kumparan
9 Nov 2018 21:17 WIB

Niko Kovac, si 'Anak Baru' Pemanggul Misi Setinggi Langit Bayern

Pelatih anyar Bayern, Niko Kovac. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Bayern Muenchen memulai musim 2018/19 dengan kepergian Jupp Heynckes dan kedatangan Niko Kovac. Kepergian Heynckes berarti perpisahan dengan magi yang dirawatnya selama tiga periode berbeda. Kedatangan Kovac berarti bersiap-siap dengan kejutan.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan tren klub raksasa lainnya, Bayern memulai musim dengan risiko: tak merekrut pelatih kenamaan. Belakangan Kovac memang menjadi perbincangan, tapi karier kepelatihannya belum dibangun oleh rekam jejak di tim-tim besar.
Heynckes mendukung keputusan Bayern untuk menjadikan Kovac sebagai suksesornya. Menurut Heynckes, Kovac merupakan manajer pekerja keras, inovatif, dan menghidupi renjananya di bidang sepak bola. Bagi Heynckes, tak ada alasan untuk tak merekrut Kovac.
Kisah Kovac bersama Jerman dimulai pada 1970. Bukan, ia bukan menjadi pesepak bola di tahun-tahun tersebut. Kala itu, ia masih bocah ingusan, Ikut pindah bersama keluarganya ke Berlin. Tadinya, mereka hanya berencana menghabiskan tiga atau empat tahun di kota itu untuk urusan pekerjaan. Namun, angin nasib berembus ke arah yang berbeda, Kovac dan keluarganya justru menetap dalam waktu yang lama.
ADVERTISEMENT
Pengalaman menjadi perantauan di negeri orang memberikan Kovac satu pelajaran penting yang kerap dibawanya dalam kehidupannya sebagai pesepak bola: Pemahamahan. Tinggal di negara orang, kata Kovac, menuntutnya untuk mengerti banyak perbedaan. Mulai dari gaya hidup, kultur, hingga hal yang kelihatannya paling remeh, padahal penting, bahasa.
“Ada banyak hal yang saya pelajari sebagai perantauan Kroasia di Jerman. Tapi, segala pelajaran yang saya terima itu berhulu dari satu hal, bahwa pemahaman akan perbedaan itu penting. Kondisi di Kroasia berbeda dengan Jerman. Orang-orang Kroasia punya budaya berbeda dengan Jerman. Bahasa di Kroasia berbeda dengan Jerman. Pengertian semacam itu membuat saya paham bahwa setiap tempat selalu memiliki masalah dan kesempatannya masing-masing. Pengertian itulah yang saya bawa sebagai pesepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih," tutur Kovac dalam wawancaranya di laman resmi Bundesliga.
ADVERTISEMENT
Berhitung mundur, tahun 2009 adalah tapal batas dari perjalanan sepak bola Kovac. Di tahun itu, ia memutuskan untuk gantung sepatu sebagai pemain dan memulai perjalanannya di ranah kepelatihan. Akademi RB Salzburg dipilihnya sebagai batu pijakan pertama. Bekerja selama dua tahun, akhirnya ia direkrut sebagai asisten pelatih tim senior, Ricardo Moniz.
Singkat cerita, sampailah Kovac pada kiprahnya sebagai juru taktik Timnas Kroasia pada 2013. Kala itu, Davor Suker yang menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Kroasia (CFF) yang merekomendasikannya.
Pertemuan Suker dan Kovac mengingatkan apa yang terjadi di lapangan hijau. Kovac adalah bagian dari Timnas Kroasia selama 12 tahun, sejak 1996 hingga 2008. Dalam periode itu, ia mengantongi 83 caps. Kovac memang tidak bermain di Piala Dunia 1998 bersama Suker karena cedera. Namun, ia kembali pada Piala Dunia 2002. Bahkan di gelaran Piala Dunia 2006 dan Piala Eropa 2008, Kovac turun arena dengan ban kapten yang melingkar di lengannya.
ADVERTISEMENT
Niko Kovac (kiri) dan Igor Tudor (tengah), dan Anthony Seric (kanan) di kualifikasi Piala Dunia 2006. (Foto: AFP PHOTO ALAN VAJDIC STRINGER / AFP)
Cukup sulit untuk merangkum kisah Kovac sebagai pesepak bola. Bukan karena tak ada, tapi karena ia tipe pemain yang gemar berpindah-pindah klub. Sembilan belas tahun berkiprah sebagai pesepak bola, Kovac bermain untuk tujuh klub berbeda. Adapun, Salzburg yang menjadi perhentian pertamanya di ranah kepelatihan itu menjadi klub terakhir yang dibelanya sebelum gantung sepatu.
Walaupun yang memangku jabatan federasi adalah kawannya sendiri, bukan berarti Kovac diberi keistimewaan. Pada dasarnya, Kovac diberi tugas untuk meloloskan Kroasia ke Piala Dunia 2014. Tugas ini diserahkan kepada Kovac karena pelatih sebelumnya, Igor Stimac, tidak mampu menampilkan permainan yang menjanjikan untuk Kroasia. Kovac berhasil mengantarkan Kroasia ke Piala Dunia 2014. Namun, pada 2015, kursi kepelatihan itu dijungkalkan darinya.
ADVERTISEMENT
Dengan pengertian bahwa setiap tempat memiliki masalah dan kesempatannya masing-masing, Kovac menjadi kejutan di ranah sepak bola Jerman. Enam bulan setelah dipecat CFF, ia dipinang Eintracht Frankfurt. Kovac resmi diperkenalkan sebagai manajer baru The Eagles pada 8 Maret 2016, menggantikan Armin Veh. Dan dari sinilah maginya dimulai.
Saat Kovac bergabung, kondisi Eintracht benar-benar terpuruk. Di tabel klasemen Bundesliga, mereka ada di zona degradasi. Menjadi persoalan besar karena Kovac baru masuk ke Eintracht saat kompetisi Bundesliga menyisakan sembilan laga. Maka, dimulailah mission impossible itu, untuk menyelamatkan Eintracht dari zona degradasi.
Sialnya, perjalanan Kovac di Kota Frankfurt ditandai dengan kekalahan 0-3 dari Borussia Moenchengladbach. Namun, elang itu mulai terbang di tangan Kovac. Empat dari tujuh laga setelahnya tuntas dengan kemenangan walau di pekan ke-34, Eintracht menelan kekalahan yang membikin mereka mendiami peringkat 16. Kabar baiknya, babak play off yang menjadi satu-satunya penentu nasib EIntracht tuntas dengan kepastian bahwa mereka lolos dari lubang jarum.
ADVERTISEMENT
Musim baru, jabatan baru, dan persoalan baru. Seperti itulah penggambaran singkat tentang musim 2016/17 milik Kovac. Masalahnya, sejumlah pemain pilar Eintracht memutuskan untuk hengkang dari klub dan Eintracht pun tidak berstatus sebagai klub kaya-raya macam Bayern.
Yang harus dipecahkan oleh Kovac saat itu adalah bagaimana membentuk tim, tanpa menghambat pertumbuhan klub. Solusi sederhananya: carilah pemain murah, tapi berkualitas. Memang solusi naif, tapi terkadang, menjadi naif adalah cara bertahan hidup paling mujarab.
Solusi itu diwujudkan dengan perekrutan pemain-pemain muda dengan status pinjaman. Mulai dari Guillermo Varela, Ante Rebic, Michael Hector, hingga Jesus Vallejo. Paruh pertama musim 2016/17 dilakoni Eintracht dengan meyakinkan, mendiami posisi kelima. Sayangnya, sejumlah permasalahan memaksa Eintracht untuk mengakhiri musim itu di peringkat 11.
ADVERTISEMENT
Bekerja lagilah Kovac di musim 2017/18. Perombakan skuat menjadi agenda yang mesti dilakoninya sebelum musim kompetisi bergulir. Mulai dari Jetro Willems, Sebastien Haller, Simon Falette, Danny da Costa, hingga Kevin Prince Boateng, didatangkan ke Kota Frankfurt.
Kovac dan pemain-pemain Eintracht Frankfurt merayakan gelar juara DFB Pokal (Foto: Tobias SCHWARZ / AFP)
Sebagai pelatih, Kovac menyadari dua hal: timnya bukan bertabur pemain bintang (tentu bila dibandingkan dengan klub-klub papan atas) dan ia belum punya nama besar sebagai pelatih andal. Maka, yang ditancapkannya dalam-dalam di benak para pemainnya adalah mereka harus bertanding sebagai tim yang terorganisir.
Menurut Kovac, ada dua jenis tim yang hidup di pentas kompetisi mana pun: yang carut-marut dan yang terorganisir. Menyadari bahwa timnya tidak dibangun dengan kekuatan sehebat klub-klub papan atas, maka Kovac menyusun sistem permainan yang membuat timnya bertanding sebagai satu kesatuan utuh, bukannya individu per individu.
ADVERTISEMENT
"Saya mencoba untuk menilai segala sesuatu dengan rasional. Namun, saat segala aspek sudah dipertimbangkan, saya tetap mengandalkan naluri untuk mengambil keputusan. Tentu dengan memperhatikan aspek pengalaman saya sebagai pemain."
Pada umumnya, ada dua formasi yang sering digunakan oleh Kovac di sepanjang musim 2017/18 bersama Eintracht: 3-1-4-2 dan 3-4-1-2, yang merupakan pengembangan dari 3-5-2. Namun, formasi apa pun yang dipakai, Kovac akan menekankan timnya untuk bermain melebar.
“Saya adalah penggemar berat pesepak bola yang bermain melebar. Setiap kali saya menyaksikan Arjen Robben dan Franck Ribery bertanding, jantung saya rasanya berdetak lebih cepat. Emosi saya seketika meluap. Rasanya seperti bertatap muka dengan idola," jelas Kovac di laman resmi Bundesliga.
Kegilaannya pada permainan melebar itu muncul dalam sistem permainan defensif agresifnya. Kecenderungannya, ia akan memplot tiga gelandang bermain lebih merapat ke tengah. Sementara, dua bek sayapnya akan mengambil posisi yang lebih sedikit lebih ke depan dari bek tengahnya sehingga dua bek sayap dan tiga bek tengah akan membentuk posisi yang menyerupai anak panah.
ADVERTISEMENT
Bentuk pertahanan yang seperti ini akan memaksa lawan untuk bermain melebar. Begitu pemain lawan hendak menyerang, ‘anak panah’ pertahanan ini akan berpencar dalam posisi sejajar dengan meninggalkan dua bek tengah di area paling belakang dalam posisi sejajar.
Fungsi kedua pemain ini adalah untuk memberikan jebakan offside. Bila para pemain lawan menguasai bola, Eintracht akan mencoba merebut bola dengan memancing lawan untuk bermain lebar. Di dekat garis tepi itu, pemain-pemain Kovac akan melepaskan tekanan dengan penumpukan empat sampai lima pemain sekaligus.
Robert Kovac (kiri) dan Niko Kovac (kanan) di laga melawan Ajax Amsterdam di Liga Champions. (Foto: GUENTER SCHIFFMANN / AFP)
Salah satu ciri permainan yang diusung oleh Eintracht di tangan kepelatihan Kovac, mereka cenderung sabar untuk menunggu. Ketimbang terburu-buru membangun serangan, mereka lebih suka untuk menjaga bola tetap ada di area permainan sendiri sampai benar-benar mendapatkan momentum. Dengan metode yang sepintas terlihat lambat dan tak menggigit ini, Eintracht mengakhiri musim di peringkat kedelapan dan gelar juara DFB Pokal.
ADVERTISEMENT
Permainan yang terkesan defensif ini lahir dari catatan perjalanan Kovac sebagai pemain, terutama saat membela Timnas. Di Euro 2008, Kovac bermain sebagai holding midfielder yang memberikan kebebasan kepada duet Luka Modric dan Ivan Rakitic untuk bermain di depannya. Ini menjadi formula yang brilian. Kala itu, Kroasia lolos dari fase grup dengan kemenangan sempurna. Sayangnya, langkah mereka terhenti di perempat final karena dikalahkan Turki di babak adu penalti.
Menjadi pelatih Bayern dengan segala kejayaan yang dimilikinya menjadi salah satu ujian terberat dalam karier kepelatihan Kovac yang baru seumur jagung. Ini menjadi pertama kalinya ia menangani tim papan atas. Yang namanya tim papan atas, yang melimpah bukan hanya gelar juaranya, tapi juga kompleksitas permasalahannya.
ADVERTISEMENT
Sepintas, Bayern yang diisi oleh pemain-pemain bintang macam Robert Lewandowski, Arjen Robben, Manuel Neuer, Thiago Alcantara, ataupun Mats Humels, memberikan banyak keuntungan karena mereka memiliki kualitas mumpuni. Namun, pemain bintang juga identik dengan ego setinggi langit. Tak jarang, persoalan terberat pelatih klub papan atas bukan bagaimana merancang taktik, tapi bagaimana membentuk harmoni tim--terlebih bagi pelatih baru seperti Kovac.
Berangkat dari kenyataan ini, Kovac punya persyaratan sendiri. Ia harus memiliki pendamping yang begitu dipercayainya. Maka, beruntunglah Kovac karena adik kandungnya, Robert Kovac, ikut bergabung dengan staf kepelatihan sebagai asistennya. Lucunya, ini bukan kali pertama baginya bekerja dengan sang adik. Mulai dari saat menangani Timnas Kroasia, Kroasia U-21, hingga Eintracht, adiknya ini kerap menjabat sebagai asisten pelatih.
ADVERTISEMENT
Bicara soal gaya kepelatihan, disiplin menjadi kata kunci. Saking disiplinnya, Kovac mengajukan ide untuk melakukan tes kesehatan harian kepada para pemainnya. Bagi pelatih yang satu ini, persoalan kebugaran adalah perkara krusial. Tak cuma tes kesehatan, Kovac juga begitu mengatur pola makan anak-anak asuhnya. Menyoal kecerewetannya yang satu ini, ia selalu menegaskan, "food is not for fun". Bahkan, Kovac mengharuskan para pemainnya untuk minum air yang panasnya suam-suam kuku untuk membantu metabolisme tubuh.
Kedisiplinan bukan hanya menyangkut persoalan fisik, tapi mental para pemain. Ia begitu membatasi aktivitas bisnis yang menyangkut para pemainnya, termasuk endorsement. Bahkan saat tur pramusim 2018/19 lalu, ia melarang brand-brand apa pun untuk datang menemui anak-anak asuhnya tanpa izin, setidaknya sampai pukul 20:30.
ADVERTISEMENT
Pemain-pemain Bayern merayakan gol Lewandowski ke gawang AEK Athens. (Foto: REUTERS/Michael Dalder)
Kiprah Kovac bersama Bayern tidak bisa dibilang mulus. Di Bundesliga saja, Bayern hanya tampil superior dalam empat laga pertama. Lima laga setelahnya tak pernah berakhir dengan kemenangan. Bahkan pertandingan kandang melawan Moenchengladbach pun berakhir dengan kekalahan 0-3.
Bila ditanya tentang penampilan melempem seperti ini, maka kemungkinan besar jawabannya adalah karena Kovac belum menemukan formula yang paling sesuai untuk Bayern. Susunan pemain awal yang kerap berubah-ubah menjadi indikasi utamanya.
Transisi kepelatihan dari Heynckes ke Kovac ternyata tidak menjadi periode yang mulus bagi Bayern. Buruknya penampilan Bayern bersama Kovac pada akhirnya menimbulkan isu tak sedap mengenai kondisi ruang ganti. Sialnya, situasi tak sedap ini begitu cepat diketahui oleh media dan menyebar dengan cepat di masyarakat. Ini yang tidak disukai oleh Kovac.
ADVERTISEMENT
"Seharusnya kami seperti keluarga, kami harus selalu bersama dan memperkuat kebersamaan ini. Jika itu dilakukan, segala sesuatunya terasa mudah. Tapi, jika tidak, kami akan runtuh dengan sendirinya. Ada beberapa contohnya dalam sejarah, seperti kisah Troy maupun kisah Caesar," ujar Kovac dilansir ESPNFC.
"Ya, intinya kami harus bersatu sekarang. Semua punya tugas masing-masing yang harus dilakukan agar klub maju ke depan. Jangan sampai juga masalah internal bocor ke publik. Jangan sampai. Semua akan terasa mudah jika kami bersama," katanya menambahkan.
Menjadi pelatih memang lebih dari sekadar hitung-menghitung taktik dan menyiapkan daftar pemain. Menjadi pelatih sama dengan mengurus suatu keluarga besar dengan berbagai ego, watak, masalah, kelebihan masing-masing. Segala macam perbedaan yang demikian harus dilebur menjadi satu kesatuan utuh.
ADVERTISEMENT
Atas segala hal buruk yang menimpa Bayern, yang mungkin bertolak-belakang dengan harapan yang muncul akibat penampilan impresif yang diberikan Kovac kepada Eintracht, bukannya tak mungkin karier kepelatihannya hanya akan berjalan dalam waktu singkat. Namun, bila keberadaan Kovac memang identik dengan kejutan, maka bukannya tidak mungkin kejutan itu akan kembali tajuk kepemimpinannya bersama Bayern.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·