Pencarian populer

Mereka yang Kelak Menjadi Tumpuan Timnas Indonesia

M. Lutfhi melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Terselip notula positif di balik kegagalan Timnas U-19 Indonesia menapak semifinal Piala Asia U-19 2018 dan mentas di Piala Dunia U-20 2019. Catatan tersebut hadir dari performa menjanjikan skuat 'Garuda Nusantara'.

Kiprah Timnas U-19 dihentikan oleh Jepang di babak 8 besar. Dalam duel yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (28/10/2018) itu, pasukan Indra Sjafri menelan kekalahan karena gol Higashi Shunki (40') dan Taise Miyashiro (70').

Di luar dwigol itu, Timnas U-19 sebenarnya tampil apik. Dengan memakai formasi 5-4-1, Egy Maulana Vikri cs. membuat Jepang bermain tak efektif. Statistik di situs AFC menunjukkan bahwa skuat besutan Kageyama Masanaga melepaskan 1 percobaan tepat sasaran selama 45 menit pertama. Padahal, penguasaan bola skuat 'Samurai Biru Muda' itu mencapai 63%.

Bukan kali pertama Timnas U-19 tampil mengesankan. Pada laga melawan Uni Emirat Arab (UEA) di matchday III Grup A, misalnya, Timnas U-19 bisa meredam kekuatan UEA perihal umpan terobosan dengan merapatkan permainan dan menginstruksikan dua gelandang untuk menutup ruang di tepi lapangan.

Hal tersebut membuat aliran bola UEA mandek. Itu terlihat dari akurasi umpan UEA yang cuma menyentuh 67,9%. Efeknya, UEA kesulitan membidik gawang Timnas U-19, meskipun melakukan 11 upaya tembakan.

Tanpa mengabaikan kehebatan tim pelatih dalam meracik taktik, performa ciamik Timnas U-19 tak lepas dari atribut-atribut yang dimiliki Nurhidayat dan kolega. Atribut-atribut yang menjadi modal bagi skuat asuhan Indra itu untuk bersaing di kompetisi teratas sepak bola Indonesia dan menjadi tumpuan Timnas Indonesia pada masa mendatang. Seperti Timnas U-19 era Evan Dimas.

Sejumlah pilar Timnas U-19 saat itu, sebut saja Hansamu Yama Pranata dan M. Hargianto, menjadi langganan pemanggilan Timnas, baik itu U-23 maupun senior. Belum lagi pemain-pemain yang memutuskan berkarier di Malaysia, seperti Evan dan Ilham Udin Armayin.

Tak bisa ditampik juga bahwa ada beberapa pemain yang kariernya meredup. Ambil contoh Maldini Pali. Pesepak bola kelahiran Mamuju, Sulawesi Barat, itu banjir sanjungan pasca merengkuh Piala AFF U-19 2013. Namun, saat ini, nama Maldini hilang dari radar.

Lalu, yang jadi pertanyaan, siapa saja pemain Timnas U-19 era Egy yang berpotensi menjadi bintang dan tumpuan Indonesia? Merujuk pada penampilan di Piala Asia U-19 2018, kumparanBOLA mengajukan jawaban. Berikut ini.

Todd Rivaldo Ferre

Valdo --demikian Todd disapa-- adalah bintang Timnas U-19 kala melawan Qatar dalam partai kedua Grup A Piala Asia U-19. Pemilik nomor kostum 22 ini hanya memerlukan 35 menit untuk mencetak hattrick, membelalakkan mata suporter serta pencinta sepak bola nasional, dan mengundang sanjungan.

Pesepak bola Indonesia U19 Todd Rivaldo Alberth Ferre berusaha melewati pemain Filipina U19 dalam penyisihan grup A Piala AFF U19. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Pergerakan lincah plus sepakan keras dan akurat menjadi senjata Valdo untuk meneror gawang lawan. Pemain Persipura Jayapura ini mampu melakukan gerakan menipu dan menekuk bola dengan apik. Tak heran bila banyak pihak yang mulai sadar akan talentanya.

Di luar atributnya, Valdo bermodalkan jam terbang dengan lewat menit bermain cukup banyak di Liga 1. Dia pun membayar kepercayaan tersebut dengan sumbangan 2 gol, salah satunya ke gawang Arema FC. Kalau konsisten, Valdo tentu memiliki kans untuk mengambil satu tempat di Timnas Indonesia pada beberapa tahun ke depan.

Syahrian Abimanyu

Sulit tak memasukkan nama Syahrian dalam daftar pemain Timnas U-19 potensial. Piawai mengatur tempo permainan dan menyuplai bola ke lini depan, pemain berusia 19 tahun ini adalah salah satu gelandang terlengkap yang dimiliki Indonesia.

Di Piala Asia U-19 edisi 2018, Syahrian adalah metronom pemainan Timnas U-19. Itu terlihat dari rataan percobaan umpan tertinggi Timnas U-19. Pemain milik Sriwijaya FC itu mencatatkan total umpan sebanyak 209 kali sepanjang turnamen.

Syahrian Abimanyu berupaya melewati pemain Thailand dalam partai pertama PSSI Anniversary Cup. (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A)

Menariknya, hasil umpan Syahrian kerap mendarat di kaki pemain sayap, yakni Saddil Ramdani dan Witan Suleman. Dengan rincian, 40 umpan untuk Witan dan 35 operan kepadan Saddil. Data tersebut menggambarkan bahwa Syahrian merupakan penyuplai bola yang baik.

Sama seperti Valdo, Syahrian telah merasakan atmosfer Liga 1 dan mendapatkan menit bermain yang tergolong bagus, yakni 496 menit dari 7 laga. Selain itu, Syahrian punya keahlian menjadi eksekutor bola mati. Sederet notula dan atribut tersebut menyimpulkan bahwa Syahrian adalah pemain muda bertalenta.

M. Lutfhi

Tipe permainan Luthfi nyaris mirip dengan Syahrian: Pandai mengolah dan mendistribusikan bola. Pemilik kostum nomor 7 ini juga hebat menuntaskan peluang via bola mati. Gol yang ia lesakkan ke gawang Qatar bisa menjadi bukti sahih.

Menyoal aksi defensif, Lutfhi lebih baik ketimbang Syahrian. Sepanjang Piala Asia U-19 2018, Lutfhi merangkum 9 tekel, 10 intersep, dan 9 sapuan. Sedangkan, Syahrian mencatatkan 6 tekel, 1 intersep, dan 2 sapuan. Berangkat dari data tersebut bisa ditarik satu simpulan bahwa Lutfhi pintar membaca arah bola dan pergerakan lawan.

Kualitas Lutfhi bisa melesat manakala pemain milik Mitra Kukar ini mendapatkan jatah bermain yang lebih baik di Liga 1. Dengan begitu, ia bisa bertahan dalam radar Timnas.

Asnawi Mangkualam

Asnawi mendapatkan peran baru bersama Timnas U-19. Pemain kelahiran 4 Oktober 1999 tak lagi berperan sebagai pemotong serangan di tengah, melainkan berposisi menjadi full-back kanan.

Asnawi Mangkualam Bahar. (Foto: Instagram: Asnawi Mangkualam Bahar)

Dalam jumpa pers pasca bersua Jepang, Indra memaparkan latar belakang mengubah peran Asnawi. "Asnawi, saat main di tengah, sering membuat pelanggaran karena banyak keputusan yang salah. Kalau saya taruh di pinggir, ia hanya memikirkan bertahan dan menyerang. Dan ia bisa lakukan itu."

Pergerakan lincah plus umpan silang yang akurat menjadi kelebihan Asnawi untuk menebar ancaman di pertahanan lawan. Lebih hebat lagi lantaran pemain milik PSM Makassar ini cekatan dalam menghentikan pergerakan dan kecepatan sayap lawan.

Karier Asnawi semakin menjanjikan manakala melihat menit bermain yang ia dapatkan bersama 'Juku Eja'. Di usia yang baru menginjak 19 tahun, Asnawi sudah mencatatkan 18 laga atau 913 menit bermain di Liga 1 sejak musim 2017.

Witan Sulaeman

Tak bisa dipungkiri bahwa Witan adalah pemain sayap modern. Skill melewati lawan plus penyelesaian akhir yang tenang menjadi nilai positif bagi pemilik nomor kostum 8 ini.

Pemain Timnas Indonesia Witan Sulaeman melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Timnas Uni Emirat Arab dalam penyisihan Grup A Piala Asia U-19. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Di samping itu, penempatan posisi Witan tergolong apik. Pesepak bola kelahiran Palu ini beberapa kali mendapatkan kans untuk mencetak gol karena ia berada di posisi yang tepat. Gol kedua yang ia lesakkan ke gawang Taiwan bisa menjadi bukti.

Berangkat dari fakta tersebut, Witan adalah pemain muda bertalenta. Namun, masa depan Witan masih kabur. Saat ini, ia merupakan murid Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan dan belum pernah berlaga di liga. Jika menilik kualitas, tak bisa dikatakan salah bila Witan diprediksi bakal bersinar dan menjadi andalan di lini depan Timnas Indonesia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Senin,20/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20