Pencarian populer

Kegilaan terhadap Detail yang Membuat Bielsa Mengirim Mata-mata

Marcelo Bielsa, pelatih Leeds United. (Foto: Reuters/Paul Childs)

Seorang pria 'bersenjatakan' keker dan tang diciduk aparat Kepolisian Derbyshire ketika sedang 'bertindak mencurigakan' di sebuah pemukiman. Polisi yang datang ke tempat kejadian perkara mengetahui keberadaan pria itu dari laporan warga setempat. Namun, pada akhirnya pria tersebut dilepaskan karena, well, memang tidak ada hukum yang dia langgar.

Pria itu bukan pria biasa dan tempat dirinya diciduk bukan tempat biasa. Si pria adalah anggota staf kepelatihan Leeds United di bawah Marcelo Bielsa dan dia diciduk di pemukiman dekat markas latihan Derby County, rival Leeds di Championship Division. Pria itu sengaja dikirim Bielsa untuk memata-matai aktivitas latihan Derby.

Terciduknya staf kepelatihan Leeds itu kemudian mengundang reaksi keras, terutama dari Frank Lampard, pelatih Derby yang merasa dirugikan. Peristiwa itu terjadi sehari sebelum Leeds dan Derby bentrok di pekan ke-27. Pada pertandingan itu Derby kalah 0-2. Sebelumnya, pada perjumpaan pertama, The Rams pun menelan kekalahan yang lebih besar lagi, 1-4.

Lampard marah besar. Dia memang tidak mau menyebut Bielsa telah berbuat curang. Namun, secara tegas legenda Chelsea itu berkata bahwa apa yang dilakukan koleganya asal Argentina itu sudah kelewat batas. Lampard bahkan kemudian berujar bahwa lebih baik dia tidak melatih daripada harus melakukan apa yang diperbuat Bielsa.

Frank Lampard memimpin Derby County di laga melawan Norwich City. (Foto: Getty Images/Nathan Stirk)

Di sepak bola, Bielsa punya julukan 'El Loco' alias 'Si Gila' dan julukan itu tentu tidak datang secara tiba-tiba. Bielsa memang gila dan hal itu paling jelas tercermin dari bagaimana tim asuhannya bermain di lapangan dengan pressing ketat tanpa kendat. Dengan cara bermain itulah Leeds saat ini bercokol di puncak klasemen Championship sekaligus jadi tim dengan peluang terbesar promosi ke Premier League musim depan.

Namun, kegilaan Bielsa itu tidak sampai di situ. Ada kegilaan yang menyertainya dalam menyusun strategi, yaitu kegilaan terhadap detail. Ada yang mengganjal dalam diri Bielsa jika dia tidak mengetahui segalanya dan itulah yang dia tunjukkan dalam insiden mata-mata itu. Bielsa ingin tahu sedetail mungkin situasi Derby karena itu bakal membantu dirinya meraih kemenangan.

"Kami merasa bersalah kalau tidak bekerja cukup keras. Menyaksikan tim lawan berlatih memberiku ketenangan tersendiri," aku Bielsa.

Bielsa sendiri sudah mengakui bahwa dia memang mengirim mata-mata. Menurutnya, hal itu sah-sah saja dilakukan karena memang tak ada aturan yang dilanggar. Bielsa benar. Secara teknis memang tidak ada aturan tertulis dari FA maupun EFL (English Football League) yang menyatakan bahwa memata-matai lawan sebelum pertandingan merupakan perbuatan terlarang. Akan tetapi, mantan pelatih Athletic Club itu sendiri sadar kalau apa yang dilakukannya itu tidak benar.

"Ini bukan masalah legal atau ilegal, benar atau salah... bagiku, sudah cukup bahwa Frank Lampard dan Derby merasa bahwa itu bukan hal yang pantas dilakukan untuk meyakini bahwa aku telah berbuat tidak menyenangkan," kata Bielsa dilansir Sky Sports.

Tindakan Bielsa itu kemudian memicu respons dari FA dan EFL. Dua institusi tersebut berencana untuk melakukan investigasi. Rencana itu pun langsung ditanggapi oleh Bielsa dengan konferensi pers di markas Leeds. Lewat konferensi pers itu dia membeberkan segalanya termasuk bagaimana dia memata-matai semua rivalnya di Championship, bukan hanya Derby.

"Dengan beberapa patah kata aku bisa berkata kepada kalian bahwa kami mengamati semua rival yang kami hadapi dan kami menyaksikan semua sesi latihan tim lawan sebelum berhadapan dengan mereka," kata Bielsa seperti dikutip dari Reuters.

Dalam konferensi pers itu dia kemudian membeberkan segala hal yang dia tahu soal Derby. Untuk setiap tim yang dia analisis, Bielsa beserta timnya bisa menghabiskan waktu sampai 300 jam. Dari sana dia bisa mengetahui berapa lama seorang pemain bermain di posisi tertentu. Hal ini dia jelaskan lewat presentasi PowerPoint dan video analisis.

"Aku memang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi aku bisa bicara soal 24 klub yang ada di Championship. Aku mendapatkan informasi ini dengan menyaksikan 31 pertandingan. Aku melihat setiap pemain, aku tahu berapa menit pemain-pemain ini bermain di setiap pertandingannya. Aku tahu berapa lama mereka bermain di posisi tertentu," kata Bielsa seperti dicuitkan akun Twitter resmi Leeds.

Bielsa melanjutkan sesi ini dengan membeberkan metode persiapannya jelang pertandingan melawan Stoke City. Menurut Bielsa, ini pertandingan sulit karena dia tak memiliki banyak data soal The Potters.

"Sulit untuk menganalisis mereka karena mereka baru memainkan beberapa pertandingan dengan pelatih baru. Kami akhirnya memutuskan untuk menganalisis 26 pertandingan yang dia lakoni bersama Luton Town dan kami juga telah menganalisis beberapa skenario taktikal yang pernah dia gunakan," jelas pelatih 63 tahun tersebut.

Namun, meski pada dasarnya sesi konferensi pers ini adalah sebuah pembelaan, Bielsa menutupnya dengan sebuah janji bahwa dia takkan memata-matai lawan lagi. "Seperti yang Lampard katakan, dia tidak menganggap aku punya niatan buruk. Dia menganggap aku melanggar semangat fair play sehingga sekarang aku harus beradaptasi dengan aturan dan kebiasaan sepak bola Inggris," tandasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60