Pencarian populer

Para Berandalan di Kandang Suporter

Rekonstruksi kasus pengeroyokan Haringga di GBLA, Rabu (26/09/2018). (Foto: Iqbal Tawakal/kumparan)

Aditya Anggara (19) awalnya berniat melerai kerumunan suporter Persib Bandung yang tengah mengeroyok Haringga Sirla. Ia khawatir lelaki bertubuh gempal yang tersungkur bersimbah darah adalah korban salah sasaran seperti kejadian Ricko Andrean--Bobotoh korban salah pukul setahun lalu.

Niat Aditya melerai urung setelah tahu Haringga adalah seorang Jakmania --suporter Persija. Uluran tangannya berubah menjadi kepalan. “Dari belakang saya ada yang bilang itu The Jak sambil nunjukin stiker. Ya saya juga ikut mukulin akhirnya,” ungkap Aditya dalam adegan rekonstruksi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Rabu (26/9).

Dalam video kejadian, Aditya yang mengenakan jaket putih tampak beberapa kali menghujamkan pukulan dan tendangan ke arah Haringga. Tangannya meraih stiker Persija, dan membakarnya.

Aditya adalah satu dari delapan tersangka pengeroyokan Haringga. Selain dia, tujuh tersangka lain ialah Goni Abdulrahman (20), Dadang Supriatna (19), Budiman (41), Cepi (20), Joko Susilo (32), SM (17) dan DFA (16).

Mereka datang ke stadion GBLA untuk menonton laga Persib-Persija pada Minggu lalu (23/9) tanpa memiliki tiket dan meriung di ring 3 Stadion GBLA.

Video

Aditya dan kawanannya tak diakui sebagai anggota dalam organisasi Bobotoh, baik Viking atau Bomber. SM, misalnya. Tersangka 17 tahun asal Lembang itu ditampik sebagai anggota Viking oleh sang Ketua Viking Korwil Lembang, Kukuh.

Kukuh berulang kali ditelepon polisi soal keterlibatan anggotanya dalam pengeroyokan Haringga. Tapi ia bersikeras, nama-nama tersangka itu tak ada dalam lingkup koordinasinya.

“Biasanya orang-orang yang nggak mau bergabung itu nggak mau terdata atau diatur,” kata Kukuh kepada kumparan di Bandung, Jumat (28/9).

Menurut Kukuh, suporter liar biasanya datang dari pinggiran kota. Kondisi ekonomi mereka menengah ke bawah. Para tersangka penganiaya Haringga, misal, berasal dari pinggiran Kota Bandung seperti Babakan Ciparay, Lembang, dan Astana Anyar.

Mereka bermental rusuh. Alih-alih hadir untuk mendukung tim kesayangan, suporter semacam itu kerap jadi biang kisruh yang menyeret rivalitas dalam lapangan menjadi kekerasan di luar lapangan.

“Kami mengategorikan Bobotoh yang datang ke stadion ini. Ada yang terkoordinir dan tidak terkoordinir. Ada yang datang tanpa tiket. Ini akan jadi masalah buat kami kalau didiamkan terus,” ujar Ketua Bomber, Asep Abdul.

Suporter Persib Bandung. (Foto: Antara)

Bobotoh memiliki 14 juta suporter yang terbagi dalam beberapa kelompok seperti Viking, Bobotoh Maung Bersatu (Bomber), hingga yang lebih baru Ultras dan Casual.

Dirigen Viking sekaligus tetua Bobotoh Yana Umar, mengatakan jumlah Bobotoh yang begitu banyak membuat pengurus organisasi suporter menghadapi tantangan tak mudah dalam mengurus akar rumputnya.

Kubu seberang, Jakmania, mengalami persoalan serupa. Rangga Cipta Nugraha (22), Lazuardi (29), dan Dani Maulana (17) dikeroyok enam orang The Jak dalam pertandingan Persija vs Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 27 Mei 2012.

Sekretaris Pengurus Pusat The Jakmania, Diky Soemarno, mengakui betapa susah mengendalikan suporter di kandang sendiri. Fanatisme sepak bola membuat sebagian menjadi liar, dengan tindakan-tindakan mengarah ke kekerasan.

Menurut Diky, fanatisme sepak bola seperti politik. Bedanya, politik hanya mencaci maki di media sosial, sedangkan sepak bola bertemu di stadion hingga jalanan.

Tak jarang aksi nekat menerabas larangan menonton di kandang lawan tak dihiraukan. Maka nyawa jadi taruhan.

“Sulit sekali (dikendalikan). Karena kita bicara massa berjumlah puluhan bahkan ratusan ribu orang. Siapa yang bisa mengontrol?” ujar Diky.

Ia berupaya memberi pemahaman kepada kelompoknya, bahwa tindak kekerasan akan berakibat klub didenda. Padahal, biaya denda bisa dipakai untuk kebutuhan lain.

Meski begitu, ketiadaan sanksi dan solusi konkret menyebabkan korban terus berjatuhan dalam pertandingan Persija melawan Persib. Laga kedua raksasa sepak bola tanah air itu lantas dilangsungkan tanpa suporter tim tamu, bahkan pernah dipindah di luar kota, karena kerap memakan korban.

86 Nyawa Tumbal Sepak Bola (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Kematian suporter menjadi tragedi rutin dalam sepak bola Indonesia. Save Our Soccer mencatat, korban suporter tewas di Indonesia dari 1994 hingga sekarang mencapai 86 orang.

Penegakan hukum yang lemah dan ketidakprofesionalan penyelenggara liga kerap melahirkan tawuran antarsuporter dan aparat keamanan.

“Kenapa menjadi kebiasaan? Karena tidak ada penegakan aturan dan penegakan hukum yang adil,” kata Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, kepada kumparan, Kamis (27/9).

Suporter memasuki lapangan Stadion GBK, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Bahasa kekerasan, menurut Kukuh, menjadi salah satu pemicu rusuh. Kata-kata “bunuh”, umpatan, dan lagu dengan lirik menjelekkan tim lawan, memompa semangat kekerasan.

Ditambah, ujar Kukuh, aksi menenggak minuman keras di stadion. Alkohol terang gampang menyulut amarah. Alhasil, pekelahian biasa terjadi.

Lebih lanjut, tawuran suporter di Jakarta hanyalah secuil dari seabrek masalah kriminalitas.

“Enggak usah omong sepak bola, deh. Antarkampung masih tawuran kok di Jakarta. Antarsekolah juga tawuran,” kata Diky, Sekretaris The Jak.

Solusi tentu diupayakan. Niat baik untuk mendamaikan kedua kubu sudah dimulai di level elite. Chant atau nyanyian bernada ejekan, kaos dan baliho provokatif, kerap didisiplinkan oleh tokoh Bobotoh maupun Jakmania.

Nyatanya, kaos berisi kata-kata provokatif yang saling mengadu kedua kubu, tetap laris.

“Itu pasar yang menggiurkan. Tapi saya berpikir, apakah mau seperti itu terus? Saya khawatir anak saya terus membenci (The Jak), mendadak berangkat away sendiri, lalu ada apa-apa,” ujar salah seorang Bobotoh yang enggan disebutkan namanya.

Yana Umar di Stadion Sidolig, Kota Bandung. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Dirigen Viking, Yana, mengingat dahulu di medio 1990-an, tak ada tumpukan kebencian seperti saat ini. Apalagi sampai menyeret pertarungan antara orang Bandung dan Jakarta.

Dorongan Bobotoh untuk melihat pertandingan melawan Persija kala itu justru karena kekuatan Macan Kemayoran sedang bagus-bagusnya.

“Pertandingan melawan Persija dulu menjadi prestise bagi Bobotoh bukan karena ada The Jak, tapi karena timnya susah dikalahkannya. Penasaran Bobotoh, teh,” ucap Yana.

Kini, rasa penasaran berubah jadi kebencian bagi sebagian orang. Maka saatnya memutus mata rantai kebencian dan kekerasan di dunia sepak bola tanah air.

Sepak bola itu hiburan, bukan kuburan. Arena adu prestasi, bukan kekerasan. Satu nyawa itu mahal.

- Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer

------------------------

Ikuti laporan mendalam Sepak Bola Tumbal di Liputan Khusus kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57