Pencarian populer

Olivier Giroud Tak Ingin Terus Berada di Bangku Cadangan

Olivier Giroud rayakan golnya ke gawang PAOK. (Foto: Action Images via Reuters/Peter Cziborra)
Ketika pertama kali datang ke Chelsea, Olivier Giroud hadir dengan sejumput harapan. Namun, sekarang harapan itu perlahan sirna.
ADVERTISEMENT
Di masa-masa terakhirnya membela Arsenal, Giroud merasa ada yang berubah. Setelah kebersamaan lima setengah musim bersama 'Meriam London', ia paham bahwa Arsene Wenger, pelatihnya di Arsenal kala itu, ingin penyerang dengan tipe baru. Maka, pada pertengahan musim 2017/18, ia memutuskan pindah ke Chelsea.
Padahal, hubungan Giroud dan Arsenal tidak buruk-buruk amat. Total 105 gol dan 41 assist sukses ia bukukan dalam 253 laga. Tiga gelar Piala FA, ditambah tiga gelar Community Shield, menjadi torehan lain dari sosok asal Prancis itu untuk Arsenal. Namun, karena keinginan untuk mencari tempat yang lebih baik, Giroud memutuskan hengkang. Chelsea jadi tujuannya.
"Enam bulan pertama (di Chelsea) jadi masa yang baik untuk saya. Saya dapat menyesuaikan diri. Saya merasa baik, dan dapat memahami pemain lain juga dengan baik. Kami memenangi Piala FA dan saya bermain di beberapa pertandingan. Bahkan, saya dapat masuk skuat Prancis untuk Piala Dunia 2018," ungkap Giroud dalam wawancara eksklusifnya bersama ESPN FC.
ADVERTISEMENT
Morata merayakan gol ke gawang Crystal Palace. (Foto: Reuters/Matthew Childs)
Usai Juli 2018, Giroud kembali ke Stamford Bridge dengan status sebagai peraih gelar juara dunia. Namun, seiring musim 2018/19 berjalan, hadirlah Maurizio Sarri di Chelsea. Pelatih baru hadir membawa filosofi baru, dan Giroud pun harus menyesuaikan diri dengan filosofi Sarri. Ia juga harus bersaing dengan Alvaro Morata, rekan setimnya, mengisi satu slot di lini depan.
Di sinilah masa buruk Giroud dimulai. Ia memang bermain dalam 17 laga Premier League, namun ia cuma bermain penuh sebanyak satu kali. Malah, dalam delapan laga terakhir Premier League, ia hanya masuk susunan starting XI sebanyak sekali. Situasi ini dikeluhkan Giroud, karena mengganggu konsistensi permainannya.
"Saya tak punya kuasa untuk menentukan pemain inti, meski memang setiap pemain tentu ingin jadi pemain inti di setiap laga. Saya tidak senang terus berada di bangku cadangan," ujar Giroud.
ADVERTISEMENT
"Setiap saya main sebagai pemain inti, saya mencoba berkontribusi terhadap tim. Tapi sejauh ini, hanya beberapa kali saya menjadi pemain inti. Itu mengganggu konsistensi permainan saya. Seharusnya setiap pemain harus bermain sebagai pemain inti beberapa kali, agar konsistensi permainannya terjaga. Ini yang cukup menyulitkan saya," tambahnya.
Olivier Giroud merayakn golnya bersama rekan-rekan. (Foto: REUTERS/Eddie Keogh)
Selain bersaing dengan Morata, jika kelak Gonzalo Higuain benar-benar merapat ke Chelsea, maka ia harus berebut tempat juga dengan penyerang asal Argentina tersebut. Situasi mungkin akan jadi sulit, tapi Giroud merasa bahwa ia akan terus bertarung untuk memperebutkan posisi pemain inti Chelsea.
"Memang saya sempat frustrasi, tapi saya berusaha untuk mengubah hal tersebut jadi energi positif. Saya juga akan terus berjuang untuk mendapatkan posisi inti di tim ini," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Giroud akan jadi bagian dari skuat Chelsea yang melawat ke Stadion Emirates untuk menghadapi Arsenal, Minggu (20/1/2019) dini hari nanti. Selain akan jadi momen spesial baginya kembali ke Stadion Emirates, laga ini juga akan menjadi arena pembuktian baginya. Jika kelak dimainkan, maka ia memang harus menunjukkan kualitasnya pada Sarri sehingga layak buat diperhitungkan untuk mendapatkan tempat di tim inti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85