kumparan
31 Okt 2018 16:38 WIB

Mendedah Starting XI Ideal Timnas Indonesia di Piala AFF 2018

Starting XI Ideal Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 versi kumparanBOLA. (Foto: kumparan/Basith.S)
Sudah diketahui 23 pemain yang bakal menjadi skuat Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2018. Pertanyaannya sekarang: Bagaimana starting XI ideal pilihan pelatih Bima Sakti?
ADVERTISEMENT
Kalau merujuk daftar pemain, aroma Luis Milla masih tampak. Itu terlihat dari 16 pemain yang merupakan penggawa Timnas U-23 asuhan Milla di Asian Games 2018. Pelatih Bima Sakti menyebut kondisi tersebut sebagai perpaduan antara junior dengan senior.
Berangkat dari fakta tersebut, gaya permainan Timnas tentu tak akan jauh berbeda dengan taktik yang kerap diperagakan Milla selama Asian Games 2018. Yang mana juru taktik asal Spanyol itu sering memaksimalkan kelincahan pemain sayap dan mengancam dari sisi lapangan.
Maka tak heran apabila pemain sayap yang punya pergerakan lincah macam Febri Hariyadi dan Irfan Jaya menjadi langganan pemanggilan Milla. Di atas lapangan, sayap-sayap 'Garuda' mendapatkan keleluasaan untuk menyisir tepi pertahanan lawan dengan dribel-dribel maupun umpan silang.
ADVERTISEMENT
Untuk menopang skema tersebut, full-back yang dipasang harus mempunyai daya ledak. Karena siapa pun full-back yang nanti diturunkan bakal mendapatkan hak tampil ofensif untuk ikut menyuplai bola ke striker maupun melakukan kombinasi.
Bersumber pada stok pemain dan gaya bermain Milla, kumparanBOLA mencoba membedah starting XI ideal Timnas ketika berlaga di Piala AFF 2018. Silakan.
Kiper
Tanpa mengesampinkan dua kiper lain, kami memilih Andritany Ardhiyasa sebagai kiper inti Timnas. Pemain milik Persija Jakarta itu mengatongi atribut mental yang bisa memberikan ketenangan bagi pemain belakang. Belum lagi, Andritany piawai mengorganisasi pertahanan dengan melontarkan kata-kata ampuh.
Andritany tampil impresif mengawal gawang Persija di sepanjang kompetisi ISC A 2016. (Foto: PT GTS/ISC A)
Modal lainnya, Andritany memiliki refleks apik untuk mematahkan tembakan-tembakan lawan. Di balik sisi positif, Andritany mempunyai rapor merah perihal penalti. Ya, ia kerap salah membaca arah bola hasil tendangan penalti lawan.
ADVERTISEMENT
Bek
Menyoal pertahanan, Fachruddin Aryanto dan Hansamu Yama bakal menjadi tumpuan Bima. Ada beberapa aspek yang menjadi latar belakang. Salah satunya adalah kualitas kedua bek itu. Fachruddin, misalnya, tangguh mematahkan bola atas dan pintar membaca pergerakan lawan.
Sedangkan, Hansamu ahli memotong laju bola bawah lewat tekelnya. Selain itu, pergerakan Hansamu tergolong cepat untuk pemain bertahan. Itu memungkinkan ia untuk mengover tepi lapangan manakala lawan melancarkan serangan balik yang cepat.
Untuk mengapit kedua bek tersebut, pilihan kami tertuju pada I Putu Gede di kanan dan Risky Pora di kiri. Pemilik nama terakhir mempunyai daya ledak apik karena dulu ia merupakan gelandang sayap. Kendati begitu, tak boleh meragukan kemampuan defensif pemain Barito Putera itu.
ADVERTISEMENT
Barito Putera vs Arema FC (Foto: Dok. Liga Indonesia)
Risky mampu meredam tekanan lawan yang mengandalkan lebar lapangan dengan kecepatan dan tekel efektif. Saat memegang bola dan berada di sepertiga akhir, Risky seringnya melakukan cut inside dan melepaskan tembakan keras.
