kumparan
10 Sep 2019 5:02 WIB

Nishino Ungkap Perbedaan Mendasar Antara Timnas Jepang dan Thailand

Akira Nishino, pelatih Timnas Thailand. Foto: AFP/Chalinee Thirasupa
Perdebatan jelas akan datang soal supremasi Thailand di ranah sepak bola Asia Tenggara. Tapi, banyak catatan yang membuktikan bahwa mereka memang tim terkuat di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
Pada ranking FIFA, misalnya, mereka menduduki peringkat 115. Sementara itu, liga utama Thailand alias Thai League, dinilai sebagai liga terbaik kedelapan di Asia berdasarkan rilisan AFC per awal 2019.
Itu belum ditambah dengan ragam catatan lain. Misal, total juara Piala AFF yang Thailand miliki (lima) atau yang terkini: Keberhasilan enam pemain mereka menembus J.League dalam tiga tahun terakhir.
Ada Teerasil Dangda, meski kini sudah pulang kampung. Ada pula Therathon Bunmathan, Titiphan Puangchan, Chakrit Laptrakul, Natthawut Suksum, hingga tentu saja Chanathip Songkrasin.
Khusus nama yang disebut terakhir, ia bahkan merupakan andalan utama di lini tengah klubnya, Consadole Sapporo. Sudah dua musim setengah ia bermain di sana dan mampu menjaringkan 12 gol plus 9 assist.
ADVERTISEMENT
Belum cukup? Simaklah Kawin Thamsatchanan. Sosok berusia 29 tahun itu musim ini tampil reguler di level kedua Liga Belgia bersama Oud-Heverlee Leuven.
Teerasil Dangda saat membela Thailand. Foto: AFF Suzuki Cup
Nah, hal-hal tersebutlah yang pada akhirnya menjadi penegas betapa luar biasanya sepak bola Thailand di Asia Tenggara. Kendati demikian, berbagai catatan superior itu ternyata masih menyisakan sejumlah kekurangan yang amat krusial.
Perihal kekurangan ini disampaikan sendiri oleh pelatih Thailand, Akira Nishino, pada sesi jumpa pers jelang pertandingan melawan Timnas Indonesia, Senin (9/9/2019). Salah satu yang ia soroti adalah soal pengembangan pemain.
Nishino merasa bahwa sistem yang ada, khususnya liga, belum ditata untuk menciptakan pemain-pemain yang bisa menjadi andalan tim nasional di masa depan. Hal ini menurutnya sekaligus menjadi pembeda antara Thailand dengan, misalnya, sepak bola Jepang.
ADVERTISEMENT
Nishino sendiri adalah pelatih asal 'Negeri Sakura' tersebut. Ia mulai ditunjuk sebagai juru taktik Thailand pada awal Juli 2019 lalu.
"Saya pikir sepak bola di sini, seperti liganya, belum memiliki pengaturan atau sistem yang cukup terarah. Terutama menyangkut pengembangan pemain yang ditujukan untuk menghuni tim nasional. Mungkin itulah bedanya Jepang dengan Thailand," kata Nishino.
Akira Nishino (kanan) ketika diresmikan jadi pelatih Timnas Thailand. Foto: AFP/Toshifumi Kitamura
Atas dasar itulah, misi Nishino di Thailand adalah membenahi hal tersebut secara perlahan. Ia ingin menjadi pelatih yang tak hanya meracik taktik tim. Lebih dari itu. Ia juga ingin menjadi arsitek yang berperan terhadap pengembangan pemain lokal.
Adapun, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memberi kesempatan besar kepada para pemain yang ia anggap bertalenta untuk membela tim nasional.
ADVERTISEMENT
"Saya ingin mengubah itu. Saya harap dapat menciptakan kesempatan untuk para pemain bertalenta, siapa pun itu, untuk bisa mendapat kesempatan menjadi andalan tim nasional," papar mantan pelatih Jepang di Piala Dunia 2018 tersebut.
Dari penjelasan Nishino ini, pertanyaan lantas muncul. Jika Thailand yang sudah terhitung luar biasa saja masih memiliki kekurangan macam itu, lantas bagaimana dengan negara Asia Tenggara lain seperti Indonesia?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan