kumparan
6 Jun 2018 2:59 WIB

Karena Guardiola, Yaya Toure Rela Dibayar 1 Poundsterling per Pekan

Yaya Toure empat kali jadi Pemain Terbaik Afrika. (Foto: Reuters/Darren Staples)
Hubungan Josep Guardiola Sala dan Gnegneri Yaya Toure memang tak pernah baik-bak saja. Bahkan, usai berpamitan dengan Manchester City pun, masih saja Yaya mengungkit keburukan manajer kelahiran Santpedor itu.
ADVERTISEMENT
Pada Senin (4/6/2018), mantan gelandang Olympiakos itu berkata pada France Football bahwa Guardiola tidak adil kepada pemain berketurunan Afrika. Hal ini mengacu pada pengalaman pribadinya ketika memperkuat Barcelona dan Manchester City. Dua klub yang kebetulan ada Guardiola dan Yaya dalam sejarahnya.
Saat masih memperkuat La Blaugrana, Yaya dijual ketika ia merasa sedang di puncak permainannya. Sementara, di musim perdana Guardiola di City, nama Yaya tidak terdaftar dalam skuat untuk Liga Champions. Di musim ini, gelandang yang sempat memperkuat AS Monaco itu hanya tampil sebanyak 17 kali dengan hanya sekali tampil sejak menit awal.
Pada akhirnya, perlakuan Guardiola terhadap Yaya ini membuat si pemain sakit hati. Kini, gelandang asli Pantai Gading itu berniat untuk membayar perlakuan buruk itu. Yaya, melalui mulut agennya, Dimitri Seluk, mengaku sudah menolak klub-klub luar Inggris supaya bisa membela rival The Citizens di Premier League. Menariknya, Yaya pun sudi dibayar 1 poundsterling per pekan (sekitar 18 ribu rupiah) untuk itu.
ADVERTISEMENT
"Yaya sudah menerima banyak tawaran dari klub lain dengan uang yang banyak, tapi kami dedikasikan musim ini untuk Guardiola dan untuk penggemar Manchester City. Karier Yaya belum habis dan dia punya kekuatan juga energi untuk bermain di Premier League musim 2018/19," ujar Seluk kepada sport24.
"Di era di mana klub-klub Inggris suka buang banyak uang, saya deklarasikan bahwa Yaya siap pindah ke klub enam besar lain secara cuma-cuma dengan gaji 1 poundsterling per pekan. Selama ada bonus jika tim yang ada Yaya-nya sukses di kemudian hari, tentu saja."
"Saya yakin Yaya cocok dengan klub macam Arsenal, Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, atau Liverpool, karena ia seorang pemenang. Pemain top yang mampu memimpin tim tentu saja tak pernah buruk, apalagi dapatnya secara gratis," pungkas Seluk.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan