Pencarian populer

Liverpool vs Chelsea: Menyiasati Efek Samping Pressing

Pelatih Chelsea, Frank Lampard, bersama Pedro Rodriguez dan Mateo Kovacic usai laga melawan Manchester United di Old Trafford. Foto: Reuters/Phil Noble
Kuncinya adalah adaptasi, kata Frank James Lampard Junior persis sebulan yang lalu. "Kami ingin pandai beradaptasi, entah itu sebelum maupun saat di dalam pertandingan," ujarnya mantap.
ADVERTISEMENT
Ketika bicara demikian, Lampard belum lama ditunjuk menjadi pelatih baru Chelsea. Optimismenya masih menggebu-gebu. Pria 41 tahun itu sebenarnya tahu bahwa dia datang di saat yang tidak tepat, ketika Chelsea baru saja kehilangan bintangnya, Eden Hazard, dan tidak bisa bergerak mencari pengganti lantaran harus menjalani embargo transfer. Namun, optimisme itu tak bisa dibikin-bikin.
Lampard, tentu saja, bukan orang tolol. Sebaliknya, dia adalah seorang genius, dalam arti yang sesungguhnya. IQ-nya sangat tinggi dan semestinya dia layak untuk jadi anggota Mensa. Optimisme Lampard itu beralasan karena meskipun Chelsea berada dalam masa embargo mereka tetap punya arsenal yang cukup komplet.
Pemain-pemain Chelsea yang diwariskan rezim Maurizio Sarri, misalnya, tidak buruk. Musim lalu mereka finis di urutan tiga Premier League dan mampu menjadi jawara di ajang Liga Europa. Skuat mereka bukan yang terbaik tetapi jauh sekali dari predikat yang terburuk. Ditambah dengan kembalinya laskar pinjaman yang rata-rata berusia muda, makin kuatlah optimisme Lampard tadi.
ADVERTISEMENT
Ini semakin diperkuat dengan apa yang mereka capai pada pramusim. Bayangkan, dengan komposisi yang ada, Chelsea sanggup menekuk Barcelona. Meskipun hanya didapatkan pada pramusim, kemenangan itu tak dapat dipandang sebelah mata. Biar bagaimana juga, Barcelona adalah Barcelona.
Davide Zappacosta, Ross Barkley, Danny Drinkwater, dan Emerson Palmieri merayakan gol Chelsea ke gawang Barcelona. Foto: AFP/Charly Triballeau
Namun, optimisme itu mendadak buyar ketika Lampard dan anak-anak asuhnya bertandang ke Old Trafford pada pekan pembuka Premier League 2019/20 akhir pekan lalu. Sembilan puluh menit lamanya mereka mencoba, mencoba, dan mencoba, tetapi di akhir cerita harus menelan kekalahan 0-4. Mereka semua dipaksa untuk kembali menjejak bumi.
Sebelum pembahasan ini berlanjut, mari kita kembali sejenak ke tahun 2003. Co Adriaanse ketika itu menjabat sebagai pelatih kepala AZ dan dalam sebuah pertandingan kandang timnya dipaksa menelan kekalahan telak 1-5 oleh Roda JC Kerkrade.
ADVERTISEMENT
Adriaanse, seusai pertandingan tersebut, menjelaskan bahwa timnya memiliki peluang yang lebih bagus dan sudah semestinya memenangi pertandingan. Menurutnya, siapa pun yang menganggap AZ tampil buruk pada pertandingan tersebut adalah korban dari 'jurnalisme papan skor'.
Ya, jurnalisme papan skor. Mudah saja untuk menyebut Chelsea 'dibantai', 'dihajar', 'digulung', 'dipermalukan', atau 'dicukur' Manchester United pada pertandingan tadi. Toh, skor akhir bisa menjustifikasi itu. Akan tetapi, faktanya adalah Chelsea tidak seburuk itu dan Manchester United beruntung bisa lolos dari laga itu tanpa kebobolan satu gol pun.
Pertandingan antara Manchester United dan Chelsea itu sesungguhnya berjalan seimbang di mana kedua tim sama-sama belum menampilkan permainan terbaiknya. Ada terlalu banyak ruang yang mereka ciptakan untuk lawannya dan, kebetulan, United bisa memanfaatkannya. Sementara itu, Chelsea bisa dibilang sial karena dua peluang emas mereka membentur tiang gawang.
ADVERTISEMENT
Artinya, Chelsea memang harus kembali menjejak tanah. Biar bagaimana pun, kekalahan tadi menunjukkan bahwa mereka masih punya kelemahan. Akan tetapi, tidak ada alasan bagi mereka untuk menatap pertandingan Piala Super Eropa, Kamis (15/8/2019) dini hari WIB, melawan Liverpool dengan kepala tertunduk.
Ada beberapa hal positif yang ditunjukkan Chelsea pada pertandingan menghadapi Manchester United tadi, khususnya saat menyerang dan melancarkan pressing. Di sini, dua orang yang layak berbangga adalah Lampard sendiri dan Mason Mount, pemain muda Chelsea yang sebelumnya dilatih Lampard di Derby County.
Cara Chelsea melancarkan pressing patut diacungi jempol. Di sinilah kemampuan adaptasi mereka tampak. Pakem dasar Chelsea adalah 4-2-3-1, di mana Mount bermain persis di antara Jorginho-Mateo Kovacic dan Tammy Abraham. Ketika kehilangan bola dan melancarkan pressing, Mount maju ke depan sehingga formasi Chelsea berubah menjadi 4-2-4. Inilah adaptasi yang dibilang Lampard tadi.
ADVERTISEMENT
Pressing ini membuat Manchester United kesulitan mengembangkan permainan sesuai keinginan Ole Gunnar Solskjaer. Sejak pertama kali ditunjuk menjadi pelatih, Solskjaer ingin agar United membangun serangannya dari belakang dan menguasai bola sebanyak mungkin. Ini tidak tampak dari laga melawan Chelsea tersebut.
Statistik akhir pertandingan menunjukkan bahwa Chelsea mampu menguasai bola dengan persentase 55% dan melepas tujuh tembakan lebih banyak ketimbang United. Artinya, sekali lagi, Chelsea tidak seburuk itu dan Manchester United tidak sehebat itu.
Emerson Palmieri (kiri) menggiring bola melewati Jesse Lingard. Foto: Reuters/Jason Cairnduff
Keunggulan Chelsea dalam menyerang itu tentu tak bisa dilepaskan dari taktik Lampard. Pressing yang dilancarkan tanpa bola membuat mereka lebih mudah dalam mendaur ulang permainan. Ketika momen ini tiba, Mount seperti selalu bisa berada di tempat yang tepat. Pergerakannya begitu liar. Ke kiri, ke kanan, ke belakang, dan tiba-tiba saja pertahanan United terancam.
ADVERTISEMENT
Dengan kata lain, Lampard dan Chelsea masih punya alasan untuk merasa optimistis. Setidaknya, mereka tahu sepak bola macam apa yang ingin mereka terapkan. Soal hasil, itu urusan lain. Yang penting, mereka sekarang sudah bisa memahami konsep dan menerapkannya di lapangan.
Meski demikian, satu hal yang patut diingat adalah Liverpool bukan Manchester United. Tim asuhan Juergen Klopp itu, musim lalu, hampir menjadi juara Premier League dan sukses memenangi Liga Champions. Di laga perdana liga musim ini pun mereka tampak tidak kesulitan mengulangi apa yang mereka perbuat musim lalu dengan menghantam Norwich City 4-1.
Liverpool jauh lebih kuat dari Manchester United. Mereka nyaris tidak melakukan pembelian di bursa transfer lalu karena, well, tidak perlu melakukannya. 'Si Merah' cuma mendatangkan dua pemain muda yang langsung dipinjamkan lagi ke klub lain plus satu kiper cadangan karena skuat mereka sudah begitu solid.
ADVERTISEMENT
Jika Manchester United yang masih labil saja bisa mencetak empat gol ke gawang Chelsea, bayangkan apa yang bisa dilakukan Liverpool. Terlebih, Sadio Mane sepertinya sudah bisa bermain sebagai starter usai menjalani liburan selepas membela negaranya di Piala Afrika.
Sadio Mane (kanan) tampil sebagai pengganti dalam laga perdana Liverpool di Premier League 2019/20 menghadapi Norwich City. Foto: Reuters/Phil Noble
Di laga melawan Norwich, yang menjadi penyerang sayap kiri Liverpool adalah Divock Origi. Pemain asal Belgia itu tidak tampil mengecewakan dengan satu gol yang dia cetak. Namun, Origi bukan Mane yang punya lebih banyak senjata di arsenalnya untuk mengeksploitasi pertahanan Chelsea.
Manchester United menang telak atas Chelsea, salah satunya, berkat kemampuan mereka mengeksploitasi ruang di antara lini tengah dan belakang. Ini memang merupakan efek samping dari pressing agresif yang dilancarkan para pemain Chelsea. Menghadapi Liverpool, efek samping itu harus ditekan habis karena itu akan menjadi jaminan bagi kehancuran mereka kalau dibiarkan.
ADVERTISEMENT
Pada laga melawan Manchester United ada tiga kelemahan di permainan Chelsea. Pertama, jarak yang terlalu besar tadi. Ini adalah perkara komunikasi. Celah tersebut tidak semestinya tercipta jika para pemain Chelsea menjalankan instruksi Lampard sampai ke titik komanya.
Para pemain belakang The Blues tak bisa lagi terlalu santai di lapangan sehingga akhirnya celaka sendiri. Apalagi, N'Golo Kante kemungkinan besar tak bisa bermain karena cedera ringan. Tak ada sosok yang bisa menjelajah celah itu untuk menghentikan serbuan lawan.
Kedua, jebakan offside yang tidak bekerja. Lagi-lagi, ini ada kaitannya dengan komunikasi dan bagaimana para pemain Chelsea belum becus memahami ruang. Gol kedua Marcus Rashford lahir karena jebakan ini justru menjadi senjata makan tuan. Menghadapi Liverpool, hal-hal ini tak bisa lagi terulang.
ADVERTISEMENT
Mo Salah merayakan gol ke gawang Norwich City bersama rekan-rekannya di Liverpool. Foto: Reuters/Phil Noble
Terakhir, Kurt Zouma. Pemain asal Prancis ini tampak tidak nyaman selama pertandingan di mana dia membuat banyak sekali kesalahan termasuk satu pelanggaran berbuah penalti. Kesalahan-kesalahan elementer Zouma ini tak bisa ditolerir juga Chelsea ingin meraih kemenangan atas Liverpool.
Dengan demikian, ada dua hal yang bisa dilakukan Lampard. Pertama, mematangkan cara bertahan lewat drill di sesi latihan. Kedua, mencari alternatif untuk mengganti Zouma. Dalam keadaan darurat seperti ini, di mana Antonio Ruediger masih belum pulih seratus persen, Lampard bisa menggeser Cesar Azpilicueta ke tengah dan memainkan Davide Zappacosta di sayap.
Di sisi lain, Liverpool sendiri tak bisa meremehkan cara Chelsea melancarkan pressing tanpa bola. Pada prinsipnya permainan Liverpool dibangun dari belakang, sama halnya dengan Manchester United. Artinya, ada risiko bahwa rencana Klopp bisa rusak akibat hebatnya tekanan para pemain tengah dan depan Chelsea.
ADVERTISEMENT
Untuk meningkatkan kans meraih kemenangan, Liverpool bisa melakukan cara 'curang' dengan memberi porsi lebih pada bola panjang. Dari sana, para sprinter di lini depan Liverpool akan menemukan celah untuk dieksploitasi. Namun, itu bukan satu-satunya jalan karena Liverpool sesungguhnya memiliki kapabilitas untuk melewati tembok pressing itu lewat umpan-umpan vertikalnya.
=====
Liverpool dan Chelsea akan berhadapan dalam ajang Piala Super Eropa di Besiktas Park, Istanbul, Kamis (15/8/2019) dini hari pukul 02:00 WIB.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86