Pencarian populer

Memaksimalkan Messi, Memaksimalkan Argentina

Messi di laga versus Kroasia. (Foto: REUTERS/Carlos Barria)

Mungkin, apa yang ada di benak Lionel Messi saat ini adalah kegagalan di ajang Piala Dunia 2014. Di ajang tersebut, tinggal selangkah lagi Argentina meraih trofi Piala Dunia, sebelum Jerman menghentikan mereka.

Di bawah asuhan Alejandro Sabella, kemampuan Messi benar-benar termaksimalkan. Setelah di ajang Piala Dunia 2010 gagal menjadi playmaker di bawah asuhan Diego Maradona, di ajang Piala Dunia 2014, dengan peran free role yang dia emban dan ditopang oleh nama-nama seperti Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, dan Angel Di Maria, Messi menggila.

Selain total 10 gol dari 18 laga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Amerika Selatan, total 4 gol sukses Messi cetak di ajang Piala Dunia 2014 (selisih dua gol dari James Rodriguez, si pencetak gol terbanyak). Hal itu mencerminkan kapasitasnya bersama Timnas Argentina saat itu. Kemampuan Messi, yang biasanya melempem di Timnas, begitu terlihat pada 2014 silam.

Namun, meski sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya, Argentina tetap kalah dari Jerman di babak final. Ini terjadi karena di laga final, penampilan rekan-rekan Messi mengalami anti-klimaks. Mereka gagal membantu Messi, tidak seperti di laga-laga sebelumnya.

Meski akhirnya gagal menjadi juara dunia, setidaknya, skema yang diterapkan oleh Sabella ini dapat menjadi contoh dari memanfaatkan kemampuan terbaik Messi. Skema yang setidaknya bisa menjadi acuan bagi Jorge Sampaoli, saat ini.

***

Di ajang Piala Dunia 2018 sejauh ini, Argentina tampil melempem. Satu hasil seri ditambah satu kekalahan menghiasi perjalanan mereka di Rusia. Hal ini membuat peluang mereka untuk lolos ke babak 16 besar menipis.

Dua kekalahan yang dialami oleh Argentina ini hadir karena salah satu faktor yang cukup menentukan: Taktik. Dari dua laga yang sudah dijalani, tak ada dasar taktik yang dipegang oleh Sampaoli. Ketika di laga pertama dia menerapkan skema 4-2-3-1, di laga kedua dia menerapkan skema 3-4-3. Hal ini menimbulkan kebingungan tersendiri di kalangan pemain.

Pada laga melawan Islandia, Messi memang bisa bermain apik. Ditempatkan di belakang Sergio Aguero yang menjadi penyerang tunggal, Messi mampu melepas 11 tembakan serta mencatatkan persentase umpan sukses sebesar 86%. Terlepas dari tak ada gol yang tercipta, setidaknya hal itu mencerminkan bebasnya Messi dalam menyerang.

Sedangkan dalam laga melawan Kroasia, Messi malah terkurung. Sepanjang laga, Messi hanya mampu menorehkan 1 tembakan saja, dengan persentase umpan sukses hanya sebesar 75%. Dia seperti terkurung, tidak mendapatkan ruang, sehingga akhirnya gagal berkontribusi terhadap serangan Argentina.

Messi ditekel lawan. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson)

Dalam laga melawan Nigeria nanti, Sampaoli harus menemukan skema yang cocok untuk memaksimalkan permainan Argentina. Lebih khusus, Sampaoli harus tahu cara memanfaatkan Lionel Messi. Bagaimanakah caranya?

Jika boleh memprediksi (memberi saran), Sampaoli harus menggunakan skema yang dia terapkan ketika melawan Islandia. Messi jangan sampai dipasang di sayap, karena hal tersebut dapat mempersempit ruang geraknya. Messi bisa ditempatkan sebagai pemain sayap, namun bek sayap, penyerang tengah, dan salah satu gelandang tengah harus menyajikan ruang baginya untuk berkreasi.

Ini yang diterapkan oleh Sabella pada 2014 silam. Meski menempati posisi sayap kanan, Messi leluasa bergerak karena Higuan, Fernando Gago, serta Pablo Zabaleta memberikan ruang bagi Messi untuk bergerak. Inilah yang membuat Messi menggila, karena ruang untuknya bergerak sudah disediakan oleh para pemain di sekitarnya.

Hal di atas bisa diterapkan jika Messi dipasang sebagai pemain sayap. Hal berbeda bisa dilakukan jika Messi dijadikan sebagai gelandang serang. Ini mengacu kepada peran false nine yang dijalani Messi di Barcelona. Di Argentina, kemampuannya bisa dimaksimalkan jika dia juga diberikan peran yang sama, yaitu peran false nine. Dengan peran ini, Messi bebas mencari ruang untuk dirinya sendiri dan rekan satu timnya.

Lionel Messi berlatih jelang melawan Islandia. (Foto: Albert Gea/Reuters)

Namun, agar kejadian ketika melawan Islandia tidak terulang, maka Messi harus ditopang oleh para pemain lain, Ketika 2014 silam, Di Maria, Aguero, dan Higuain dapat mendukung Messi. Tidak hanya menyajikan ruang, mereka juga dapat menggantikan peran Messi ketika Messi dikurung dan ruangnya dikebiri. Mereka bisa menjadi pendobrak pertahanan lawan.

Beruntung, di skuat Argentina sekarang, nama Higuain, Di Maria, dan Aguero masih ada. Dengan memaksimalkan peran Aguero, Higuain, dan Di Maria, setidaknya Messi dapat bergerak bebas dan dapat berkontribusi banyak terhadap permainan Argentina.

***

Sebenarnya, selain menemukan formula yang pas untuk Messi, ada satu hal lain yang juga harus dilakukan oleh Sampaoil: mengimbangi ego Messi. Sudah menjadi rahasia umum jika Messi, di balik karismanya sebagai megabintang, juga menyimpan ego yang kelewat besar. Ego ini yang kerap berpengaruh terhadap strategi yang diterapkan Argentina.

Pada akhirnya, strategi yang diterapkan Argentina memang harus mengakomodir kemampuan dan keinginan Messi, seperti halnya yang Sabella lakukan. Untuk sekarang, hanya itu yang bisa dilakukan, mengingat pengaruh Messi sudah kelewat besar di tubuh Argentina.

Maka. untuk mengakomodir Messi, cara-cara di atas bisa ditempuh. Namun, tampaknya hal itu akan menjadi sulit, mengingat kualitas skuat Argentina sekarang yang tidak sementereng 2014 silam. Namun, sebagai ahli taktik, bukan berarti Sampaoli tidak bisa meramu skuat Argentina yang ada sekarang.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23