Pencarian populer
Jurnal: Bersama Lopetegui, Saya dan Milla Bercerita Soal Timnas U-23
Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)
Saya, Bayu Eka Sari, adalah orang yang beruntung. Kurang lebih satu tahun terakhir, sepak bola, khususnya Timnas Indonesia, menghadirkan momen dan pelajaran berharga dalam hidup saya.
Sudah sejak Januari 2017, saya berada di sisi Luis Milla. Saya adalah asisten sekaligus penerjemah beliau, baik di dalam dan di luar lapangan.
Berada di sisi coach Milla membuat saya bisa menyaksikan langsung bagaimana para pemain Timnas Indonesia U-23 mengucurkan keringat di sesi latihan dan pertandingan. Lambang Garuda hadir di dada mereka dan demi Indonesia, mereka berjuang.
Lewat coach Milla juga, saya bisa bertemu dan berbicara langsung dengan sosok hebat dalam dunia sepak bola. Ya, lewat tulisan ini, saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pada akhir Desember 2017, ketika saya berkunjung ke Spanyol, negara asal beliau.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Saya hampir tidak percaya ketika coach Luis mengatakan, "Kalau nanti kamu ke Spanyol akan saya ajak mengunjungi pusat pelatihan Timnas Spanyol dan kantor Federasi Sepak Bola Spanyol."
Namun, kenyataannya seperti itu. Ketika tiket sudah di-booking, coach Milla kemudian hanya bilang, "Saya sudah minta izin ke sahabat saya, Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Spanyol untuk mengunjungi fasilitasnya."
Sahabat yang dimaksud coach Luis tidak lain dan tidak bukan adalah mantan kapten sekaligus legenda Real Madrid serta Timnas Spanyol, Fernando Hierro. Pagi itu, beliau sudah membuat janji dengan sahabat-sahabat lamanya di kantor federasi di Las Rozas, Madrid, untuk sarapan pagi bersama.
"Bayu besok bersiaplah karena pelatih Timnas Spanyol, Julen Lopetegui, akan sarapan bersama kita," katanya.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Bingung saya mau jawab apa, antara tidak percaya dan tidak. Besok, saya, seorang fans berat sepak bola, akan bertatap muka dengan pelatih Timnas Spanyol. Timnas Spanyol, ya, mereka yang menjuarai Piala Dunia 2010.
Coach Milla juga mengatakan bahwa kami akan mengunjungi rumah yang ditempatinya dalam empat tahun terakhir. Cukup lama, ya, untuk seorang pelatih. Maklum saja, coach sempat punya karier paten di Timnas Spanyol usia muda, saat beliau merintis karier dari pelatih U-17 hingga menjadi juara Eropa bersama U-21.
Di sana dia melatih banyak bintang masa kini, di antaranya David De Gea, Ander Herrera, Thiago Alcantara, hingga Alvaro Morata. Kiprah mereka berlanjut sampai Timnas Spanyol yang kini dilatih Lopetegui.
Janji sarapan bersama pada pukul 10. Namun, karena saya deg-degan, pada pukul 9 saya dan dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi alias Papi, sudah menunggu di depan federasi. Dingin memang.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Jam 10 kurang barulah kami masuk. Di sana sudah menunggu pelatih kiper Timnas Spanyol, Miguel Angel Espana. Ditemani secangkir kopi susu dan roti tomat khas Spanyol, coach Milla pun memulai percakapan dengan memperkenalkan kami.
"Ini ada dr. Syarief, dokter Timnas Indonesia. Dan, ini adalah asisten saya di Indonesia," ujarnya.
Terharu saya rasanya. Sebab, coach Milla dengan bangga memperkenalkan kami di depan orang hebat. Coach Milla pun menceritakan progres Timnas Indonesia sejak dilatihnya. Kami mulai berdiskusi, dari hal teknis hingga non-teknis.
Dalam percakapan ini, dua orang yang pernah menjalani rutinitas di Las Rozas, Milla dan Angel Espana, bertukar pikiran. Kira-kira topiknya: Bagaimana formasi dan komposisi pemain di Timnas Indonesia? Kami, saya dan Milla, pun bercerita bahwa Indonesia memiliki pemain sayap yang cepat.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Saat diskusi berlangsung, Hierro masuk. Badannya tinggi tegap, khas seorang stopper. Disusul kemudian Lopetegui yang badannya juga tak kalah fit.
Mereka dengan ramah menyapa kami. Hierro kemudian tak sungkan untuk menanyakan bagaimana kabar tim yang latih oleh coach Milla. Dengan bangga, beliau mengatakan bahwa di tim ini anak anaknya luar biasa, attitude semuanya luar biasa, dan bertalenta.
Sayangnya, di antara segala keunggulan tersebut tim ini masih kurang dalam pengambilan keputusan di situasi tertentu. Pengambilan keputusan ini dapat dilatih dengan kompetisi sepak bola usia muda sejak dini. Hal itu kemudian yang dijelaskan oleh coach Milla bahwa kurangnya pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia, terasa dampaknya hingga ke timnas.
Lopetegui juga sempat bertanya soal Bali. Hmmmm... Sepertinya dia juga ingin liburan ke Bali suatu hari nanti.
Walaupun Lopetegui dan Hierro masih punya jadwal meeting pada pukul 11, mereka berdua masih menyempatkan diri untuk menyapa kami. Sebelum berpisah, saya ucapkan semoga sukses untuk Timnas Spanyol dalam perburuannya mengejar bintang kedua (satu gelar Piala Dunia sama dengan satu bintang).
Dengan bercanda, Lopetegui hanya menjawab bahwa di langit juga masih banyak bintang. Dia juga berujar agar kami juga sukses di Asian Games 2018.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Sayang sekali karena Lopetegui tidak bisa mewujudkan pesan saya di Las Rozas. Federasi melepas pria kelahiran Asteasu ini hanya dua hari sebelum laga perdana mereka di Piala Dunia 2018 bergulir.
Jika mendapatkan keberuntungan lagi untuk kembali ke Madrid, saya pun tidak bisa menemuinya di Las Rozas. Tak apa-apa, karena masih ada Hierro yang menjadi suksesornya.
Lagi pula, Lopetegui masih di kota yang sama dan saya bisa mengunjunginya di Valdebebas, lokasi latihan Real Madrid. Ya, sudah tahu kan bahwa Lopetegui akan menangani Los Blancos musim depan?

