kumparan
9 Jan 2019 8:28 WIB

Memori Buffon soal Kesepiannya di Juventus Dulu

Gianluigi Buffon (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Sulit sekali mencari padanan Gianluigi Buffon dalam sejarah Juventus. Selama 17 musim bersama 'Si Nyonya Tua' Buffon secara konsisten mampu tampil di level teratas dan mempersembahkan 19 trofi. Meski demikian, bukan berarti kiper berusia 40 tahun itu tidak pernah mengalami kesulitan berarti.
ADVERTISEMENT
Buffon yang saat ini memperkuat Paris Saint-Germain, kepada Vanity Fair, membeberkan sebuah cerita yang terjadi pada masa-masa awalnya di Juventus. Ada satu pertandingan di mana dia memutuskan untuk tidak bermain karena mengalami serangan panik. Ini terjadi dalam periode di mana Buffon merasa sangat kesepian di Juventus.
"Untuk beberapa bulan semuanya jadi terasa janggal. Ketika itu rasanya tidak ada orang yang peduli kepadaku. Mereka cuma peduli pada sosok pesepak bola yang aku tampilkan," kenang Buffon. "Rasanya seperti semua orang selalu bertanya bagaimana keadaan Buffon tetapi tak seorang pun menanyakan bagaimana kondisi Gigi. Itu adalah momen yang sangat sulit."
Gigi Buffon bersama Antonio Chimenti. (Foto: AFP/Damien Meyer)
"Waktu itu usiaku 25 tahun dan di lapangan semuanya terasa menyenangkan. Namun, pada suatu hari sebelum pertandingan Serie A aku menemui pelatih kiper, Ivano Bordon, dan berkata, 'Ivano, siapkan [kiper kedua Antonio] Chimenti untuk pemanasan dan bermain. Aku mengalami serangan panik dan berada dalam kondisi yang tidak memungkinkanku untuk bermain," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Buffon juga berkata bahwa situasi sulit itu menjadi pelajaran berharga baginya dalam meneruskan kariernya. Tanpa masa-masa sulit itu Buffon berkata bahwa dia takkan bisa sesukses sekarang.
"Kalau aku tidak pernah merasakan itu, bagaimana semuanya terasa berat dan hubunganku dengan orang-orang merenggang, mungkin aku tidak akan pernah bisa seperti sekarang. Bagiku itu adalah momen yang menunjukkan dua opsi. Akankah aku menyerah atau menghadapi segala masalah itu dengan semua yang kupunya," ujar Buffon.
"Aku sama sekali tidak pernah punya masalah dalam menunjukkan emosi atau menangis. Aku sudah sering melakukan itu dan aku tidak malu melakukannya," tambah peraih gelar juara dunia 2006 ini.
Buffon dengan medali Juara Dunia 2006. (Foto: Flickr)
Dalam kesempatan ini Buffon tak cuma bertutur soal masa sulitnya di Juventus, tetapi juga persoalan rasialisme yang masih jadi momok menyebalkan di Italia. Pada laga Serie A di hari Santo Stefanus, Kalidou Koulibaly menjadi sasaran olok-olok rasial dari pendukung Internazionale di Giuseppe Meazza. Menurut Buffon, apa yang dialami Koulibaly adalah cerminan dari masalah Italia secara holistik.
ADVERTISEMENT
"Jika ada perahu yang tenggelam di luar Italia dan 300 orang meninggal, kami semua akan bersedih dan bakal berpikir bagaimana caranya mengadopsi mereka yang jadi yatim piatu. Namun, kalau kapal itu tidak tenggelam, kami bakal mengeluh soal kedatangan 300 imigran di negara kami," ucap Buffon.
"Sulit sekali untuk menemukan konteks khusus soal apa yang terjadi di Milan. Kebencian adalah penyakit terlepas dari mana ia datang, bukan cuma di stadion, karena aku punya kecurigaan bahwa di sini sepak bola hanyalah sebuah justifikasi yang tidak tepat," tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan