Pencarian populer

Menelaah Kiprah Pelatih Lokal Timnas Indonesia di Piala AFF

Para pelatih lokal Timnas Indonesia di ajang Piala AFF. (Foto: Twitter @footballinanews)

Setelah tampil di dua ajang besar, yakni Piala Asia U-16 dan Piala Asia U-19, Timnas Indonesia akan kembali mentas di ajang besar antar negara, yaitu Piala AFF 2018. Bima Sakti menjadi nakhoda Timnas Indonesia untuk ajang ini.

Piala AFF 2018, berbeda dengan edisi Piala AFF sebelumnya, akan menggunakan format yang berbeda. Jika lazimnya konsentrasi penyelenggaraan dipusatkan di suatu negara, Piala AFF kali ini menggunakan format kandang dan tandang. Tiap tim di fase grup akan menjalani dua laga kandang dan dua laga tandang, dengan penentuan kandang-tandang yang sudah diatur oleh pihak AFF selaku penyelenggara.

Timnas Indonesia sendiri tergabung di Grup B bersama Thailand, Filipina, Singapura, dan Timor Leste. Laga tandang akan dijalani Indonesia menghadapi Thailand dan Singapura, sedangkan dua laga kandang akan dijalani Indonesia menghadapi Filipina dan Timor Leste.

Untuk ajang Piala AFF 2018 ini, PSSI resmi menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih, menggantikan Luis Milla yang kontraknya habis seusai Asian Games 2018. Selaku pelatih lokal, Bima menanggung beban yang lumayan besar: mengantarkan Indonesia meraih gelar Piala AFF pertama mereka.

Tapi, Bima tidak sendiri. Setidaknya, di ajang-ajang Piala AFF (dulu masih bernama Piala Tiger) terdahulu, pernah ada sosok-sosok pelatih lokal yang mengemban tanggung jawab sama besarnya seperti Bima. Berikut adalah sosok-sosok lokal yang pernah memimpin Timnas Indonesia di ajang Piala AFF.

Danurwindo (Piala AFF/Piala Tiger 1996)

Dalam perhelatan Piala AFF perdana pada 1996 ini, Timnas Indonesia yang juga menjadi salah satu penggagas bersama Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, mengirimkan tim terbaik, berisikan nama-nama apik macam Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Aples Tecuari, Bima Sakti, dan Yeyen Tumena.

Selain nama mereka, ada juga nama-nama semisal Robby Darwis, Peri Sandria, Widodo C. Putro, Francis Wewengkang, dan Hendro Kartiko yang bersinar di klub. Pemain-pemain apik itu diasuh oleh Danurwindo yang menjabat sebagai pelatih. Target menjadi juara di akhir musim pun diusung.

Setelah tampil baik di fase grup, Indonesia harus terhenti di babak semifinal usai ditaklukkan oleh Malaysia dengan skor 3-1. Pada laga perebutan tempat ketiga, Indonesia juga kalah dari Vietnam dengan skor tipis 2-3. Raihan peringkat keempat merupakan capaian dari Danurwindo dan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 1996 yang diadakan di Singapura ini. Thailand yang keluar sebagai juara.

Rusdy Bahalwan (Piala AFF/Piala Tiger 1998)

Piala AFF 1998 mungkin menjadi salah satu ajang Piala AFF yang kontroversial bagi Indonesia. Di bawah asuhan pelatih Rusdy Bahalwan (alm.), selain kasus sepak bola gajah dalam laga terakhir fase grup menghadapi Thailand, proses pemilihan skuat yang dilakukan Rusdy juga condong kepada salah satu klub tertentu, yakni Persebaya Surabaya.

Total, ada 11 pemain Persebaya yang membela Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 1998 ini. Meski diwarnai kontroversi, Indonesia mampu menorehkan prestasi yang lumayan bagus. Lolos dari fase grup, mereka kalah dari Singapura dengan skor 2-1 di babak semifinal. Di laga perebutan tempat ketiga, Indonesia sukses menang atas Thailand lewat babak adu penalti. Singapura yang keluar sebagai juara di kali ini.

Nandar Iskandar dan Dananjaya (Piala AFF/Piala Tiger 2000)

Setelah kontroversi pada 1998, Indonesia kembali mengenakan jasa pelatih lokal di ajang Piala AFF 2000. Pilihan jatuh kepada Nandar Iskandar, sosok asal Bandung yang juga pernah menangani Persib Bandung dan Bandung Raya.

Piala AFF 2000 ini menjadi kemunculan dari sosok-sosok muda, seperti Bambang Pamungkas, Gendut Doni Christiawan, Imran Nahumarury, serta Ismed Sofyan. Khusus Gendut Doni, sosok asal Salatiga tersebut bahkan sukses menjadi pencetak gol terbanyak di akhir turnamen, bersama penyerang asal Thailand, Woorawot Srimaka.

Namun, Nandar sendiri tidak menangani tim sampai selesai. Akibat kekalahan dari Thailand dengan skor 4-1 di laga kedua fase grup, Nandar tidak melanjutkan pekerjaannya menangani tim di fase gugur. Dananjaya yang saat itu menjadi asisten pelatih meneruskan pekerjaan Nandar di sisa laga turnamen.

Dananjaya sukses membawa Indonesia sampai final, sebelum akhirnya kalah lagi oleh Thailand dengan skor identik, yaitu 4-1.

Benny Dollo (Piala AFF 2008)

Setelah pada edisi 2002, 2004, dan 2007, Timnas Indonesia ditangani oleh pelatih asing, pada edisi Piala AFF 2008, Indonesia kembali ditangani oleh sosok lokal. Kali ini, Benny Dollo yang menjadi pelatih Indonesia.

Untuk ajang Piala AFF 2008 ini, nama-nama seperti Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Budi Sudarsono, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman sudah masuk usia matang. Ada juga nama-nama baru macam Fandy Mochtar, Arif Suyono, dan Ferry Rotinsulu yang dipanggil di ajang ini.

Setelah tampil apik di fase grup, langkah Indonesia terhenti di babak semifinal oleh Thailand dengan total agregat 3-1. Di akhir turnamen, Vietnam yang sukses menggondol gelar juara, usai mengalahkan Thailand di babak final dengan total agregat 3-2.

Nilmaizar (Piala AFF 2012)

Di ajang Piala AFF 2012 ini, keunikan kembali menyertai Timnas Indonesia. Selain kebanyakan berisikan para pemain yang tampil di ajang Liga Primer Indonesia (hanya Bambang saja pemain asal Liga Super Indonesia yang tampil)--menyusul terjadinya dualisme federasi dan liga--skuat Indonesia juga kembali berisikan dua pemain naturalisasi, yaitu Tonnie Cusell dan Jhon van Beukering.

Hal ini membuat Nilmaizar, pelatih Timnas kala itu, sulit dalam mengolah skuat. Hasilnya, Indonesia gagal melaju ke babak selanjutnya, setelah terhenti oleh Singapura dan Malaysia di fase grup. Indonesia hanya meraih empat poin, hasil dari sekali menang lawan Singapura, sekali seri lawan Laos, dan sekali kalah lawan Malaysia.

***

Nilmaizar menjadi nama terakhir pelatih lokal yang menjadi pelatih Timnas Indonesia di ajang Piala AFF. Pada edisi 2014 dan 2016, Alfred Riedl menjadi pelatih Timnas Indonesia, dengan raihan terbaik adalah posisi runner-up pada 2016 silam.

Menilik dari sejarah enam pelatih lokal Timnas Indonesia tersebut, hanya di ajang Piala AFF 2000, kala Timnas ditangani Nandar dan Dananjaya, Indonesia mampu meraih prestasi tertinggi (runner-up). Sisanya, produk lokal hanya mampu membawa Indonesia maksimal sampai babak semifinal.

Lantas, bagaimana kiprah Bima Sakti selaku pelatih lokal ketujuh di ajang Piala AFF 2018 nanti? Menarik dinantikan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: