kumparan
24 Mei 2018 19:42 WIB

Piala Dunia 1966: Inggris, Gol Hantu, dan Orang Pinggir Lapangan

Bobby Moore menerima trofi Jules Rimet. (Foto: STAFF / AFP)
Jika ada satu kekuatan yang bisa digunakan untuk mengokohkan kemenangan Inggris di Piala Dunia 1966, maka ia mengambil rupa keputusan dari pinggir lapangan.
ADVERTISEMENT
Digelar di rumahnya sendiri, orang-orang Inggris menyambut Piala Dunia 1966 dengan seruan football is coming home. Inggris tak hanya muncul sebagai negara yang sibuk menjadi tuan rumah, menyambut dan mengayomi siapa pun yang datang ke tempatnya untuk berpesta dan merayakan sepak bola.
Kali ini, Inggris sampai ke final. Dan yang menjadi lawan adalah negara yang memutuskan untuk menjadikan setiap pertandingan sebagai medan perang, Jerman Barat.
Singkat cerita, kedudukan sama kuat 2-2 ketika pertandingan berlangsung di babak kedua. Sebelum turun minum, gol pertama Inggris dicetak oleh Hurst di menit 18. Itu menjadi balasan bagi gol pertama Jerman yang dibukukan oleh Helmut Haller di menit 12.
Di menit-menit akhir pertandingan waktu normal, dua gol bersarang lagi, masing-masing satu ke gawang setiap tim. Gol Inggris dicetak oleh pemain yang sejak awal pertandingan sudah dihadiahi kartu kuning, Martin Peters, di menit 78. Sementara, gol kedua Jerman disumbang oleh Wolfgang Weber di menit 89.
ADVERTISEMENT
Pertandingan berjalan sengit, atmoster berubah genting. Siapa pula yang tak ingin menjadi juara? Ini turnamen paling masyhur. Siapa pun yang menjadi juara berhak menenteng-nenteng predikat juara dunia selama empat tahun.
Kalau Jerman menang, ini menjadi kali kedua mereka diakui sebagai negara penguasa jagat sepak bola. Kalau Inggris keluar jadi juara, maka lengkaplah kebahagiaan sang tuan rumah.
Karena waktu normal ditutup dengan skor imbang, maka selayaknya laga final, ia harus berlanjut ke babak pertambahan. Perjuangan tambahan, pertempuran ekstra.
Menyadur kaki dashi Karl Marx, ada hantu yang bergentayangan di tanah Wembley sejak menit ke-100. Di menit itu, Inggris mulai membangun serangan.
Hurst menembak bola menggunakan kaki kanan dari dalam kotak penalti. Sepakannya melewati tangkapan kiper Jerman, Hans Tilkowski. Bola lantas membentur mistar, memantul ke tanah, lalu ke luar gawang.
ADVERTISEMENT
Pemain Inggris dan para suporternya sontak bersorak, merayakan gol yang belum disahkan itu. Wasit asal Swiss yang memimpin pertandingan, Gottfried Dienst, meragukan perhitungannya sendiri. Ia berlari ke arah asistennya, Tofiq Bahramov. Seketika, Inggris karib dengan kisah hantu yang mengambil rupa gol Hurst di menit 101.
Sebagian pihak berpendapat, seharusnya gol itu tak sah. Pemain Jerman protes, tapi wasit berpegang keputusannya dengan kokoh. Apa boleh bikin, skor 3-2 untuk keunggulan Inggris.
Celakanya, hantu tadi merasuk dalam alam pikir Tim Jerman. Setelahnya, mereka tampak ogah-ogahan melakoni sisa pertandingan. Sikap ini dibayar mahal. Di menit 120, Hurst kembali mencetak gol, mengantarkan tanah airnya mengangkat trofi Piala Dunia.
Dalam bukunya yang berjudul '1001 Matches', Bahramov menjelaskan mengapa ia sampai mengesahkan gol yang konon, masih tidak diakui oleh publik Jerman hingga sekarang. Menurut Bahramov, Inggris sudah membangun serangan sejak dimulainya babak tambahan. Mereka berkali-kali melesakkan tendangan ke arah gawang yang dikawal oleh Tilkowski.
ADVERTISEMENT
Selebrasi gol keempat Inggris. (Foto: STRINGER / AFP)
Setidaknya, menurut Bahramov, ada lima peluang yang cukup membahayakan kubu Jerman. Dua upaya pertama adalah yang tersulit. Yang ketiga, hanya membentur mistar gawang. Sementara yang keempat, menyentul kaki pemain lain sebelum memantul. Dan yang kelima, hanya melewati tiang gawang.
Gol yang diakhiri dengan caci-maki orang-orang Inggris dan dimeriahkan oleh elu-elu pendukung Inggris ini bermula pada peluang keenam Inggris. Kata Bahramov, waktu itu ia melihat Hurst menerima umpan dari Alan Ball yang sudah menyisir area kanan lawan. Sesaat setelah berhasil mengendalikan bola, ia langsung melepaskan tembakan ke arah gawang sambil melewati kawalan dua pemain Jerman.
Nah, asisten wasit yang satu ini memperhatikan arah tembakan yang membentuk lintasan parabola tersebut. Katanya, kiper Jerman sudah kebingungan menebak arah bola tadi. Yang meyakinkan Bahramov, sepersekian detik setelah bola tadi memantul ke tanah tepat di bawah mistar, jaring gawang sudah membentuk sedikit tonjolan. Bentuk yang lazim muncul saat bola mengenai jaring.
ADVERTISEMENT
Di buku tersebut dijelaskan, si penendang, Hurst, sebenarnya juga tak yakin apakah sepakannya itu benar-benar gol atau tidak. Namun demikian, Bahramov yakin seyakin-yakinnya. Itulah sebabnya, saat Diesnt meminta pendapatnya, ia langsung memberikan tanda bahwa gol itu memang sah.
Waktu itu Dienst memang terlihat kebingungan mengambil keputusan. Apalagi, beberapa pemain sudah merayakan gol, sementara pasukan Jerman, termasuk Tilkowski, mengangkat tangan dan mengajukan protes.
"Seisi stadion mendadak hening sewaktu Dienst bertanya kepada saya tentang sah atau tidaknya gol tersebut. Saya menjawab 'ya' sambil mengangguk mantap. Dan tiba-tiba, stadion menjadi begitu riuh. Keriuhan stadion semacam ini tidak pernah saya bayangkan dan lihat sebelumnya."
Kontroversi itu tak menghancurkan karier Bahramov sebagai wasit. Malahan, ia tetap hidup karena namanya diabadikan sebagai nama stadion di Kota Baku, Azerbaijan, yang merupakan kota tempat ia menutup hayat.
ADVERTISEMENT
Pemerintah setempat memutuskan untuk menggunakan nama Bahramov sebagai bentuk penghormatan. Pemberian nama itu diberikan pada 1993, tahun kematian Bahramov.
Awalnya, stadion itu didirikan dengan nama Joseph Stalin Stadium. Berbarengan dengan puncak kekuasaan Partai Komunis Soviet pada 1956, ia berganti nama menjadi Vladimir Lenin Stadium.
Pada akhirnya keputusan Bahramov memang melahirkan kontroversi yang tak ada habisnya. Gol Hurst waktu itu dinilai sebagai gol hantu, gol jadi-jadian. Kontroversinya selalu dibawa-bawa setiap kali Inggris bertemu dengan Jerman, termasuk saat Piala Dunia 2010.
Apa yang terjadi di babak 16 besar membikin orang-orang percaya bahwa Inggris kena getahnya, Inggris menuai karma. Kala itu, gol hantu Frank Lampard tidak diakui. Bola sempat mengenai tiang gawang dan memantuh ke lapangan sebelum ditangkap oleh Manuel Neuer yang menjaga gawang Jerman saat itu.
ADVERTISEMENT
Kalau menilik tayangan ulang, bola sudah melewati garis gawang. Artinya, secara regulasi, gol itu seharusnya disahkan. Namun, wasit berkata lain. Ia menganulir gol Lampard. Inggris gagal melangkah ke putaran perempat final akibat kekalahan 1-4.
Terlepas dari karma atau memang sudah seharusnya seperti itu, keputusan Bahramov itu membuktikan bahwa terkadang, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang ada di tengah lapangan, tapi satu atau dua orang yang berdiri di pinggir lapangan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan