Pencarian populer

Piala Dunia 1938: Menang atau Mati, Bung!

Italia juara Piala Dunia 1938. (Foto: STAFF / AFP)

Untuk Benito Mussolini, kemenangan adalah persoalan negara. Bagi Timnas Italia, kemenangan adalah perkara hidup dan mati.

1938, dunia sudah sibuk sejak satu tahun sebelumnya. Eduardo Galeano, orang Uruguay yang mangkat tahun 2015 itu, menulisnya dengan piawai di bawah terik dan di balik bayang-bayang.

Walt Disney menghidupkan dongeng bertajuk Snow White. Vaksin demam kuning lahir dari pemikiran Max Theiler. Dua penyair Argentina, Alfonsina Storni dan Leopoldo Lugones gelap mata dan menghabisi hidupnya sendiri. Di tanah Meksiko, Lazaro Cardenas menasionalisasikan minyak yang pada akhirnya menantang blokade dan permusuhan Barat.

Italia menulis Manifesto on the Race dan gencar menyerang kaum Yahudi. Jerman dengan segela keperkasaannya yang bengis merebut Austria. Pemerintah Inggris cepat tanggap sehingga mengajari warganya untuk menimbun makanan dan menyelamatkan diri dari serangan gas beracun. Semua orang dibikin panik oleh Adolf Hitler yang gigih mencampakkan teritori.

Prancis tetap jelita. Ia memperkenalkan Nausea yang ditulis oleh seorang eksistensialis penggila sepak bola bernama Jean Paul Sartre. Guernica yang berarti kegeraman Pablo Picasso kepada Jenderal Francisco Franco, sang diktator Spanyol, dipamerkan dan berbicara dengan lugas di kota seni.

Di Stadion Colombes, Presiden Prancis, Albert Lebrun, melakukan sepak mula yang gagal total. Pesta sepak bola sejagat ketiga dimulai. Ini Piala Dunia.

Namun, serupa dua Piala Dunia sebelumnya, Eropa yang berkuasa di pesta ini. Amerika Selatan hanya mengirim dua wakil, Brasil dan Kuba. Austria mundur, sehingga ada 12 negara dari Benua Eropa. Sisa belahan dunia diwakili oleh tim bertajuk Hindia Belanda.

Italia bergabung dengan Sekutu dan memenangi Perang Dunia I. Kemenangan memang direbut, tapi kedamaian harus terlepas. Italia kacau. Rezim fasis yang dibangun oleh Mussolini terancam oleh pemberontakan komunisme.

Namun, Il Duce kepalang pintar. Semua harus ikut mengibadati fasisme yang ia yakini dengan khusyuk. Namun, khusyuk tak berarti telanjang. Itulah sebabnya, ia mengambil selubung. Dan selubung itu bernama sepak bola.

Sepak bola Italia sedang berjaya. Tahun 1934 mereka jadi kampiun setelah mengalahkan Republik Ceko dengan skor 2-1. Vittorio Pozzo ngeri bukan kepalang. Antonin Puc memberikan keunggulan pertama untuk Ceko di menit 71. Waktu pertandingan tinggal 19 menit, tapi Italia tak kunjung mencetak gol.

Akhirnya satu angka yang berarti kedudukan imbang itu muncul di menit 81. Italia patut berterima kasih kepada Raimundo Orsi. Syukur beribu syukur dari Azzurri, gol kedua yang berarti kemenangan menampakkan batang hidungnya di menit 95. Kali ini, Angelo Schiavio yang menjadi tokoh.

Italia menang. Barisan pesepak bola itu selamat dari segala kemungkinan terburuk.

Beban Pozzo tak berakhir. Mussolini tak berharap, tapi memberi mandat. Yang namanya mandat diktator, tak boleh gagal karena berakibat sial yang kepalang dahsyat.

Bila ditarik mundur, Piagam Viereggio tahun 1926 membidani kelahiran fasisme di ranah sepak bola Italia. Ia tak cuma mengambil tempat, tapi merasuk dan menjadi satu dengan calcio.

Leandro Arpinati, sahabat Mussolini di masa muda, punya jabatan penting di panggung olahraga Italia. Ia dilimpahi jabatan sebagai Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) dan Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).

Trofi Piala Dunia (Foto: Wikimedia Commons)

Reformasi sepak bola Italia, penghapusan FC Torino akibat skandal korupsi, dan lahirnya kompetisi Serie A adalah buah dari pekerjaan Arpinati. Aneka raihan mentereng ini tentunya jadi kebanggaan, jauh sebelum tuduhan sebagai dalang pembunuhan Mussolini itu dialamatkan kepadanya.

Khusus Serie A, Arpinati punya dua tujuan. Pertama, untuk menempa kebanggaan dan identitas nasional. Kedua, untuk menciptakan struktur persepakbolaan yang lebih kuat dan kompetitif sehingga sanggup melahirkan Timnas yang sanggup mengalahkan negara mana pun.

Timnas Italia yang berlaga di Piala Dunia 1930 dan 1934 adalah anak kandung revolusi sepak bola Italia ala Arpinati. Menjadi tuan rumah dan juara sekaligus di Piala Dunia 1934, Arpinati punya modal selangit untuk terus memelihara fasisme di balik selubung olahraga.

Sehebat-hebatnya Italia, Inggris tetap menjadi persoalan utama. Di tahun 1934, Italia menutup Battle of Highburry dengan skor 3-2 untuk keunggulan Inggris. Omongan tak sedap muncul. Italia jadi juara Piala Dunia 1938 karena kecurangan wasit dan Inggris memang tak bermain.

Piala Dunia 1938 jadi arena bagi Italia untuk menjungkirbalikkan omongan yang mencoreng nama baik. Inggris memang kembali tak berlaga, tapi setidaknya, turnamen ini digelar di negeri orang. Italia punya satu kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim jago kandang.

Tak ada kecantikan yang kalis, itu pula yang ada dalam tubuh Prancis. Di tahun 1938 itu, ia sedang berduka. Dua bersaudara kebangsaan Italia yang jadi tokoh sentral perlawanan fasisme, Carlo Roselli dan Nello Roselli, mati dalam pelariannya di Prancis.

Nyawa mereka habis direnggut antek fasis Italia. Tak kurang dari 200.000 orang menghadiri pemakamannya yang dihelat di tanah Paris.

Dalam duka yang menjadi satu dengan geram dan kalut, skuat Pozzo memasuki lapangan di Marseille untuk melakoni pertandingan pertamanya di Piala Dunia 1938. Demonstrasi besar-besaran antifasis yang diikuti oleh sekitar 3.000 orang menyambut kedatangan Azzurri yang terjebak dalam ambisi politik Mussolini.

Di Italia, media mengabarkan kebalikannya. Katanya, penggawa-penggawa Timnas itu diterima dengan santun dan hangat. Satu di antara barisan pesepak bola itu, Ugo Locatelli, akhirnya angkat suara. Ceritanya menegaskan, apa yang dikabarkan media Italia adalah omong kosong.

Norwegia menjadi lawan pertama tim besutan Pozzo di gelaran empat tahunan itu. Kemenangan mereka dikabarkan dalam tajuk ‘Vittoria ma non basta’ - ‘Kemenangan, tapi Tidak Cukup’. Masalahnya, bertanding melawan Norwegia, Azzurri hanya menang tipis 2-1.

Laga Italia vs Hungaria (Foto: AFP)

Laga pertama itu berjalan menyedihkan untuk penggawa Italia. Sekitar 10.000 orang yang hadir di stadion kebanyakan berstatus sebagai buangan politis Italia. Mereka orang-orang Italia, tapi mendukung pesepak bola Skandinavia.

Pozzo angkat bicara. Katanya, anak-anak didiknya mendapat perlakuan tak adil. Ia tahu ada latar belakang politis di balik dukungan tadi. Namun, mereka juga tak bermaksud turun arena sambil menenteng-nenteng kepentingan politis mana pun.

Seusai kemenangan di pertandingan pertama, Italia melangkah ke perempat final. Apa boleh buat, jumlah peserta yang tak seberapa membikin kompetisi bergulir cepat.

Di babak ini, Prancis tampil sebagai lawan. Artinya, ini tak sekadar pertandingan antara dua Timnas di Eropa. Stadion Colombes menjadi panggung teater permusuhan yang mempertemukan dua gladiator yang mengusung dua paham.

Biasanya, kedua tim bertanding dengan kostum biru. Namun, kali ini salah satu harus membawa warna berbeda. Italia bertanding dalam kostum hitam. Legam, pekat, semuram beban yang bersemayam dalam sepakan dan taktik para pesepak bola.

Di dada kiri jersi Timnas Italia tersemat lambang Fascio Littorio. Gambar seikat tongkat dan kapak ini sudah ada sejak zaman Romawi kuno yang berarti hukum dan perintah. Bagi rezim fasis, lambang ini berarti hukum dan perintah untuk menegakkan paham mereka.

Di bawah tekanan, Italia mengakhiri laga melawan Prancis dengan kemenangan 3-1. Gino Colaussi yang bernama asli Luigi Colausig mencetak keunggulan pertama Italia di menit kesembilan.

Namun, keunggulan cepat dijawab dengan gol penyama kedudukan yang tak kalah cepat. Selang satu menit, Prancis mengejar berkat keberhasilan Oscar Heisserer membobol gawang Italia yang dikawal oleh Aldo Olivieri.

Italia tak menyerah. Pasalnya, kemenangan terlanjur jadi harga mati. Silvio Piola tak hanya sekali menjadi penyelamat Italia di babak kedua. Ia berhasil mencetak dua gol pada menit 51 dan 72.

Pasukan Pozzo bersorak. Il Popolo d’Italia yang terkenal sebagai harian fasis Italia memberitakan kemenangan dengan gempita: Inilah Italia -tim berkostum biru dengan perisai Savoy dan Fascio Littorio di dada- yang memenangi pertandingan di Paris.

Brasil yang jadi surga kaki-kaki terampil, tapi sedang dibayang-bayangi Argentina dan Uruguay, siap menjegal langkah Italia di semifinal. Namun, kemenangan lagi-lagi direbut oleh Italia. Skor 2-1 menjadi penanda bahwa mereka siap bertarung di laga puncak.

Orang-orang Italia lantas mengetahui kemenangan ini dalam berita dengan judul: Hormat kami untuk kemenangan intelenjensia Italia atas otot kasar kaum Negro.

Jelang laga final Piala Dunia 1938. (Foto: STAFF / AFP)

Cerita tentang laga final melawan Hongaria tak sekadar menyoal kesiapan tim dan duel strategi para pelatih. Malam sebelum pertandingan, Pozzo dikisahkan menerima telegram ancaman Mussolini: Menang atau Mati.

Pietro Rava, satu-satunya bagian dari skuat Timnas Italia di Piala Dunia 1938 yang masih hidup sampai tahun 2006 menampik cerita ini. Katanya, cerita telegram itu omong kosong. Benar, tim menerima telegram dari Mussolini. Namun, isinya tak seperti itu. Malah, kata Rava, telegram itu berupa dukungan negara kepada Timnas yang berhasil mencapai final.

Dalam 20 menit pertama, Italia mencetak dua gol, masing-masing oleh Colaussi dan Piola. Kata Rava, dalam 20 menit pertama itu, mereka lupa dengan persoalan dan beban politik. Italia mengakhir pertandingan dengan kemenangan 4-2. Timnas Italia merebut gelar ketiganya yang prestius, setelah juara di Piala Dunia 1934 dan Olimpiade 1936.

Sehari setelah final itu, Timnas Italia menjadi tokoh utama di upacara penutupan. Tak ada kostum Timnas, yang ada seragam militer. Harian La Gazzeta dello Sport memberitakan kemenangan ini dengan kalimat: Manifestasi paling sempurna tentang olahraga kaum fasis telah disimbolkan oleh kejayaan ras ini.

Italia boleh juara, tapi pemain terbaik tak berasal dari skuat mereka. Dua pemain Brasil, Leonidas dan Domingos da Guia, yang terpilih sebagai pesepak bola terbaik. Di gelaran ini, Leonidas juga disematkan gelar pencetak gol terbanyak lewat raihan delapan golnya.

Tentang gol Leonidas, keajaiban terjadi saat Brasil berlaga melawan Polandia. Waktu itu hujan deras. Sepatu Leonidas tertancap di kotak penalti yang dipenuhi lumpur. Ia mencetak gol dengan kaki telanjang.

Italia punya asa merebut gelar juara di Piala Dunia tiga kali berturut-turut pada tahun 1942. Namun, Perang Dunia II pecah. Untuk sementara, Piala Dunia jadi kenangan manis bagi mereka yang bertempur di medan perang. Gelar juara Italia bertahan hingga 12 tahun.

1950 menjadi kali pertama gelaran Piala Dunia setelah perang berkecamuk. Namun, tak ada cerita tentang keperkasaan Italia di Negeri Samba. Kemegahan fasisme tinggal puing-puing dan 44 tahun jadi harga yang pantas.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: