Pencarian populer

Kisah Oleng The Jak Menyusup ke Kandang ‘Macan’

Bobotoh di laga Persija vs Persib (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Minggu (23/9) bisa jadi merupakan akhir pekan paling mendebarkan bagi Oleng (bukan nama sebenarnya). Jakmania asal Depok ini duduk di tribun VVIP Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)--tempat tandang terlarang bagi semua suporter Persija seperti dirinya.

Oleng berhasil menonton laga Persija melawan Persib hari itu. Ia tak hanya bermodal nekat datang ke stadion GBLA, tapi juga kehati-hatian. Oleng mempersiapkan sejumlah hal, dari meraup informasi hingga menahan diri.

Berangkat bermodal motor vespa, duit, dan seorang rekan yang bisa berbahasa Sunda, Oleng menjaga mulutnya sepanjang pertandingan. Ia, misalnya, menahan diri sekuat tenaga untuk tak bersorak ketika tim favoritnya, Persija, mencetak gol. Sebaliknya, ia bertepuk tangan saat Persib menuai sukses.

Oleng paham, salah sedikit berperilaku, nyawanya bisa terancam. Dikeroyok Bobotoh, suporter Persib, salah satunya.

Ia ketar-ketir, dan menyudahi kunjungannya sebelum pertandingan habis. Oleng khawatir, di menit akhir Bobotoh menyisir penonton untuk mencari pendukung Persija. Mereka bakal menanyai setiap orang dengan bahasa Sunda, menggeledah dompet, hingga memaksa membuka telepon genggam.

Oleng tak mau ambil risiko. Lebih cepat pergi, lebih baik. Yang penting ia sudah nonton.

Sepulang dari Bandung, Oleng menerima pesan. Seorang Jakmania bernama Haringga Sirla meninggal karena dikeroyok Bobotoh. Haringga kepergok oleh Bobotoh dan dipukuli ramai-ramai di luar stadion, sebelum pertandingan digelar.

“Pas kejadian seperti ini buat pelajaran gue juga. Ya mungkin tahun depan sudah enggak nonton (di kandang lawan) lah ya. Ini terakhir, memang beda banget,” kata dia.

Koreografi Persib vs Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. (Foto: Sandi Firdaus/kumparan)

Sambil menyesap segelas kopi, Oleng menceritakan pengalamannya kepada kumparan, Rabu (26/9). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana awal mula memutuskan untuk ‘away’ ke Bandung?

Kalau gue ke Bandung itu sudah menjadi tekad dari tahun 2017, ada pemikiran ke Bandung karena penasaran. Kenapa sih kalau Persija main di Bandung tuh terornya kuat mulai dari suporternya atau pemainnya.

Tahun kemarin, kok bisa sih flare masuk ke dalam lapangan, masuk (hampir mengenai) ke pemain Persija. Nah itu yang membuat penasaran. Gue mikir tahun depan mau coba ke Bandung, kebetulan vespa gue pelat D (pelat Bandung), warna biru (warna yang identik dengan bobotoh). Nah gue sudah tekad sendiri sebenarnya untuk jalan, tapi teman rumah mau (ikut). Pacarnya indekos di sana, Padalarang. Berangkat Sabtu (22/9) jam 9 malam berdua, boncengan.

Ini bukan soal tes nyali atau gengsi sih. Tidak ada. Karena jatuhnya nazar saja tahun lalu yaitu ketika Persija dilempar dan diteror begitu banget.

Ada persiapan khusus pas mau ke Bandung?

Enggak sih, biasa saja. Bagaimana ya, gue mikirnya di situ, mati itu bukan oleh dia (bobotoh). Kalaupun gue mati, yang mencabut nyawa itu Tuhan bukan dia. Pikirannya itu saja.

Izin ke orang tua?

Gue tetap izin ke Bandung, tapi enggak bilang kalau mau nonton bola. Gue ngomong ke orang tua mau ke Bandung mau mengetes vespa. Emang pas gue di Bandung, orang tua WA (Whastapp) gue aja nanya di mana, di Bandung. Lalu berpesan, jangan pakai baju Persija. Mereka bilang gitu.

Video

Bagaimana bisa mendapatkan tiket pertandingan?

Gue jalan dari Alun-Alun Bandung itu habis Azan Zuhur. Situasi sudah ramai. Sampai stadion sekitar jam setengah dua. Di sana gue belum punya tiket tuh. Gue cari tiket, akhirnya dapet dari calo. Wah gila calo di sana, ngasih harganya tiga kali lipat dari harga aslinya. Gue dapat di harga Rp 100.000 karena menawar.

Yang menawar juga bukan gue, yang ngomong bukan gue karena enggak bisa bahasa Sunda. Tapi teman gue, karena memang pacarnya anak Bandung, jadi sedikit mengerti bahasa sunda.

Ada kendala pas masuk stadion?

Alhamdulillah gue masuk aman, masuk di sana dorong-dorongan. Gue cari tribun yang deket pintu keluar atau pintu masuk. Nah di situ sebisa mungkin nyantai saja sih, meskipun agak gugup.

Gue masuk stadion saja melewati kompleks perumahan dulu. Gue enggak berani parkir di area stadion walaupun ada parkiran. Gue engggak tahu GBLA sama sekali, enggak survei sebelum pertandingan.

Kesulitan di sana apa saja saat itu?

Kesulitannya seperti bahasa, itu susah. Kalau enggak ada teman, gue nggak tahu dah tuh alur ceritanya bagaimana. Soalnya kan bahasa tuh yang terpenting buat ke sana. Soalnya walaupun kita ditegur, kita bisa pakai bahasa itu. Takutnya dia bertanya tentang gue dari mana lalu lihat HP-nya, lihat KTP-nya. Kalau terus ditanyai kan pasti ketahuan, oh dia The Jak nih.

Memilih tribun apa di dalam stadion?

Gue di pintu barat. Hampir VVIP. Itu juga gue cari tempat yang kiri-kanan-nya bapak-bapak, enggak banyak anak muda. Gue juga dapet info kalau ada yang mau nonton di GBLA jangan di tribun utara, selatan, sama timur. (Sebelum berangkat) gue sudah tahu petanya. Di sana juga masuk duduk acak, enggak seperti di GBK. Kalau di GBK dapat tiket pintu timur, ya sudah di timur. Tiket gue sebenernya tribun selatan nah, cari saja masuk di tribun barat.

86 Nyawa Tumbal Sepak Bola (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Bagaimana rasanya ketika sudah berada di dalam stadion?

Sebenernya pas nonton di GBLA itu, gue enggak sampai habis nonton pertandingannya. Karena di situ (gue merasa) sudah enggak beres. Takutnya gue nanti kena sweeping (penyisiran), (takutnya) anak-anak Casual Persib pada sweeping. Di antara anak-anak (pendukung Persib) mereka itu ada yang mengenali gue karena berteman di Facebook.

Mereka itu mencari logat kita. Ya gue juga ngerinya dia nyamperin dan nanya dengan bahasa Sunda, tapi gue enggak bisa jawab. Langsung dah tuh dimintain KTP, dompet, HP, pasti diperiksa. Jadi gue cabut, gue enggak mau ambil risiko.

Merasa dicurigain pas di tribun?

Merasa dicurigai mah pasti ada. Bawaannya panik, ngerokok terus gue di tribun buat ngilangin panik.

Seperti apa ketika Persija membuat gol?

Pas gol (Persija) enggak teriak. Gue pikir memang sudah harus siap kalau misalnya Persija mencetak gol jangan bikin refleks. Dalam hati, gue harus siap kalau Persija bikin gol, gue nggak bakalan gembira segala macam. Benar, alhamdulillah enggak ada refleks gembira. Dalam hati, ada kata alhamdulillah. Terus berdoa gue.

Ya gue berdoa terus di tribun. Kalau Persib bikin gol, gue cuma ikut tepuk tangan saja, tapi dalam hati kesal. Kalau mereka nyanyi gue lip sync saja haha.

Suporter Persija Jakarta. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Apa arti Persija buat Anda sampai nekat mendukung di Bandung?

Bagi gue, Persija itu semangat hidup gue aja sih. Karena ya, satu cinta sepak bola. Pertama kenal klub, pertama gue dukung salah satu klub, yaitu Persija. Nggak ada yang lain.

Dari kecil. Dari gue SD, sudah mulai nonton di Lebak Bulus, diajak abang. Walaupun Persikad Depok ada sepak bolanya, tapi cuma angin-anginan tetap saja mau diperjuangkan, ya gue nggak bakalan dukung Persikad. Yang penting, gue suporter, gue cuma dukung satu klub doang, nggak ada yang lain. Dah itu aja.

Bagaimana Anda memandang tragedi yang menimpa Haringga?

Ya gue di Bandung sih termasuk orang-orang yang beruntung (selamat) dari kejadian itu. Kenapa? Karena gue sudah pikir, sebelumnya juga bertanya-tanya dengan yang sudah pernah ke sana, seperti anak (Jakmania) Pademangan. Bagaimana sih bisa ke stadion rival? Ya intinya enggak usah panik, kalau ada yang menegur jalan saja. Intinya seperti Persija main di GBK aja.

Pas kejadian seperti ini, jatuhnya pelajaran buat gue juga. Ya mungkin tahun depan sudah enggak lah ya (away days), ini terakhir. Memang beda banget, gue saja jalan dateng dag..dig..dug. Gue berdoa dalam hati, berdoa terus, alhamdulillah gue bisa masuk daerah stadion.

Apa yang Anda rasakan ketika tahu Haringga tewas?

Kesal ada, nggak tega. Ya bagaimana sih, keselnya tuh mereka orang nggak berpikir ke depan. Memang emosional ya emosional, tapi nggak harus menghajar orang kayak binatang gitu. Kayak bunuh binatang gimana sih, kayak bunuh tikus lah. Sampai dibacok, ada yang pakai bambu, botol segala macem, itu bagi gue nggak wajar banget buat menghukum The Jak seperti itu.

Pelajaran setelah away days ke Bandung bagaimana?

Pelajarannya, sebenarnya kalau misalkan nggak ada kejadian kematian kayak gini, mungkin suatu saat, dua tahun ke depan mau ke sana lagi. Pelajaran yang bikin gue tahu tuh, ya karena almarhum saja. Haringga itu meninggal dengan tragis lah. Yang terpenting semuanya, dalam diri gue yang pengin tahu tentang sepak bola Bandung, sudah terselesaikan. Sudah besok nggak lagi. Ini terakhir.

Ke depannya mau seperti apa? Ingin damai (dengan Bobotoh) atau mau tetap begini?

Soal damai, menurut gue ya susah ya, sulit. Ya nggak sedikit lah, ini ribuan. The Jak dengan Viking pasti ada pro dan kontra. Tapi soal kejadian kematian kayak gini mudah-mudahan nggak ada lagi. Rivalitas ya rivalitas, tapi soal bunuh tuh jangan. Mudah-mudahan nggak ada lagi.

Sebelum Haringga: Korban Persib vs Persija (Foto: Basith Subastian/kumparan)

------------------------

Ikuti laporan mendalam Sepak Bola Tumbal di Liputan Khusus kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57