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Kunjungan ke Las Rozas berlanjut dengan melihat kondisi lapangan latihan. Ada lima lapangan, di antaranya empat rumput natural dan satu artifisial.
Dari lima lapangan tersebut, ada satu yang dijaga betul oleh federasi, yakni lapangan utama. Di sana juga tersedia tribune. Lapangan ini kondisinya bisa dikatakan sempurna. Dalam hati, saya berpikir mungkin ini yang sering diceritakan coach Milla tentang pentingnya perbaikan infrastruktur. Kalau berlatih di lapangan yang bagus, maka pemain akan dapat berlatih dengan bagus.

Perjalanan Bayu Eka Sari ke Madrid. (Foto: Dok. Bayu Eka Sari)

Setelah itu kunjungan ditutup dengan kunjungan ke museum federasi yang juga dibuka untuk umum. Dari situ bisa dilihat bahwa Timnas Spanyol ternyata sudah eksis sejak tahun 1920. Bahkan mereka sangat menghargai jasa para pahlawan (pemain yang memiliki caps bersama Timnas). Semua nama pemain dipajang di dinding federasi, termasuk di situ ada nama Milla.
Terakhir, ada patung mantan pelatih ternama spanyol, Luis Aragones. Tertulis sepenggal kalimat di bawah patung tersebut: Ganar, ganar y ganar. Bunyi serupa sering keluar dari mulut Luis Milla, yang artinya: menang, menang, dan menang.
====
Tulisan ini dibuat oleh asisten pelatih Timnas Indonesia sekaligus penerjemah Luis Milla, Bayu Eka Sari, ketika berkunjung ke Spanyol, Desember 2017. Ia menuliskannya kepada wartawan kumparanBOLA, Anju Christian.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: