Pencarian populer

Paul Scholes: Dulu Cuma Suporter, Kini Pelatih Oldham Athletic

Paul Scholes menjalani perkenalan sebagai pelatih Oldham Athletic. Foto: Carl Recine/Reuters

Setelah enam tahun menjalani masa pensiun sebagai pesepak bola, Paul Scholes akhirnya memberanikan diri untuk menjajal karier kepelatihan. Pilihan jatuh Scholes kepada Oldham Athletic yang merupakan klub idolanya semasa kecil.

Senin (11/2/2019) waktu setempat, Oldham memperkenalkan Paul Scholes sebagai pelatih anyar mereka. Sosok 44 tahun ini terpilih untuk menggantikan Pete Wild yang hanya berkuasa dalam kurun 45 hari.

Oldham memang tengah terpuruk. Klub yang berdomisili di Manchester ini terbenam di posisi ke-14 klasemen sementara League Two --level keempat Liga Inggris. Tiga laga terakhir mereka di liga juga berakhir tanpa kemenangan.

Oleh karenanya, manajemen melihat bahwa Oldham membutuhkan pemimpin baru. Scholes pun direkrut menimbang kesuksesannya semasa bermain. Ya, sebanyak 11 gelar juara Premier League dan dua trofi Liga Champions menghiasi perjalanannya bersama 'Iblis Merah'.

"Scholes telah memenangi segalanya dalam sepak bola. Dia akan memberikan begitu banyak wawasan tentang sepak bola dan semua orang akan melihat kesukesan dirinya dalam dunia kepelatihan," tutur pemilik Oldham, Abdallah Lemsagam, sebagaimana dilansir oleh situs resmi klub.

Paul Scholes menjalani perkenalan sebagai pelatih Oldham Athletic. Foto: Carl Recine/Reuters

Keputusan menggaet Scholes juga dilatarbelakangi masa lalunya. Semasa kecil, dia merupakan penggemar Oldham. Bahkan, dia kerap menyaksikan pertandingan kandang Oldham bersama sang ayah, Stewart Scholes.

Kecintaan Scholes terhadap Oldham turut diceritakan oleh Mike Coffey selaku pemandu bakat yang membawanya ke United. Disebut bahwa Scholes begitu menggilai Frankie Bunn yang sempat mengisi lini depan Oldham dan melatih klub tersebut dari Juni sampai Desember 2018.

"Sudah bukan rahasia bagaimana Scholes begitu menginginkan pekerjaan ini dan mencintai Oldham. Jadi, saya merasa senang bisa membawa dia ke dalam keluarga Oldham," ucap Lemsagam.

Meski menyadari fakta Scholes sebagai suporter Oldham, manajemen klub tak lantas mendapatkan kemudahan untuk mewujudkan perekrutan. Mereka bahkan berkali-kali menerima penolakan dari Scholes.

Alasannya bukan karena Scholes tak mau memulai karier kepelatihan dari level bawah. Scholes hanya enggan gegabah dalam menerima pinangan. Lebih baik menunggu sampai benar-benar siap daripada citranya sebagai pemain hebat malah tercoreng akibat kegagalan dalam melatih.

Sambil menunggu momen yang pas, Scholes sempat menjajal profesi lain setelah gantung sepatu. Dia menjadi komentator di ITV dan BT Sport dalam beberapa tahun ke belakang.

"Memang ada pembicaraan untuk bergabung Oldham saat saya baru mengakhiri karier sebagai pesepak bola. Namun, saya belum siap. Kemudian, tiga atau empat kesempatan kembali datang dan saya juga belum siap," ucap Scholes.

"Saya berharap kali ini adalah waktu yang tepat. Semoga kami bisa mencapai kesuksesan," katanya.

Kesiapan Paul Scholes bakal diuji pada Rabu (13/2) dini hari WIB. Untungnya tes pertama tidak terlalu berat karena sang lawan adalah Yeovil Town yang terbenam di posisi ke-12 atau hanya dua setrip di atas zona degradasi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: