Pencarian populer

Jalan Terjal Pembangunan Stadion Masa Depan Persija

Pendukung Persija Jakarta yang datang melihat langsung melawan Becamex Binh Duong dari Vietnam pada laga pertama Grup G Piala AFC 2019 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa (26/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pada 21 Desember 2014 silam, suporter Persija Jakarta, The Jakmania, datang menyambangi Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tak lebih dari 15 ribu orang hadir guna merayakan hari jadi Jakmania yang tengah berulang tahun ke-17 ketika itu.

Namun, momen perayaan itu adalah kali terakhir mereka bersorak mendukung Persija di Stadion Lebak Bulus. Sebab, hanya selang bulan setelanya, stadion berkapasitas 12.500 tempat duduk itu diruntukan untuk diganti dengan depo (tempat parkir) megaproyek transportasi massal berbasis rel atau Mass Rapid Transit (MRT).

Dirubuhkannya Stadion Lebak Bulus diiringi oleh janji dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membuat stadion baru bagi Persija dengan kapasitas lebih besar dan fasilitas mewah. Rencana awalnya, Stadion Bersih Manusiawi dan Berwibawa atau karib disebut BMW di bilangan Sunter, Jakarta Utara, dan Stadion Pesenggrahan, di kawasan Jakarta Selatan, jadi kandidat pengganti Stadion Lebak Bulus.

Lima tahun pasca dibongkarnya Stadion Lebak Bulus, Stadion BMW digadang-gadang akan menjadi rumah baru bagi Persija. Akan tetapi, menyoal titik terang waktu akan dibangun masih urung terlaksana lantaran terkendala berbagai faktor. Mulai dari pembebasan lahan yang berdampak pada izin pembangunan, persoalan dana hingga pihak pengembang yang membangun stadion.

Nah, berbicara pembebasan lahan, pada 2014 lalu, saat Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, lahan seluas tak kurang dari 69 hektare akan dibangun stadion dengan kapasitas 50 ribu kursi tempat duduk dan rampung dalam dua tahun pembangunan. Dana sebesar Rp. 1,2 triliun ditaksir menjadi biaya pembangunan.

Alih-alih rencana berjalan, lahan Stadion BMW tersangkut masalah sengketa kepemilikan. Pada persidangan di Pengadilan Jakarta Utara pada 2015 silam, Pengadilan Negeri Jakarta Utara menyatakan lahan itu milik PT Buana Permata Hijau.

Sengketa ini sejatinya memiliki liku yang panjang. Sejak 1994, Pengadilan Negeri Jakarta Utara menetapkan Pemprov DKI Jakarta selaku pemilik sah lahan tersebut. Akan tetapi, dalam gugatan 304/Pdt.G/2017/PN.Jkt.Utr, penetapan itu dibatalkan dan lahan itu dikuasakan kepada PT Buana Permata Hijau.

Putusan tersebut kemudian dilawan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Alhasil, lewat pengajuan banding yang dilakukan Pemprov DKI dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), pada 15 Juni 2015, lahan Stadion BMW resmi dimiliki oleh pemerintah.

Maket dan desain pembangunan Jakarta International Stadium. Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Kendati demikian, butuh waktu hampir empat tahun bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan pembangunan. Masalah kedua yang dialami adalah ketersediaan dana.

Setelah sempat mandek, pada 2018 lalu, saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi dilantik, rencana pembangunan itu kembali mengemuka. Sayang, anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) tak mengakomodir pembangunan lantaran tak termasuk dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2018.

Kendati demikian, jalan untuk membangun Stadion BMW akhirnya menemui titik terang pada 28 Novemeber 2018 lalu. Kesepakatan itu terjadi saat Anies dan Dewan Perwalilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta resmi melakukan penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU). Adapun isinya mengesahkan APBD senilai Rp89,08 triliun dan di dalamnya termasuk untuk pembangunan stadion yang nantinya akan dinamai Jakarta International Stadium itu.

Setelah dua persoalan rampung, bukan berarti stadion segera dibangun. Masalah kemudian hadir saat pihak yang akan menjalankan proyek pembangunan. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi menggandeng PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk membangun stadion. Akan tetapi, DPRD semula menolak usulan pembangunan dipegang oleh Jakpro.

Maket dan desain pembangunan Jakarta International Stadium. Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Bukan tanpa sebab, karena Jakpro dalam melaksanakan pembangunan terlalu rumit untuk dibebani penugasan. Terlebih, Jakpro sejauh ini dianggap DPRD tidak kooperatif melaporkan analisis investasinya.

Kendati demikian, usulan DPRD menuai hasil minor. Pasalnya, Anies berpendapat bahwa terpilihnya Jakpro sudah melalui diskusi serta proses panjang. bahkan Anies menggaransi pembangunan sudah dikelola oleh pihak yang tepat.

Hingga pada akhirnya, Kamis (14/3) ini, Anies beserta Jakpro akan melakukan peletakan batu pertama sebagai penanda dimulainya pembangunan Stadion BMW. Dana sebesar Rp. 5 Triliun menjadi total pembiayaan dan diagendakan rampung pada akhir 2021 mendatang.

Maket dan desain pembangunan Jakarta International Stadium. Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Ya, tampakya sudah menjadi rahasia umum bahwa Persija ibarat anak tiri di rumah sendiri. Bermukim di Ibu Kota tak lantas membuat 'Macan Kemayoran' bisa leluasa menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Entah sudah berapa kali Persija harus terusir dari rumah sendiri. Tahun lalu misalnya, ketika SUGBK direnovasi guna kepentingan Asian Games 2018, Persija menjadi tim musafir dengan mengungsi ke Bantul, Bogor, dan Bekasi.

Kini, dengan mulai dibangunnya Jakarta International Stadium, tentu saja harapan Jakmania untuk bisa terus mendukung Persija di rumah sendiri akan terwujud. Semoga.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: