Pencarian populer

Nostalgia Buffon di Balik Laga Napoli vs PSG

Buffon menjadi pemain PSG. (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Italia selalu menjadi tempat yang spesial bagi Gianluigi Buffon. Kepindahannya ke Paris untuk bergabung bersama Paris Saint-Germain membuatnya begitu berjarak dengan tempat yang membesarkan sepak bolanya itu. Maka, beruntunglah Buffon karena dalam waktu dekat ia akan pulang ke Italia.

Hanya, kepulangan Buffon bukan untuk kembali ke klub lamanya, tapi untuk menjadi penantang serius bagi salah satu wakil Italia di Liga Champions 2018/19, Napoli. Matchday keempat pada kenyataannya mempertemukan PSG dengan Napoli di Stadion Sao Paolo.

Walau tak pernah berdiri di bawah mistar gawang Napoli, Buffon yang malang-melintang di ranah sepak bola Italia selama 23 tahun ditambah empat tahun di level junior, tahu benar seperti apa kekuatan Napoli. Dalam tiga musim terakhir, saat Buffon masih berseragam Juventus, Napoli tak pernah menutup kompetisi Serie A di luar posisi tiga besar. Itu belum memasukkan faktor angkernya stadion karena dipenuhi suporter fanatik yang kerap memberikan injeksi renjana dan kekuatan kepada para jagoannya.

“Bermain di sini (San Paolo) selalu memberikan situasi yang sulit. Saya tahu benar seperti apa stadion ini. Stadion ini dipenuhi dengan semangat dan gairah para suporternya. Koneksi yang luar biasa antara tim dan suporter akan menyulitkan kami. Laga ini akan susah dimenangi karena, ya, lihat saja penampilan mereka di leg pertama. Napoli pantas untuk dihormati,” jelas Buffon dalam konferensi pers jelang laga, dilansir Football Italia.

Buffon tak sedang melebih-lebihkan pandangannya soal Napoli. Di leg pertama, Napoli benar-benar tampil sebagai tim yang menyulitkan langkah PSG. Partenopei bahkan unggul lebih dulu di menit 29 berkat gol Lorenzo Insigne.

Walau kedudukan ini berhasil disamakan di menit 61 akibat gol bunuh diri Mario Rui, Napoli tetap tampil perkasa dan kembali menorehkan keunggulan 2-1 di menit 77 via gol Dries Mertens. Sayangnya, narasi pertandingan berubah di menit 90+3 berkat gol Angel Di Maria.

Bila melihat ulang laga tersebut, keberhasilan Napoli merepotkan PSG disebabkan oleh padunya racikan taktik sang pelatih, Carlo Ancelotti. Dari hitung-hitungan kasar, kualitas pemain-pemain Napoli secara individu kalah dibandingkan dengan PSG. Lihat saja siapa-siapa yang ada dalam pemainnya, mulai dari Neymar, Kylian Mbappe, Angel Di Maria, hingga Edinson Cavani.

Ramuan taktik Ancelotti bekerja dengan piawai. Prinsip yang dibawa Ancelotti di laga tersebut adalah Napoli harus bermain sebagai tim. Hasilnya nyata, bomber-bomber top macam Cavani, Neymar, ataupun Mbappe tak berhasil mencetak satu gol pun.

Kalaupun PSG bisa mencetak gol, maka dua torehan itu berasal dari situasi gol bunuh diri dan tembakan luar kotak penalti Di Maria. Untuk gol yang terakhir, di injury time itu Di Maria terlihat sulit merangsek masuk ke area pertahanan lawan akibat ketatnya penjagaan para penggawa Napoli.

“Ini bukan pertandingan yang normal, kami paham bahwa kami harus memenangi laga ini. Namun yang terpenting, kami tidak boleh kalah. Kembali ke Italia, khususnya Naples, untuk melakoni laga penting memberikan saya sejumlah motivasi penting. Saya juga berharap, saya bisa berguna untuk tim," kata Buffon.

"Kami tahu, kami sedang ada dalam situasi sulit, tapi tidak bisa dibantah bahwa tim kami sedang berkembang. Inilah yang menumbuhkan harapan saya. Keputusan untuk tidak pensiun dulu tidak lahir karena saya ingin memenangi Liga Champions semata, tapi karena ada motivasi dan pemahaman saya akan kondisi fisik,” ucap Buffon.

Carlo Ancelotti memimpin latihan Napoli jelang laga melawan PSG di Liga Champions 2018/19. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)

Pengenalan Buffon akan Napoli tidak cuma tentang koneksi luar biasa antara tim dan suporter, tapi juga tentang siapa dalang di balik keperkasaan lawannya ini. Ancelotti yang kini berstatus sebagai pelatih Napoli, juga pernah membesut Juventus. Di masa kepelatihan Ancelotti, Buffon memang masih berstatus sebagai kiper Parma dan Juventus hanya menuai satu gelar juara, Piala Intertoto tahun 1999.

Namun, setelah hengkang dari Juventus, Ancelotti berlabuh ke AC Milan dan di klub inilah ranah sepak bola mulai mengakrabi kegeniusan taktik Don Carlo. Bersama Milan, Ancelotti mendulang delapan gelar, salah dua di antaranya adalah juara Liga Champions 2002/03 dan 2006/07. Gelar yang sampai saat ini belum pernah dikecap oleh Buffon.

“Bos (pelatih) Napoli yang sekarang adalah sosok istimewa. Kita semua mengetahuinya. Tim apa pun yang dilatihnya selalu menjadi tim favorit kedua untukmu. Setiap kali kau tidak tahu mau mendukung tim mana, maka kau akan mendukung Ancelotti. Ia memiliki kekuatan seperti itu," ucap sosok yang membela Juventus selama 17 tahun ini.

"Ia sudah ada di ranah yang rumit ini selama 20 tahun lebih dan membuktikan bahwa ia memiliki sesuatu yang berbeda. Orang ini tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya. Nilai-nilai yang dianutnya sebagai pelatih mesti dianggap penting,” jelas Buffon.

*** Matchday keempat Liga Champions 2018/19 yang mempertemukan Napoli dengan Paris Saint-Germain akan dihelat di Stadion San Paolo pada Rabu (7/11/2018). Sepak mula akan berlangsung pada pukul 03:00 WIB.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22