Khusus full-back kiri, kami sebetulnya agak dilema. Karena melihat sejumlah uji coba terakhir, Risky memiliki naluri menyerang lebih tinggi ketimbang bertahan. Alhasil, sisi kiri pertahanan kerap lowong saat transisi menyerang ke bertahan. Karena di Barito Putera, dia didaulat sebagai sayap kiri.
Maka itu, apabila Bima membutuhkan keseimbangan, Alfath Fathier bisa menjadi pilihan ideal pula. Dia lebih aktif dalam transisi dari menyerang ke bertahan sehingga tidak terlambat turun. Satu lagi, kehadiran Alfath tidak akan mengubah pola serangan karena seperti Risky, dia juga kerap menusuk ke tengah alih-alih menyisir tepi lapangan.
ADVERTISEMENT
Gaya yang disebut terakhir turut membedakan Risky-Alfath dengan Putu Gede. Jika full-back kiri gemar merangsek dan mengakhiri serangan, Putu Gede adalah pelayan dari tepi lapangan. Pemain milik Bhayangkara FC itu akan berlari melebar dan menyodorkan umpan silang saat berada di pertahanan lawan.
Tengah
Dalam formasi 4-2-3-1, penentuan dua pemain yang berperan sebagai holding midfielder amat krusial. Sebab, kedua pemain itu bakal mendapatkan dua tugas sekaligus, yakni menjadi jembatan antarlini dan pemutus serangan lawan sebelum menginjak sepertiga pertahanan.
Dengan meninjau tugas tersebut, kami menaruh kepercayaan kepada Evan Dimas dan Bayu Pradana. Karakter menjadi salah satu aspek yang menjadi pertimbangan kami.
Evan merupakan gelandang kreatif yang pintar menghidupkan koneksi. Pemain Selangor FA itu memiliki daya jelajah yang tinggi untuk melakukan kombinasi dan membuka ruang dengan mendekati rekannya yang tengah menguasai bola. Di samping itu, Evan adalah distributor ulung.
ADVERTISEMENT
Evan Dimas vs Hungwei Chen di laga Timnas U-23 vs Taiwan. (Foto: INASGOC/Charlie/sup/ANTARA)
Bagaimana dengan Bayu? Kapten Mitra Kukar ini ahli membaca arah bola lawan. Ledakan Bayu amat dibutuhkan lini tengah Timnas untuk menghentikan pergerakan lawan dengan tekel-tekel mumpuni. Apalagi, di 'Naga Mekes', ia kerap berperan sebagai inisiator serangan.
Di depan duet Evan-Bayu, kami menaruh Stefano Lilipaly. Pilihan itu bukan tanpa dasar. Lilipaly merupakan gelandang visioner. Pemilik nomor kostum 10 ini tahu kapan mesti menahan bola atau mengumpan.
Lebih hebat lagi karena sosok milik Bali United ini mengatongi insting mencetak gol. Oleh karena itu, ketika serangan Timnas berujung kegagalan, Lilipaly bisa bertransformasi menjadi striker tajam.
Menentukan starter untuk pos sayap merupakan hal yang sulit bagi kami. Terlalu banyak pemain sayap yang memenuhi indeks kriteria yang sudah kami tetapkan, yakni lincah dan tajam. Tanpa mengalpakan pemain lain, kami memilih Febri Hariyadi dan Riko Simanjuntak.
ADVERTISEMENT
Febri dan Riko merupakan sayap yang cakap merangsek ke dalam kotak, menyodorkan umpan tarik, dan melepaskan tembakan keras ke gawang. Sisi negatinya, Febri kerap salah dalam mengambil keputusan, sedangkan Riko seringnya telat mengambil keputusan. Efeknya, peluang-peluang yang didapatkan Timnas berujung kegagalan.
Striker
Sulit bagi kami untuk tak menjadikan Alberto 'Beto Goncalves' sebagai starter. Striker Sriwijaya FC ini ahli dalam penempatan posisi, tajam, dan mempunyai daya jelajah tinggi. Sederet atribut tersebut bakan menjadi modal bagi Timnas untuk melesakkan gol ke gawang lawan.
Starting XI Ideal Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 versi kumparanBOLA. (Foto: kumparan/Basith.S)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan