Pencarian populer

Neil Warnock, Brexit, dan Stereotip Orang Tua Kolot

Neil Warnock melawan dunia. Eh. (Foto: Reuters/Rebecca Naden)

"Aku sudah tidak sabar untuk keluar, kalau boleh jujur. Kupikir kita semua bakal lebih bagus tanpa mereka. Di segala bidang seperti itu, termasuk di sepak bola, tentunya. Persetan dengan semua orang di dunia," kata Neil Warnock berapi-api.

Warnock tiba-tiba saja mengubah sesi konferensi pers pascalaga melawan Huddersfield Town yang berakhir 0-0 itu menjadi sebuah sirkus politik. Alih-alih berbicara soal penampilan timnya, penampilan tim lawan, atau keputusan-keputusan wasit, Warnock memilih angkat suara soal Brexit.

Pada 2016 silam sebuah referendum digelar untuk seluruh warga Kerajaan Bersatu Britania Raya (United Kingdom) yang meliputi Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara untuk menentukan apakah mereka sebaiknya keluar dari Uni Eropa atau tidak. Hasilnya, 51,9 persen warga memilih untuk keluar. Istilah Brexit (gabungan kata Britain dan exit) pun lahir.

Dua tahun sejak referendum digelar dan Britania Raya masih belum sepenuhnya keluar dari Uni Eropa. Justru, perdebatan kini semakin panas di antara para politisi. Menariknya, sejumlah politisi Partai Konservatif -- partai yang awalnya pro-Brexit -- sendiri sekarang berubah pikiran. Referendum 2016 tadi tidak menyelesaikan masalah dan justru melahirkan masalah baru.

Inilah yang membuat Warnock geram. Menurut pelatih Cardiff City itu, referendum 2016 itu sudah menggambarkan keinginan warga Britania Raya dan seharusnya para politisi menghormati hasilnya.

Oke, sebenarnya apa yang dikatakan Warnock soal Brexit ini bermula dari adanya anggapan bahwa Brexit bakal menyulitkan Cardiff merekrut pemain baru. Warnock menolak anggapan ini dan sesudahnya barulah dia meracau soal ketidakbecusan para politisi menangani Brexit.

"Kupikir setelah negeri ini tahu apa yang kudu dilakukan, membeli pemain malah akan semakin jelas juntrungannya. Lagipula, bagiku pribadi semua jendela transfer itu susah, kok, bukan cuma yang ini saja," buka Warnock.

"Aku tidak tahu kenapa para politisi tidak mengindahkan apa yang diinginkan orang-orang di negara ini. Mereka sudah menggelar referendum dan sekarang kita melihat para politisi dan orang-orang lain berusaha menghalanginya. Ngapain pakai referendum segala kalau begitu?"

"Aku sudah tidak sabar untuk keluar, kalau boleh jujur. Kupikir kita semua bakal lebih bagus tanpa mereka. Di segala bidang seperti itu, termasuk di sepak bola, tentunya. Persetan dengan semua orang di dunia," lanjutnya.

Kata-kata Warnock ini kemudian mengundang beragam reaksi. Di media sosial seperti Twitter, banyak orang yang menyayangkan pendapat Warnock tersebut, kalau tidak boleh dibilang mengutuk. Salah satu orang yang menyayangkan kata-kata Warnock itu adalah Anna McMorrin, seorang anggota parlemen asli Cardiff.

"Ini bukan yang diinginkan Cardiff, Neil! Cardiff memilih untuk bertahan [di Uni Eropa]," tulis McMorrin dalam akun Twitter-nya sembari membagikan tautan berita konferensi pers Warnock tersebut. McMorrin benar. Pada 2016 lalu, menurut data dari Wales Online, 60,02% populasi kota Cardiff memilih untuk bertahan, meski secara umum pro-Brexit unggul di Wales (52,5%).

Selain karena Cardiff adalah salah satu kota yang memilih bertahan, pernyataan Warnock tadi juga dikecam karena Cardiff City adalah sebuah klub yang begitu kosmopolitan. Pemilik klub ini, Vincent Tan, adalah orang Malaysia. Selain itu, di klub ini terdapat pemain-pemain dari sepuluh negara berbeda termasuk dari Asia (Neil Etheridge), Afrika (Bruno Ecuele Manga), dan Amerika Utara (Junior Hoilett).

Sehari setelah Warnock berujar demikian, Cardiff City secara resmi mengeluarkan pernyataan. Mereka menolak dikaitkan dengan Warnock dengan berkata, "Komentar yang dibuat manajer kami menyusul pertandingan hari Sabtu adalah pendapat personalnya. Komentar-komentar ini tidak merefleksikan posisi politik Cardiff City serta Dewan Direksinya."

Apa yang dilakukan Warnock tadi memang terbilang 'kurang ajar'. Brexit pada dasarnya adalah wujud nyata dari xenofobia itu sendiri. Kecurigaan terhadap orang-orang asing, terutama mereka yang dianggap 'mencuri pekerjaan dari orang-orang asli Inggris', menjadi dasar dari munculnya wacana Brexit pada awalnya.

Uni Eropa dianggap sebagai sebuah wadah yang merugikan Inggris. Orang-orang yang memilih untuk keluar dari sana menganggap bahwa hasil kerja keras mereka tidak seharusnya dinikmati juga oleh orang-orang negara anggota Uni Eropa lain. Mereka lupa bahwa mereka pun sebenarnya menikmati hasil kerja orang-orang dari negara anggota negara Uni Eropa lain tadi.

Warnock sendiri lupa bahwa saat ini mata pencahariannya sangat bergantung pada orang-orang asing. Dalam dunia sepak bola, dengan mudahnya modal dan jasa untuk bergerak, nyaris mustahil untuk tidak bersinggungan dengan orang asing.

Pemilik Cardiff City, Vincent Tan. (Foto: Reuters/Craig Brough)

Selain 'kurang ajar', apa yang dilakukan Warnock itu juga kian menebalkan stereotip terhadap orang-orang sepertinya. Yakni, orang tua kulit putih yang kolot. Ketika hasil referendum keluar pada 2016, langsung bisa diketahui seperti apa demografi pemilihnya.

Di situ terkuaklah bahwasanya mayoritas orang berusia lanjut memilih untuk keluar dari Uni Eropa. Sebanyak 61% pria berusia 18-24 tahun memilih untuk bertahan. Sementara, di kelompok usia Warnock (65 tahun ke atas), 62% memilih untuk keluar.

Inilah mengapa, pernyataan Warnock tadi boleh dibilang 'tidak mengejutkan'. Warnock sendiri, sebagai seorang pelatih, dikenal dengan gaya bermainnya yang kuno. Ketika para pelatih Premier League -- yang kebanyakan berasal dari luar Britania Raya -- memainkan sepak bola kontinental yang lebih seksi, Warnock bertahan dengan kick and rush yang menjemukan.

Gaya bermain itu tercermin dari level akurasi umpan Cardiff City. Dengan akurasi 64,6%, The Jaybirds adalah tim yang paling tidak becus dalam mengumpan di Premier League. Newcastle United yang persis berada di atas mereka saja tingkat akurasi umpannya berada di atas 70%.

Memang benar bahwa mengaitkan Warnock yang kolot dalam memainkan sepak bolanya dengan Warnock yang kolot sebagai manusia adalah perbuatan yang tidak benar. Akan tetapi, sulit untuk tidak melihat korelasi di antara keduanya. Lagipula, dengan racauannya soal Brexit tadi, pria 70 tahun itu sama sekali tidak membantu dirinya sendiri. Justru, kecurigaan publik akan kekolotan Warnock kini terbukti.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: