkenalkan klub Polandia, Lechia Gdansk, kepada publik.
Tapi, menurut Indra Sjafri, untuk mewujudkan mimpi menjadi juara Piala Dunia butuh proses yang sangat panjang dan komitmen yang tinggi. Hal tersebut diyakininya setelah bertemu dengan Direktur Timnas Usia Muda Jepang.

Trofi Piala Dunia. (Foto: Alexander Nemenov/AFP)

"Jepang itu ingin juara Dunia itu 2050 dan dimulai proyeknya 2026 karena pekerjaan dia selama ini, program dia selama ini, hanya bisa mengantarkan Jepang untuk masuk Piala Dunia dan tak akan bisa masuk untuk menjadi juara Dunia," ucap Indra dalam acara The Experts bersama kumparan, Kamis (29/3/2018).
"Saya pikir, kita harus meniru mereka. Jangan seperti sekarang, ukuran baju S mau pakai L gitu. Jadi, perlu komitmen dan konsistensi. Itu yang saya lihat. Karena begitu kita dapat prestasi langsung bongkar lagi. Bayangkan Jepang itu, tahun 2026, belum dimulai proyeknya sampai 2050 juara dunia."

Acara The Expert di kumparan (Foto: Garin Gustavian/kumparan)

"Kita kan enggak, setiap hari mimpi mau masuk Piala Dunia. Tapi, gimana mau mimpi, tidur aja enggak pernah? Makanya, perlu proses. Maksud saya itu, mimpi saja perlu proses," pungkasnya.
Jadi, akankah Indonesia mengikuti komitmen yang ditunjukkan Jepang, yang saat ini menjadi salah satu tim kuat Asia dan bertengger di peringkat ke-55 FIFA?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: