kumparan
6 Mar 2018 14:02 WIB

Nemanja Matic yang Seperti Motor 'Matic'

Matic, penting bagi United. (Foto: Andrew Yates/Reuters)
"Enakan pake motor matic."
Ungkapan semacam itu acapkali terdengar di kalangan para pengguna alat transportasi. Di zaman modern sekarang ini, kepraktisan amat diagungkan, motor matic --transimisi otomatis-- jadi idola. Apalagi jika bukan demi memudahkan para pengendara yang kini tidak perlu repot-repot menambah atau mengurangi gigi kendaraan. Selain itu juga memudahkan saat arus lalu lintas sedang padat-padatnya alias macet.
ADVERTISEMENT
Nyaris semua aspek di dunia mengagungkan kepraktisan, tak terkecuali sepak bola. Penjaga gawang dan bek, misalnya, kini tak hanya dituntut untuk piawai dalam bertahan saja, tapi juga harus bisa bersinergi dengan sistem distribusi bola. Itulah mengapa muncul sebutan sweeper-keeper dan ball-playing defender.
Bukan rahasia lagi jika Jose Mourinho adalah sosok yang pragmatis (bukan defensif, ya... Itu beda lagi). Karena pragmatis, Mourinho akan menerapkan skema permainan sesuai dengan amunisi yang dia miliki.
Ya, pragmatisme yang amat mengedepankan segi kegunaan tersebut tak bisa dijauhkan dari kata praktis. Baik itu dalam bentuk taktik dan karakterstik pemain yang dimilikinya. Itulah mengapa Mou ngebet memboyong Nemanja Matic di awal musim ini.
Pada laga dini hari tadi, Matic berhasil muncul sebagai pahlawan United saat mengoyak jala Crystal Palace di menit-menit akhir. Setelah menunggu momentum pantulan bola yang pas, dia melakukan tembakan jarak jauh yang tak mampu dijangkau Wayne Hennessey. Gol yang kemudian membuat 'Iblis Merah' unggul 3-2.
ADVERTISEMENT
Tak semua gelandang bertahan memiliki insting semacam itu. Bagi Matic, gol semacam itu bukanlah yang pertama kalinya. Aksi serupa juga dilakukan pemain kelahiran Sabac, Serbia, itu kala Chelsea menyingkirkan Tottenham Hotspur 4-2 di semifinal Piala FA edisi 2016/2017. Matic melepaskan tendangan dari luar kotak penalti yang membuat Hugo Lloris terperangah.
Golnya ke gawang Benfica di fase grup Liga Champions juga bisa dijadikan acuan. Tendangan mendatarnya meghantam mistar gawang baru kemudian gol usai membentur badan Mile Svilar yang terlambat bereaksi. Ketiga gol di atas bukanlah sebuah kebetulan. Semuanya mengarah ke sisi pojok gawang, tak sekadar tembakan spekulasi dengan tenaga tinggi, seperti gelandang bertahan pada umumnya. Yang jadi poin adalah pemanfaatan momentum dan bidikan jitu jadi komposisinya, resep yang terbilang mahal bagi seorang gelandang bertahan.
ADVERTISEMENT
Matic punya paket lengkap sebagai seorang gelandang. Namun, paket itu tak didapatkan begitu saja. Ia memilikinya setelah melakoni pengasingan saat masih berstatus pengawa Chelsea. The Blues memboyong Matic dengan banderol 1,5 juta poundsterling dari klub Slovakia, Kosice, 2009 silam. Saat itu The Blues memandangnya sebagai seorang playmaker karena memang demikian. Matic adalah seorang pemain nomor 10 sebelum Jorge Jesus mengubahnya di Benfica.
Seperti para pemain muda Chelsea lainnya, Matic tak luput dari pengasingan yang mengantarnya ke Vitesse, hingga kemudian Benfica menggaetnya sebagai bagian dari transfer David Luiz yang hengkang ke Chelsea. Namun, justru di Benfica pengalamannya makin matang. Jesus berhasil menyulap Matic dari gelandang pengatur serangan menjadi petarung di lini tengah.
ADVERTISEMENT
"Benfica selalu bermain menyerang karena di Liga Portugal mereka merasa selalu bisa memenangi pertandingan, jadi ketika kami sedang tidak menguasai bola, saya langsung berusaha untuk merebut kembali dan merancang serangan balik," kata Matic kepada The Guardian.
Matic saat masih berseragam Chelsea. (Foto: GLYN KIRK / AFP)
Mou beruntung memiliki gelandang semacam Matic. Dia tinggal mengaktifkan mode bertahan saat berhadapan dengan tim yang agresif dan bisa mengutus Matic untuk lebih ofensif saat menghadapi kesebelasan yang cenderung bertahan. Hal itulah yang membuat peran Matic berbeda saat tampil kontra Palace dan Chelsea.
The Eagles yang tampil defensif dan mengandalkan longball dalam membangun serangan, memaksa Matic untuk bergerak ke depan. Sedangkan saat berhadapan dengan Chelsea, Matic bermain sebagai gelandang bertahan, sebagai poros ganda bersama Scott Mctominay.
ADVERTISEMENT
Minimnya kreativitas lini tengah Unted memaksa Matic untuk lebih rajin maju ke depan. Itu adalah tugas tambahan Matic sebagai gelandang bertahan, figur penting untuk meredam serangan lawan. Dalam hal ini, penempatan posisi jadi daya tawar Matic yang belum tertandingi rekan-rekan setimnya.
Well, United memang masih memiliki Michael Carrick, gelandang cerdas yang piawai membaca permainan lawan. Namun, untuk urusan menyerang, Carrick tak lebih baik ketimbang Matic. Faktor cedera dan usia yang tak lagi muda jadi pertimbangan Mou untuk memasang gelandang berusia 36 tahun tersebut. Jika tak percaya betapa pentingnya sosok Matic, tengok saja namanya yang tak pernah absen dalam daftar starting line-up United hingga pekan ke-29 Premier League musim ini. Capaian tersebut hanya mampu disamai oleh David De Gea.
ADVERTISEMENT
Matic adalah representasi dari kepraktisan, paket komplet gelandang modern yang bisa mengemban tugas untuk bertahan dan juga menyerang. Ya, tak ubahnya seperti motor matic.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan